BALI - Gubernur Bali, Wayan Koster, kembali memperkenalkan potensi lokal Pulau Dewata di tingkat nasional. Kali ini, Koster mempromosikan garam tradisional Bali saat berbicara di hadapan akademisi perikanan dan kelautan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dalam forum nasional yang digelar di Bali, Selasa (19/5).
Dalam kesempatan tersebut, Koster menegaskan bahwa garam tradisional Bali bukan sekadar produk konsumsi biasa, melainkan bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai ekonomi dan historis tinggi. Menurutnya, proses pembuatan garam tradisional di sejumlah wilayah pesisir Bali masih mempertahankan cara turun-temurun yang ramah lingkungan dan menjadi identitas masyarakat lokal.
Baca juga: Tak Banyak yang Tahu, Garam Punya Peran Penting dalam Pengolahan Air
Koster menyebut garam Bali memiliki kualitas yang mampu bersaing karena diproduksi secara alami dengan memanfaatkan sinar matahari dan air laut tanpa campuran bahan kimia. Ia juga menilai produk lokal seperti garam tradisional perlu mendapat perhatian lebih agar tidak kalah dengan produk industri modern maupun produk impor.
Di depan para akademisi yang tergabung dalam Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Perikanan dan Kelautan Indonesia, Koster turut mengajak dunia pendidikan untuk ikut mendukung pengembangan sektor kelautan dan perikanan berbasis kearifan lokal. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah daerah, kampus, dan masyarakat sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan para petani garam tradisional di Bali.
Selain menjadi komoditas ekonomi, garam tradisional Bali juga dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung sektor pariwisata. Produk tersebut dapat dikembangkan menjadi bagian dari wisata edukasi hingga produk premium khas Bali yang menyasar pasar nasional maupun internasional.
Baca juga: Fakta Garam Ruqyah dan Garam Biasa, Apa yang Membedakan?
Pemerintah Provinsi Bali sendiri selama beberapa tahun terakhir terus mendorong penggunaan dan promosi produk lokal sebagai bagian dari visi pembangunan berbasis budaya dan kemandirian ekonomi daerah. Garam Bali menjadi salah satu produk yang mendapat perhatian karena dianggap mampu mengangkat potensi masyarakat pesisir sekaligus menjaga tradisi lokal tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Langkah promosi yang dilakukan Gubernur Koster mendapat respons positif dari peserta forum. Banyak akademisi menilai Bali memiliki contoh nyata bagaimana kekayaan laut dapat dikembangkan tanpa meninggalkan nilai budaya dan keberlanjutan lingkungan.
Upaya tersebut juga sejalan dengan berbagai program Pemprov Bali yang menekankan pentingnya penggunaan produk lokal dan penguatan ekonomi berbasis sumber daya daerah. Dengan dukungan akademisi dan berbagai pihak, garam tradisional Bali diharapkan semakin dikenal luas dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat pesisir di Pulau Dewata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemprov Bali