Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 14 JULI 2026 • 10:30 WIB

Tanjung Benoa Kembali Raih Pengakuan Tsunami Ready UNESCO hingga 2030, Jadi Percontohan Nasional

Tanjung Benoa Kembali Raih Pengakuan Tsunami Ready UNESCO hingga 2030, Jadi Percontohan NasionalPengakuan Tsunami Ready Diperbarui, Tanjung Benoa Badung Jadi Percontohan Kesiapsiagaan Bencana Di Indonesia (adm badung)

BALI - Kelurahan Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, kembali menorehkan prestasi di bidang pengurangan risiko bencana. Kawasan pesisir yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Bali itu berhasil mempertahankan pengakuan Tsunami Ready Recognition Programme (TRRP) dari UNESCO-Intergovernmental Oceanographic Commission (UNESCO-IOC) yang kini berlaku hingga tahun 2030.

Pembaruan pengakuan tersebut diserahkan oleh National Tsunami Ready Board (NTRB) kepada Pemerintah Kelurahan Tanjung Benoa dalam rangkaian kegiatan Training of Facilitators on the Implementation of the UNESCO-IOC Tsunami Ready Recognition Programme (TR-TOF) yang berlangsung di Hotel Grand Mirage, Tanjung Benoa, Senin (13/7/2026).

Keberhasilan ini menjadi penegasan bahwa Tanjung Benoa mampu menjaga standar kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman tsunami. Selain itu, wilayah ini tetap dipercaya sebagai salah satu contoh penerapan program Tsunami Ready di Indonesia.

Baca juga: Pemerintah Sepakati Upaya Percepatan Pemulihan Akses Jalan dan Jembatan Terdampak Bencana di Bener Meriah

Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Tanjung Benoa, Dr. I Wayan Deddy Sumantra, menyampaikan rasa syukurnya atas pengakuan yang kembali diberikan UNESCO-IOC. Menurutnya, capaian tersebut bukanlah akhir dari upaya mitigasi, melainkan menjadi tanggung jawab untuk terus meningkatkan kualitas kesiapsiagaan masyarakat.

Ia menjelaskan, FPRB Tanjung Benoa secara konsisten menggelar berbagai kegiatan edukasi, pelatihan, hingga simulasi kebencanaan yang melibatkan berbagai kalangan. Program tersebut dilaksanakan secara berkelanjutan, baik dalam lingkup lokal maupun melalui kerja sama dengan lembaga nasional dan internasional.

Deddy menambahkan, pengalaman membangun budaya sadar bencana telah mendorong lahirnya konsep destinasi eduwisata mitigasi bencana di Tanjung Benoa. Gagasan tersebut mulai diperkenalkan sebagai bagian dari pengembangan kawasan wisata yang tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki sistem kesiapsiagaan yang kuat terhadap potensi bencana.

Baca juga: 7 Akibat Utama Erosi Tanah: Hilangnya Kesuburan hingga Risiko Bencana

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, mengatakan pelatihan TR-TOF merupakan program yang diinisiasi UNESCO-IOC dengan dukungan United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP). Kegiatan tersebut bertujuan menyiapkan para fasilitator yang nantinya akan mendampingi pengembangan komunitas Tsunami Ready di berbagai daerah.

Menurut Faisal, saat ini Indonesia telah memiliki 29 komunitas yang memperoleh pengakuan Tsunami Ready, dan Tanjung Benoa menjadi salah satu contoh terbaik dalam implementasinya. Ia menilai keberhasilan tersebut lahir dari sinergi antara pemerintah daerah, BMKG, dunia pendidikan, pelaku pariwisata, hingga masyarakat yang aktif membangun budaya siaga bencana.

Baca juga: Kepala BPOM Ajak Gen Z Cintai Jamu, Warisan Budaya Indonesia yang Sudah Diakui UNESCO

Faisal berharap keberhasilan Tanjung Benoa dapat menjadi inspirasi bagi daerah pesisir lainnya di Indonesia. Dengan kolaborasi yang kuat dan partisipasi masyarakat, upaya mitigasi bencana diyakini mampu menciptakan kawasan yang lebih aman, tangguh, serta mendukung sektor pariwisata yang berkelanjutan di masa mendatang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemkab Badung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Tanjung Benoa Kembali Raih Pengakuan Tsunami Ready UNESCO hingga 2030, Jadi Percontohan Nasional

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!