BALI - Pulau Bali selama ini identik dengan budaya Hindu, pura megah, serta tradisi adat yang masih terjaga kuat hingga sekarang. Namun di balik wajah pariwisata Bali yang mendunia, terdapat sebuah kawasan bersejarah yang menyimpan kisah panjang tentang keberagaman budaya dan toleransi antarumat beragama. Kawasan itu dikenal dengan nama Kampung Jawa.
Di tengah hiruk-pikuk Kota Denpasar, Kampung Jawa menjadi salah satu kawasan yang memiliki identitas unik. Tidak hanya dikenal sebagai pusat komunitas Muslim terbesar di Bali, wilayah ini juga menjadi simbol akulturasi budaya yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.
Baca juga: Fakta di Balik Desa Punggualas Kalimantan: Kampung Tanpa Sinyal di Tengah Hutan:
Kampung Jawa berada di wilayah Dusun Wanasari, Desa Dauh Puri Kaja, Kecamatan Denpasar Utara. Kawasan ini ramai dikunjungi masyarakat, terutama saat bulan Ramadan karena terkenal dengan pasar takjil dan kuliner halal khas Bali. Namun di balik keramaian tersebut, tersimpan cerita sejarah yang menarik untuk ditelusuri.
Sejarah Singkat
Nama Kampung Jawa sudah ada sejak zaman dahulu. Kawasan ini disebut Kampung Jawa karena dulu banyak pendatang Muslim dari Pulau Jawa yang tinggal di sana.
Menurut beberapa catatan sejarah, keberadaan kampung ini mulai berkembang setelah Perang Puputan Badung tahun 1906. Saat itu, sejumlah prajurit dan pendatang Muslim dari Jawa ikut datang ke Bali. Setelah perang selesai, sebagian dari mereka memilih menetap di Denpasar.
Karena mayoritas penduduk awal berasal dari Jawa, masyarakat sekitar kemudian menyebut wilayah itu sebagai Kampung Jawa.
Baca juga: Kisah Mistis Kampung Dukun: Warisan Kelam di Balik Pohon Randu
Namun seiring waktu, penduduk kampung ini tidak hanya berasal dari Jawa. Banyak warga dari Madura, Lombok, Bugis, hingga Sumatera ikut tinggal dan membangun kehidupan di kawasan tersebut.
Menariknya, istilah “orang Jawa” pada masa lalu sering digunakan masyarakat Bali untuk menyebut pendatang Muslim dari luar Bali, bukan hanya orang yang benar-benar berasal dari Jawa.
Menjadi Simbol Toleransi
Kampung Jawa juga dikenal sebagai simbol toleransi di Bali. Sejak dulu, hubungan masyarakat Muslim dan Hindu di kawasan ini berjalan harmonis.
Warga saling membantu saat ada kegiatan keagamaan maupun acara adat. Ketika Hari Raya Nyepi, masyarakat Muslim ikut menghormati aturan adat Bali. Sebaliknya, saat Idulfitri atau Ramadan, warga Hindu juga ikut menjaga keamanan lingkungan.
Di kawasan ini berdiri Masjid Baiturrahmah yang sudah ada sejak tahun 1926. Masjid tersebut menjadi pusat kegiatan masyarakat Muslim di Denpasar.
Menurut cerita masyarakat setempat, Raja Pemecutan dahulu ikut membantu memberikan lahan untuk pengembangan masjid. Kisah ini sering dianggap sebagai contoh kuatnya toleransi di Bali sejak zaman dulu.
Saat masuk ke Kampung Jawa, suasananya terasa berbeda dibanding kawasan lain di Bali. Pengunjung akan menemukan banyak warung halal, penjual makanan khas Madura dan Jawa, serta aktivitas warga yang sangat ramai.
Baca juga: Asal-Usul dan Tradisi Ngabuburit di Indonesia
Nuansa budaya Muslim sangat terasa di kawasan ini. Tradisi pengajian, perayaan Maulid Nabi, hingga kegiatan keagamaan masih rutin dilakukan oleh warga setempat.
Ketika Ramadan tiba, Kampung Jawa berubah menjadi pusat wisata kuliner malam yang ramai dikunjungi masyarakat.
Salah satu makanan paling terkenal adalah sate susu sapi yang menjadi kuliner khas Kampung Jawa. Selain itu, ada juga nasi kebuli, roti maryam, hingga aneka jajanan tradisional yang banyak diburu pengunjung.
Karena suasananya yang khas, banyak orang menyebut Kampung Jawa sebagai “wajah lain Bali”. Walau Kota Denpasar terus berkembang, identitas budaya Kampung Jawa masih tetap terjaga.
Baca juga: Asal Usul Leak Bali: Kisah Calon Arang, Dendam, dan Pertarungan Sakti yang Jadi Legenda
Gang-gang kecil, rumah sederhana, serta kehidupan sosial warga masih terlihat sangat kuat. Warga setempat juga dikenal memiliki rasa kekeluargaan dan gotong royong yang tinggi.
Masjid, madrasah, dan pusat perdagangan tradisional masih menjadi bagian penting kehidupan masyarakat di sana. Beberapa bangunan bahkan masih memperlihatkan perpaduan budaya Bali dan Islam yang unik.
Kini Kampung Jawa mulai dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Bali.
Banyak wisatawan datang untuk melihat kehidupan masyarakat Muslim di tengah Pulau Dewata. Selain wisata sejarah, pengunjung juga tertarik menikmati wisata kuliner halal yang terkenal murah dan lengkap.
Baca juga: Ronggeng Gunung Pangandaran, Warisan Budaya Penuh Sejarah dan Filosofi
Lokasinya cukup mudah dijangkau karena berada di Jalan Ahmad Yani, Denpasar Utara, sekitar 15 menit dari pusat Kota Denpasar.
Waktu terbaik untuk berkunjung adalah sore hari, terutama saat Ramadan karena suasana pasar takjil sangat ramai dan menarik untuk dijelajahi. Kampung Jawa bukan hanya sekadar nama wilayah di Denpasar. Tempat ini menjadi bagian penting dari sejarah keberagaman di Bali.
Baca juga: Cara Mengucapkan Salam 5 Agama Saat Membuka Sambutan, Mencerminkan Semangat Toleransi
Dari kisah para pendatang Muslim, hubungan harmonis antarumat beragama, hingga budaya yang masih bertahan sampai sekarang, semuanya menjadikan Kampung Jawa memiliki daya tarik tersendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber