BALI - Di tengah pesatnya perkembangan zaman, kreativitas anak muda Bali kembali membuktikan bahwa tradisi tetap bisa tampil relevan. Hal itu terlihat dalam Meranggi Festival yang digelar Sekaa Teruna Yowana Dharma Laksana di Banjar Meranggi, Desa Kesiman Petilan, Denpasar Timur, Kamis (9/7). Melalui Lomba Penjor Mini, festival ini sukses menghadirkan perpaduan antara pelestarian budaya, kreativitas, dan semangat ekonomi kreatif dalam satu panggung.
Festival tersebut mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Denpasar. Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa hadir bersama sejumlah tokoh daerah untuk menyaksikan langsung karya-karya para peserta. Ia juga menyerahkan penghargaan kepada para pemenang sekaligus memberikan dukungan kepada panitia sebagai bentuk apresiasi terhadap kegiatan yang digagas oleh generasi muda.
Arya Wibawa mengaku terkesan dengan kualitas penjor mini yang dipamerkan. Menurutnya, setiap karya tidak hanya indah dipandang, tetapi juga memiliki konsep, cerita, dan sentuhan artistik yang menunjukkan kreativitas para pembuatnya. Baginya, festival seperti ini menjadi bukti bahwa anak muda Bali mampu menjaga warisan budaya dengan pendekatan yang lebih segar dan inovatif.
Baca juga: Apa Mantra Ajian Jaran Goyang yang Asli? Mitos Pelet Warisan Budaya Banyuwangi
"Generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga budaya agar tetap hidup. Kegiatan seperti ini perlu terus diberikan ruang sehingga kreativitas mereka bisa berkembang," ujarnya.
Tahun ini, Lomba Penjor Mini diikuti oleh 24 peserta yang berasal dari berbagai kabupaten di Bali, bahkan ada peserta dari luar Pulau Dewata. Persaingan berlangsung ketat karena setiap peserta menghadirkan karya dengan detail yang rapi, komposisi yang seimbang, serta ornamen khas Bali yang dikerjakan dengan penuh ketelitian.
Bukan hanya menjadi ajang unjuk kreativitas, penjor mini juga mulai dilihat sebagai produk yang memiliki nilai ekonomi. Ukurannya yang lebih praktis membuat karya ini berpotensi menjadi suvenir khas Bali yang menarik bagi wisatawan. Dengan sentuhan desain yang modern tanpa menghilangkan unsur tradisi, penjor mini dinilai mampu memperkenalkan budaya Bali kepada pasar yang lebih luas.
Ketua Sekaa Teruna Yowana Dharma Laksana, Kadek Yoga Febrian Ramartha, berharap festival ini dapat terus berkembang dan masuk dalam agenda budaya yang lebih besar, seperti Kesiman Festival maupun festival budaya yang diselenggarakan Pemerintah Kota Denpasar. Dengan begitu, semakin banyak seniman muda yang memiliki kesempatan untuk menunjukkan karya terbaik mereka.
Baca juga: Kreativitas Ayah Bikin Anak Tunanetra Bisa Rasakan Serunya Piala Dunia 2026
Pada kompetisi tahun ini, Tim Dom Bungkil berhasil keluar sebagai Juara I. Posisi kedua diraih Aik Jabrik, sementara Juara III diraih I Kadek Juana Putra. Adapun Juara Harapan I diraih I Putu Wahyu Saputra, Juara Harapan II oleh I Nyoman Juliastika, dan Juara Harapan III jatuh kepada Demen Mamenjor.
Banjar Meranggi sendiri memang dikenal sebagai salah satu wilayah yang aktif menjaga tradisi seni dan budaya. Berbagai prestasi dalam lomba penjor di tingkat desa hingga Kota Denpasar menjadi bukti komitmen masyarakatnya dalam merawat warisan budaya.
Lebih dari sekadar kompetisi, Meranggi Festival memperlihatkan bahwa budaya tidak harus berhenti sebagai warisan masa lalu. Di tangan generasi muda, tradisi justru mampu berkembang menjadi karya yang estetik, bernilai ekonomi, dan tetap memiliki identitas kuat. Inilah wajah baru pelestarian budaya Bali, di mana kreativitas dan tradisi berjalan beriringan untuk menyambut masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemkot Denpasar