Eksploitasi Anak Masih Terjadi, Anak Bukan Investasi Orang Tua Melainkan Amanah yang Harus Dijaga
BALI - Fenomena eksploitasi terhadap anak hingga kini masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian bersama. Di tengah kehidupan modern, masih ditemukan pola pikir yang menempatkan anak sebagai sumber ekonomi, penerus ambisi keluarga, atau “investasi” yang suatu saat diharapkan mampu membalas seluruh pengorbanan orang tua. Padahal, anak memiliki hak untuk menikmati masa tumbuh kembangnya, mendapatkan kasih sayang, pendidikan, ruang bermain, serta kesempatan mengenal dirinya sendiri.
Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Luh Irma Susanthi, S.Sos., mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang dalam melihat kehadiran seorang anak. Menurutnya, anak bukanlah sosok yang hadir untuk memenuhi seluruh harapan orang dewasa, melainkan titipan yang mengajarkan banyak hal tentang cinta, kesabaran, dan tanggung jawab.
“Sudah waktunya kita melihat anak dengan perspektif yang berbeda. Bagaimana jika bukan anak yang harus mengikuti seluruh impian orang tua, tetapi justru orang tualah yang diberi kesempatan belajar melalui kehadiran mereka?” ujar Irma saat dikonfirmasi, Kamis (23/7).
Baca juga: Kenapa Anak Tunggal dan Kembar Wajib Diruwat? Ini Penjelasannya
Ia menjelaskan, seorang anak bukanlah manusia yang belum sempurna, melainkan individu utuh yang sedang menjalani proses pertumbuhan. Setiap tangisan, pertanyaan, maupun penolakan dari anak bukan sekadar perilaku yang harus dikendalikan, tetapi bisa menjadi cara mereka berkomunikasi dan mengajarkan orang dewasa untuk lebih memahami.
Menurut Irma, eksploitasi anak tidak hanya terjadi dalam bentuk kekerasan fisik maupun mempekerjakan anak di usia dini. Bentuk eksploitasi juga dapat muncul ketika anak kehilangan kesempatan menikmati masa kecil karena terlalu banyak tuntutan dari lingkungan sekitar. Misalnya, anak yang dipaksa mengejar prestasi demi gengsi keluarga, dibebani tanggung jawab orang dewasa, atau tidak diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat.
“Sering kali orang dewasa ingin mengubah anak, tetapi lupa memperbaiki dirinya sendiri. Padahal anak belajar bukan hanya dari nasihat, melainkan dari contoh yang mereka lihat setiap hari,” jelasnya.
Baca juga: Skandal Eksploitasi Anak: Kisah Gelap Epstein Saat Kekuasaan dan Kejahatan Bertemu dibalik Kemewahan
Ia mencontohkan, anak akan belajar kejujuran dari perilaku orang tua, belajar menghargai orang lain dari cara keluarga memperlakukan sesama, serta belajar mengelola emosi dari lingkungan tempat mereka tumbuh. Karena itu, keluarga menjadi ruang pertama yang membentuk karakter seorang anak.
Irma juga mengibaratkan proses tumbuh kembang anak seperti alam yang memiliki waktunya sendiri. Pohon tidak dipaksa menghasilkan buah sebelum waktunya, begitu pula anak yang membutuhkan ruang untuk berkembang sesuai kemampuan dan potensinya.
“Anak yang merasa dicintai akan belajar mencintai. Anak yang dihargai akan belajar menghargai. Anak yang didengar akan belajar mendengarkan,” tuturnya.
Melalui perubahan sudut pandang tersebut, anak tidak lagi diperlakukan sebagai beban maupun alat pencapai impian keluarga. Mereka adalah anugerah yang mengajarkan orang tua menjadi pribadi yang lebih sabar, bijaksana, dan penuh kasih.
Baca juga: Hari Anak Nasional 2026, Kemendikdasmen: Semua Setara Riang Bersama
Sebab, cara masyarakat memperlakukan anak hari ini akan menentukan wajah generasi di masa depan. Anak bukan sekadar penerus kehidupan, tetapi juga menjadi pengingat bagi orang dewasa bahwa mencintai berarti memberi ruang untuk tumbuh, bukan memaksakan kehendak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemkab Buleleng