Kamis, 12 FEBRUARI 2026 • 10:20 WIB

Destinasi Belanja Imlek di Bali yang Ramai Diburu Warga Jelang Tahun Baru Tionghoa

Author

Destinasi Belanja Imlek di Bali yang Ramai Diburu Warga Jelang Tahun Baru Tionghoa (Cahya Dwipayanti/balipost.com)

BALI - Setiap kali Tahun Baru Imlek makin dekat, ada satu perubahan visual yang hampir selalu terasa di Bali warna merah tiba-tiba mendominasi. Lampion bergantungan di jalanan, dekorasi emas muncul di etalase toko, sampai pusat belanja yang mendadak tampil lebih festive dari biasanya. Pulau yang terkenal karena tradisi Hindu dan pariwisatanya ini ternyata punya dinamika budaya yang super beragam, termasuk tradisi komunitas Tionghoa yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi setempat.

Dan seperti di banyak daerah lain, momen menjelang Imlek di Bali identik dengan satu aktivitas klasik yakni berburu pernak-pernik perayaan. Mulai dari angpao, lampion, ornamen rumah, sampai perlengkapan ibadah semuanya jadi incaran warga yang ingin menyambut tahun baru dengan persiapan maksimal.

Menariknya, aktivitas belanja ini tidak terpusat di satu titik saja. Ada kawasan bersejarah yang vibe-nya autentik banget, ada juga pusat perbelanjaan modern yang menawarkan pengalaman praktis plus hiburan. Kombinasi ini bikin Bali punya banyak opsi buat siapapun yang ingin menyiapkan Imlek dengan gaya masing-masing.

Baca juga: Jakarta Menyala! Ini Jadwal Perayaan Imlek 2026 yang Sulap Ibu Kota Jadi Panggung Budaya Dunia

Kalau harus menyebut satu tempat yang paling identik dengan belanja pernak-pernik Imlek di Bali, kawasan Jalan Gajah Mada di Denpasar hampir pasti masuk daftar teratas. Area ini sudah lama dikenal sebagai pusat perdagangan yang banyak dihuni pelaku usaha keturunan Tionghoa, bahkan keberadaannya bisa ditelusuri sejak masa sebelum Indonesia merdeka.

Begitu mendekati Imlek, suasananya berubah drastis. Lampion merah menggantung di sepanjang jalan, gapura dan dekorasi bernuansa oriental bermunculan, dan area ini sering dianggap sebagai versi lokal Chinatown karena atmosfernya yang khas. Jalanan bukan cuma jadi jalur lalu lintas, tapi juga ruang budaya yang terasa hidup terutama bagi warga yang datang untuk mencari perlengkapan perayaan.

Toko-toko di sekitar kawasan tersebut biasanya menjual berbagai barang khas, mulai dari lampion dengan berbagai ukuran hingga ornamen rumah bertema keberuntungan. Harga pun cukup variatif, dari yang ramah kantong sampai yang premium, tergantung kualitas dan desain. Kondisi ini menjadikan kawasan tersebut sebagai destinasi favorit bagi masyarakat yang ingin belanja sekaligus merasakan suasana tradisi yang kuat.

Pada periode Imlek 2026, ratusan lampion kembali dipasang di ruas Jalan Gajah Mada hingga Jalan Kartini. Dekorasi ini dilakukan secara gotong royong oleh komunitas setempat bukan hanya untuk mempercantik kota, tetapi juga mempertegas identitas budaya yang telah lama berakar di sana. Kehadiran ornamen ini biasanya menjadi sinyal tidak resmi bahwa musim belanja Imlek sudah dimulai.

Mall Modern

Kalau kawasan heritage menawarkan nuansa tradisional, pusat perbelanjaan modern menghadirkan pengalaman yang jauh lebih praktis. Menjelang Imlek, banyak mal di Bali terutama di kawasan Badung dan Denpasar ikut bersolek dengan dekorasi tematik. Lampion raksasa, instalasi warna merah-emas, hingga spot foto khas perayaan dipasang untuk menarik pengunjung sekaligus menciptakan suasana belanja yang lebih hidup.

Bukan cuma soal tampilan, strategi ritel juga ikut dimainkan. Diskon musiman sering ditawarkan untuk berbagai produk, termasuk perlengkapan rumah tangga, dekorasi, hingga fesyen yang bisa dipakai saat perayaan. Potongan harga ini jelas menjadi daya tarik tersendiri karena pengunjung bisa sekalian belanja kebutuhan lain dalam satu kunjungan.

Selain itu, mal juga sering menjadi lokasi pertunjukan budaya seperti barongsai atau liong dance. Kehadiran atraksi ini membuat aktivitas belanja terasa seperti event sosial bukan sekadar transaksi jual beli. Orang datang, menikmati hiburan, lalu lanjut berburu kebutuhan Imlek.

Baca juga: Lampion Jodipan Menyala ke Jakarta, Pesanan Imlek Dongkrak Produksi Perajin Malang

Bagi generasi yang lebih suka tempat ber-AC, parkir gampang, dan pilihan toko lengkap, opsi ini jelas jadi favorit. Tinggal jalan sedikit, semua kebutuhan bisa terpenuhi tanpa harus berpindah lokasi. Selain kawasan tradisional dan mal besar, area belanja berbasis wisata juga ikut meramaikan aktivitas jelang Imlek. Tempat seperti Bali Collection misalnya, menghadirkan dekorasi tematik dan event budaya yang menarik wisatawan domestik maupun internasional.

Tenant di area seperti ini biasanya menyediakan produk bertema Imlek, baik berupa dekorasi maupun suvenir sehingga pengunjung bisa berbelanja sambil menikmati suasana festival. Pertunjukan budaya yang digelar di ruang terbuka menambah kesan bahwa perayaan ini bukan hanya milik komunitas tertentu, tapi juga bagian dari pengalaman wisata budaya Bali secara keseluruhan.

Konsep belanja di tempat seperti ini terasa lebih santai. Orang datang bukan cuma untuk membeli barang, tapi juga untuk menikmati ambience. Bisa dibilang ini tipe destinasi yang cocok buat mereka yang ingin pengalaman lebih lifestyle daripada sekadar belanja cepat.

Barang yang Jadi Target Utama Pembeli

Walau lokasi belanja beragam, jenis barang yang dicari cenderung sama tiap tahun. Lampion masih menjadi salah satu item paling populer karena simbolismenya yang kuat sebagai pembawa harapan dan keberuntungan. Angpao juga tidak pernah absen dari daftar belanja, karena tradisi berbagi amplop merah sudah menjadi bagian penting dalam perayaan keluarga.

Selain itu, dupa dan perlengkapan sembahyang biasanya mengalami peningkatan permintaan menjelang perayaan. Ornamen dekorasi rumah seperti gantungan simbol keberuntungan atau hiasan meja juga jadi pilihan untuk memperkuat nuansa Imlek di hunian masing-masing.

Ketersediaan barang ini di berbagai titik penjualan menunjukkan bahwa kebutuhan perayaan tidak hanya dipenuhi oleh satu sektor, melainkan jaringan ekonomi yang cukup luas dari pedagang kecil hingga ritel besar.

Yang menarik, geliat pusat penjualan pernak-pernik Imlek di Bali tidak bisa dilihat hanya dari sisi konsumsi. Aktivitas ini mencerminkan dinamika sosial yang lebih luas tentang keberagaman budaya yang hidup berdampingan. Festival, dekorasi jalan, dan kegiatan belanja menjadi bentuk ekspresi identitas sekaligus ruang interaksi antarwarga.

Baca juga: Selain Gong Xi Fa Cai, Ini 6 Ucapan Imlek yang Populer dan Bermakna

Bali menunjukkan bahwa tradisi yang berbeda bisa hadir dalam satu lanskap sosial yang sama tanpa saling meniadakan. Orang datang bukan hanya karena butuh barang, tapi juga karena ingin menjadi bagian dari suasana perayaan. Dan di situlah letak daya tariknya. Berburu pernak-pernik Imlek di Bali bukan cuma tentang membeli angpao atau lampion tapi juga tentang merasakan energi komunitas, sejarah perdagangan, dan atmosfer kebersamaan yang muncul setiap tahun.

Pada akhirnya, pilihan tempat belanja kembali ke preferensi masing-masing. Mau vibe klasik penuh sejarah di kawasan lama, atau vibe modern yang serba praktis di mall semuanya tersedia. Yang jelas, setiap sudut menawarkan pengalaman berbeda, tapi tetap berujung pada satu tujuan: menyambut tahun baru dengan semangat optimisme dan harapan baik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU