BALI - Memasuki Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada 17 Februari 2026, atmosfer tersebut diprediksi kembali terasa. Berdasarkan kalender nasional, masyarakat Indonesia mendapat cuti bersama pada 16 Februari 2026, sementara rangkaian perayaan mencapai klimaks pada Cap Go Meh tanggal 3 Maret 2026, yakni hari ke-15 setelah Imlek yang menandai penutup perayaan lunar.
Rangkaian ini bukan hanya soal satu hari seremoni. Di Bali, perayaan biasanya dimulai jauh sebelum tanggal utama dengan aktivitas spiritual, persiapan komunitas, hingga event publik yang bikin kota ikut terasa hidup.
Persiapan Spiritual: Dari Bersih-bersih Altar sampai Ritual Tradisi
Menjelang pergantian tahun lunar, komunitas Tionghoa di Bali biasanya memulai dengan ritual persiapan. Salah satu yang terlihat di Vihara Dharmayana, Jalan Blambangan No.25, Kuta, Badung, di mana umat berkumpul membersihkan altar, menata kembali ornamen sembahyang, serta memasang dekorasi lampion merah. Kegiatan ini diikuti ratusan orang sebagai simbol menyambut tahun baru dengan kondisi spiritual yang bersih.
Ritual serupa juga berlangsung di Vihara Dharma Cattra, Tabanan, melalui tradisi Sung Sien yang melambangkan pengantaran simbolis dewa ke langit sebelum pergantian tahun. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa perayaan Imlek tidak hanya bernuansa meriah, tetapi juga sarat refleksi spiritual.
Kalau dilihat dari perspektif generasi sekarang, fase ini ibarat “reset moment” bukan cuma dekor ulang tempat ibadah, tapi juga mental dan niat menjalani tahun baru.
Festival Lampion dan Aktivitas Budaya
Begitu memasuki minggu Imlek, atmosfernya makin terasa di ruang publik. Salah satu contohnya terlihat di kawasan Jalan Gajah Mada, Denpasar, yang dihiasi lampion merah sebagai bagian dari festival budaya tahunan. Program ini digagas komunitas Tionghoa bersama pemerintah daerah untuk memperkuat interaksi sosial antar warga.
Biasanya event seperti ini bukan sekadar dekorasi visual. Ada pertunjukan seni, hiburan, bazar kuliner, hingga aktivitas komunitas yang terbuka untuk siapa saja. Jadi bukan cuma komunitas tertentu masyarakat umum juga bisa ikut menikmati suasana.
Secara sosial, festival ini menjadi ruang pertemuan lintas budaya yang menggambarkan bagaimana identitas lokal Bali tetap bisa berdampingan dengan tradisi Tionghoa.
Kalau bicara soal Imlek, hampir mustahil mengabaikan barongsai. Di Bali, kelompok barongsai bahkan menerima puluhan undangan tampil sejak beberapa hari sebelum perayaan hingga Cap Go Meh.
Latihan rutin dilakukan di tempat seperti Vihara Paramita, Denpasar, sebelum mereka tampil di berbagai lokasi, mulai dari wihara, pusat perbelanjaan, hingga panggung festival. Atraksi ini dipercaya membawa keberuntungan sekaligus menjadi simbol perayaan.
Buat banyak orang, barongsai bukan cuma tontonan budaya, tapi juga bagian dari pengalaman visual Imlek penuh warna, ritmis, dan selalu bikin penonton berhenti sejenak buat menikmati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber