Vihara Dharmayana Temple (Batool Fayaz/30sundays.club)
BALI - Menjelang Tahun Baru Imlek yang bakal jatuh pada 17 Februari 2026, suasana di beberapa vihara dan kelenteng di Bali mulai berubah vibe-nya. Kalau biasanya tempat ibadah terasa tenang dan sederhana, beberapa hari sebelum pergantian tahun justru jadi super sibuk penuh aktivitas, warna merah, dan kerja bareng komunitas umat.
Salah satu titik yang mencerminkan dinamika ini terlihat di Vihara Dharmayana, Kuta, Badung salah satu vihara tertua dan paling dikenal di Bali. Persiapan di sana nggak cuma soal dekorasi biar meriah, tapi juga rangkaian ritual yang punya makna spiritual cukup dalam. Mulai dari penyucian patung suci, bersih-bersih area vihara, sampai menyiapkan atraksi budaya seperti barongsai, semuanya dijalankan bertahap menjelang hari H.
Penyucian Rupang Jadi Awalan
Beberapa hari sebelum Imlek, umat biasanya memulai rangkaian persiapan lewat ritual pembersihan rupang yaitu patung dewa-dewi atau figur suci yang ada di altar vihara. Di Vihara Dharmayana, prosesi ini dilakukan dengan mencuci puluhan rupang memakai air sumur vihara yang dicampur bunga berwarna-warni. Kegiatan tersebut menjadi simbol pembersihan energi lama sekaligus bentuk kesiapan menyambut tahun baru secara spiritual.
Baca juga: 4 Makna Pantangan Imlek yang Masih Dipercaya Hingga Kini
Tradisi ini sebenarnya bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul tahun ini. Dalam dokumentasi persiapan tahun-tahun sebelumnya, umat juga melakukan hal serupa membersihkan patung, altar, dan ruang ibadah sebagai bagian dari ritual menyambut Imlek.
Biasanya ritual tersebut didahului sembahyang khusus untuk meminta izin kepada leluhur sebelum kegiatan pembersihan dimulai. Hal ini menunjukkan bahwa prosesnya bukan sekadar aktivitas fisik, tapi juga punya nilai penghormatan spiritual yang kuat. Kalau diibaratkan dengan perspektif generasi sekarang, ini semacam “reset mode” bukan cuma bersih-bersih ruang, tapi juga refleksi diri sebelum masuk bab baru dalam hidup.
Gotong Royong Bersih Area Vihara
Setelah patung suci selesai dibersihkan, kegiatan berlanjut ke area vihara secara keseluruhan. Umat bekerja bersama membersihkan halaman, ruang ibadah, hingga mengganti perlengkapan lama seperti lilin persembahan yang sudah habis masa pakainya. Aktivitas ini juga terlihat dalam persiapan sebelumnya ketika pengurus vihara melakukan kerja bakti membersihkan bangunan dan mengganti perlengkapan ibadah agar siap digunakan pada perayaan Imlek.
Tradisi serupa juga berlangsung di vihara lain di Bali. Misalnya di Vihara Dharma Cattra Tabanan, umat menjalankan sembahyang awal sebelum menghias dan membersihkan tempat ibadah sebagai bentuk penghormatan serta kesiapan menyambut tahun baru.
Yang menarik, kegiatan ini sering melibatkan lintas generasi dari orang tua sampai anak muda sehingga bukan cuma ritual keagamaan, tapi juga ruang kebersamaan sosial. Jadi bukan sekadar sapu-sapu, tapi juga bonding komunitas.
Lampion, Lilin Baru, dan Visual Merah yang Ikonik
Kalau tahap spiritual dan bersih-bersih sudah beres, barulah masuk fase yang paling kelihatan: dekorasi. Vihara mulai dihiasi lampion merah, ornamen khas Imlek, dan lilin baru untuk persembahan.
Pemasangan lampion sendiri sudah jadi tradisi tahunan yang dipercaya melambangkan keberuntungan dan harapan baik di tahun baru. Selain itu, lilin persembahan juga diganti sebagai simbol pembaruan, menandakan masuknya energi baru dalam perjalanan tahun mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber