Jumat, 06 FEBRUARI 2026 • 11:40 WIB

Sejarah Klungkung Bali, Jejak Kekuasaan, Perlawanan, dan Warisan Budaya

Author

Monumen Puputan Klungkung (Widya Lestari Ningsih/Kompas.com)

BALI - Klungkung kini dikenal sebagai ibu kota Kabupaten Klungkung dengan pusat pemerintahan di Semarapura. Secara geografis, wilayah ini berada di bagian tenggara Pulau Bali. Uniknya, Klungkung bukan cuma terdiri dari wilayah daratan, tapi juga mencakup kepulauan seperti Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan. Kombinasi antara daratan bersejarah dan kawasan kepulauan yang kini jadi destinasi wisata dunia membuat Klungkung punya dua wajah, masa lalu yang sarat makna dan masa kini yang terus bergerak.

Sejarah Klungkung tak bisa dilepas dari Kerajaan Gelgel, kerajaan besar yang pernah jadi pusat pemerintahan Bali pada abad ke-14 hingga ke-17. Di masa itu, Gelgel dikenal sebagai pusat politik, agama, dan kebudayaan Bali. Puncak kejayaannya terjadi saat Dalem Waturenggong memerintah, di mana sistem sosial, seni, dan tata pemerintahan Bali berkembang pesat.

Namun, roda sejarah berputar ke arah yang tak terduga. Kerajaan Gelgel runtuh akibat konflik internal. Seorang pejabat tinggi kerajaan bernama I Gusti Agung Maruti melakukan pemberontakan dan merebut kekuasaan. Raja Gelgel saat itu, Dalem Dimade, terpaksa melarikan diri. Kondisi ini membuat pusat kekuasaan Bali goyah dan terpecah.

Baca juga: Sejarah Kota Ambon: Dari Benteng Portugis hingga Lahirnya Sebuah Kota Pesisir Bersejarah

Situasi berubah ketika putra Dalem Dimade, Ida I Dewa Agung Jambe, berhasil merebut kembali kekuasaan pada tahun 1686. Tapi alih-alih menghidupkan kembali Gelgel, ia memilih mendirikan pusat pemerintahan baru di wilayah Semarapura. Dari sinilah Kerajaan Klungkung lahir, sekaligus menandai babak baru sejarah Bali.

Sejak berdiri, Klungkung menempati posisi istimewa. Raja-raja Klungkung yang bergelar Dewa Agung dianggap sebagai penguasa tertinggi di Bali. Meski kerajaan-kerajaan lain seperti Badung, Gianyar, Buleleng, dan Karangasem tetap berdiri, Klungkung memiliki legitimasi simbolik dan spiritual yang lebih tinggi.

Dalam struktur politik Bali saat itu, Klungkung ibarat pusat gravitasi. Banyak keputusan penting, termasuk urusan adat dan legitimasi kekuasaan, berkiblat ke kerajaan ini. Sistem kerajaan Bali pun berkembang dengan Klungkung sebagai poros utamanya.

Selama lebih dari dua abad, kerajaan ini dipimpin oleh beberapa raja yang silih berganti. Masa-masa tersebut diwarnai dinamika politik, hubungan antar kerajaan, serta kontak dengan kekuatan asing yang perlahan mulai masuk ke Bali.

Memasuki akhir abad ke-19, pengaruh kolonial Belanda semakin terasa di Bali. Awalnya, Belanda masuk lewat perjanjian dagang dan tekanan ekonomi, termasuk soal monopoli perdagangan dan aturan pelayaran. Namun, konflik semakin memanas ketika Belanda mulai mencampuri urusan internal kerajaan-kerajaan Bali.

Puncaknya terjadi pada tahun 1908, dalam peristiwa yang kini dikenal sebagai Puputan Klungkung. Saat pasukan Belanda menyerbu wilayah Klungkung, Raja Dewa Agung Jambe bersama keluarga kerajaan dan pengikutnya memilih jalan terakhir seperti, puputan, sebuah perlawanan total sampai titik akhir, tanpa menyerah.

Peristiwa ini bukan sekadar pertempuran fisik, tapi simbol perlawanan dan harga diri. Raja, bangsawan, dan rakyat maju dengan busana adat dan senjata tradisional, sadar bahwa kemungkinan hidup nyaris nol. Dalam catatan sejarah, ratusan orang gugur dalam peristiwa ini. Puputan Klungkung sekaligus menandai berakhirnya kekuasaan kerajaan Bali yang merdeka.

Meski kerajaan runtuh, jejak kejayaan Klungkung masih bisa ditemui hingga sekarang. Salah satu peninggalan paling ikonik adalah Kertha Gosa, sebuah kompleks bangunan yang dulunya digunakan sebagai balai pengadilan kerajaan. Yang bikin tempat ini unik adalah lukisan klasik di langit-langitnya, yang menggambarkan hukum karma, kehidupan setelah mati, hingga konsep keadilan menurut pandangan tradisional Bali.

Baca juga: Sejarah Kota Pekanbaru: Asal Usul, Perkembangan, dan Fakta Menarik di Baliknya

Tak jauh dari situ, berdiri Museum Semarajaya, yang dibangun untuk mengenang peristiwa Puputan Klungkung. Museum ini menyimpan berbagai artefak kerajaan, senjata, serta dokumentasi sejarah yang merekam perjalanan Klungkung dari masa kejayaan hingga masa kolonial.

Sisa-sisa Puri Klungkung juga masih bisa ditemukan, meski sebagian besar bangunan istana hancur akibat serangan Belanda. Area ini kini menjadi ruang publik sekaligus situs sejarah yang sering dikunjungi pelajar dan wisatawan.

Setelah Indonesia merdeka, Klungkung bertransformasi dari pusat kerajaan menjadi bagian dari sistem pemerintahan modern. Wilayah ini resmi menjadi Kabupaten Klungkung, dengan Semarapura sebagai pusat administratif.

Di era sekarang, Klungkung berkembang dengan dua kekuatan utama. Di satu sisi, kota ini menjaga identitasnya sebagai pusat sejarah dan budaya Bali. Upacara adat, situs sejarah, dan tradisi lokal masih dijaga kuat oleh masyarakatnya. Di sisi lain, kawasan kepulauan seperti Nusa Penida berkembang pesat sebagai destinasi wisata kelas dunia, menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Perpaduan antara kota tua yang tenang dan kawasan wisata alam yang dinamis membuat Klungkung punya karakter unik dibanding daerah lain di Bali.

Fakta Menarik Tentang Klungkung

Ada beberapa fakta yang bikin Klungkung makin menarik. Secara wilayah daratan, Kabupaten Klungkung adalah yang paling kecil di Bali, tapi justru punya pengaruh sejarah yang sangat besar. Selain itu, 28 April diperingati sebagai Hari Puputan Klungkung, sebuah momentum refleksi atas perjuangan dan pengorbanan masa lalu.

Klungkung juga dikenal sebagai salah satu pusat seni lukis klasik Bali, terutama gaya Kamasan, yang berkembang sejak masa kerajaan dan masih dilestarikan hingga kini.

Ngomongin Klungkung bukan cuma soal nostalgia masa lalu. Sejarah kota ini memberi gambaran tentang bagaimana identitas Bali terbentuk dari tentang kekuasaan, perlawanan, adat, dan nilai kehormatan. Klungkung mengajarkan bahwa Bali bukan hanya destinasi wisata, tapi juga ruang sejarah yang sarat makna.

Baca juga: Jejak Sejarah Panjang Kota Jayapura

Di tengah modernisasi dan arus pariwisata global, Klungkung tetap berdiri sebagai pengingat bahwa Bali punya akar sejarah yang kuat. Kota ini mungkin tidak paling ramai, tapi justru di situlah letak kekuatannya.

Klungkung adalah bukti bahwa sebuah kota kecil bisa punya cerita besar, cerita tentang kejayaan, keberanian, dan jati diri yang masih hidup hingga hari ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU