BALI - Pemerintah Kecamatan Buleleng resmi memperkenalkan festival seni dan budaya bertajuk Singa Kren Festival melalui jumpa pers yang berlangsung di kawasan Jalan Teleng, Singaraja, Selasa (5/5). Festival perdana ini hadir sebagai ruang ekspresi kreativitas masyarakat sekaligus upaya memperkuat identitas budaya lokal yang telah tumbuh dan berkembang di Buleleng sejak lama.
Camat Buleleng, Putu Gopi Suparnaca, menjelaskan bahwa nama “Singa Kren” terinspirasi dari semangat program pembangunan daerah yang diusung pemerintah kabupaten. Kata “Singa” merujuk pada Singaraja sebagai pusat kebudayaan di Bali Utara, sedangkan “Kren” merupakan singkatan dari kreativitas seni yang menggambarkan potensi seni unggulan masyarakat setempat.
Baca juga: Festival Pecinta Hewan Hadir di ICE BSD, Bawa Konsep Kota Imajinatif yang Seru
Menurutnya, festival ini tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga simbol semangat “Singaraja Kren Buleleng Paten” yang selama ini digaungkan pemerintah daerah. Melalui festival tersebut, berbagai unsur budaya dan kreativitas masyarakat akan dipertemukan dalam satu panggung besar, mulai dari seni tari tradisional Bali, budaya Tionghoa dan Muslim, hingga pengaruh budaya Buddha yang telah lama berakulturasi di Buleleng.
Tema yang diangkat, yakni “Purwaning Sastrotsawa Pragati”, mengandung filosofi mendalam mengenai pentingnya menjaga nilai budaya, tradisi, dan pemikiran leluhur sebagai fondasi kemajuan daerah. Nilai-nilai tersebut dinilai menjadi kekuatan utama dalam membangun kreativitas masyarakat di tengah perkembangan zaman.
Beragam kegiatan telah disiapkan untuk memeriahkan festival ini. Selain pertunjukan seni budaya khas Buleleng, masyarakat juga akan disuguhkan penampilan musik modern, pameran pelayanan publik, bazar UMKM dan kuliner tradisional, lomba karaoke, fashion show, hingga kegiatan olahraga seperti Fun Run dan Zumba Party.
Baca juga: Dussehra: Festival Api dengan Cerita Epic, Tradisi Unik, dan Fakta Menariknya
Salah satu pertunjukan yang paling dinantikan adalah garapan kolosal yang melibatkan ratusan seniman lokal. Ketua Sanggar Santhi Budaya, I Gusti Ngurah Eka Prasetya, mengungkapkan bahwa pihaknya menghadirkan puluhan penari dan penabuh gamelan gong kebyar khas Buleleng dalam satu pertunjukan besar yang memadukan berbagai unsur etnis.
Keunikan garapan tersebut terletak pada penggunaan musik gong kebyar untuk mengiringi beragam karakter budaya dengan perpaduan nada pentatonis dan diatonis. Pertunjukan itu melibatkan lebih dari 550 orang dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak hingga dewasa.
Melalui festival ini, pemerintah berharap Buleleng semakin dikenal sebagai daerah yang mampu menjaga tradisi sekaligus melahirkan kreativitas seni yang berkembang mengikuti zaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemkab Buleleng