Masjid Al Hikmah di Denpasar, Bali. (Rumah 123)
BALI - Masjid Al Hikmah di Jalan Soka No. 18, Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur, menjadi salah satu potret menarik tentang bagaimana agama, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat Bali dapat berjalan berdampingan.
Sekilas, bangunan masjid ini tidak tampak seperti masjid pada umumnya. Dari luar, pengunjung justru akan disambut gapura dan ornamen khas Bali yang membuatnya terlihat menyatu dengan bangunan tradisional di sekitarnya.
Masjid Al Hikmah dikenal karena konsep akulturasi budaya yang kuat. Gerbang dan pagar masjid dihiasi batu paras hitam, ornamen ceplok bunga, kepala Naga Banda, serta ukiran-ukiran khas Bali lainnya.
Nuansa lokal juga terasa hingga bagian dalam masjid. Ukiran kayu khas Bali menghiasi sejumlah elemen interior, terutama pada jendela dan pintu.
Keunikan arsitektur ini menjadikan Masjid Al Hikmah bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang yang memperlihatkan wajah Islam yang tumbuh berdampingan dengan budaya lokal Bali.
Baca juga: Pemkab Jembrana Raih Penghargaan BKN, Bukti Komitmen Tingkatkan Karier dan Kesejahteraan ASN
Masjid ini didirikan sekitar tahun 1978 oleh seorang sesepuh Muslim Bali bernama Abdul Sumarno. Pada awal berdirinya, masjid dibangun untuk memfasilitasi kebutuhan ibadah umat Muslim di wilayah Kesiman yang saat itu jumlahnya masih terbatas.
Pembangunan masjid dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Seiring bertambahnya jumlah jamaah, masjid kemudian mengalami perkembangan.
Pada 1995, salah satu jamaah bernama Bapak Narso memugar bangunan masjid dan memperkuat karakter arsitekturnya dengan sentuhan ukiran Bali dan Jawa, terutama pada bagian gapura.
Prinsip “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” menjadi napas utama dari pembangunan Masjid Al Hikmah. Masjid ini tidak berdiri sebagai bangunan yang terpisah dari lingkungan sekitarnya, melainkan tumbuh bersama masyarakat Kesiman.
Baca juga: Badung Tertibkan Kabel Semrawut Sepanjang 2 Kilometer, Wajah Kuta Utara Makin Rapi
Proses pembangunannya juga melibatkan warga setempat, termasuk seniman lokal Kesiman yang mengerjakan detail ukiran. Dari sinilah, Masjid Al Hikmah menjadi simbol bahwa identitas keagamaan dan identitas budaya tidak harus saling meniadakan. Keduanya justru bisa saling memperkaya.
Secara administratif, Masjid Al Hikmah tercatat sebagai Masjid Jami dengan status tanah wakaf. Keberadaannya semakin penting karena Denpasar merupakan salah satu kota di Bali dengan jumlah penduduk Muslim yang cukup besar.
Selain menjadi tempat salat, Masjid Al Hikmah juga menjalankan fungsi sosial dan pendidikan. Di lingkungan masjid terdapat kegiatan belajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pelayanan umat, serta pengajian rutin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Denpasartourism.com