Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 04 MEI 2026 • 12:35 WIB

Potensi Besar Pesisir Banyuasri, Wisata Alam dan Konservasi Siap Dikembangkan

Potensi Besar Pesisir Banyuasri, Wisata Alam dan Konservasi Siap DikembangkanDesa Adat Banyuasri Jajaki Konservasi Tukik dan Ekowisata Bahari (adm buleleng)

BALI - Rencana pengembangan kawasan pesisir Banyuasri sebagai destinasi wisata berbasis pelestarian lingkungan mulai mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan. Kawasan yang meliputi Pantai Pidada, Pantai Camplung, dan Pantai Indah di Desa Adat Banyuasri ini dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan tanpa mengabaikan aspek konservasi alam.

Wilayah pesisir tersebut dikenal sebagai salah satu jalur alami pergerakan penyu hijau. Kondisi ini membuka peluang untuk menghadirkan konsep wisata bahari berbasis edukasi dan konservasi, khususnya melalui program pelestarian tukik atau anak penyu. Inisiatif ini diharapkan tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem laut.

Baca juga: Mengurai Peta Baru Konservasi Jawa Timur, Strategi Senyap Menjaga Alam Tetap Hidup

Gagasan tersebut mengemuka dalam pertemuan awal antara pegiat konservasi Adhy Simatupang dengan prajuru Desa Adat Banyuasri yang berlangsung di Pantai Camplung, Sabtu (2/5). Dalam diskusi tersebut, Adhy menyoroti kekayaan ekosistem laut di wilayah pesisir Buleleng yang berpotensi menjadi habitat alami penyu untuk berkembang biak.

Menurutnya, pengembangan sektor pariwisata di Buleleng perlu diarahkan pada diversifikasi daya tarik wisata. Ketergantungan pada satu jenis atraksi, seperti wisata lumba-lumba, dinilai berisiko dalam jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan alternatif yang lebih berkelanjutan, salah satunya melalui wisata konservasi berbasis masyarakat.

Sementara itu, tokoh adat setempat, Made Agus Parthama, melihat peluang pengembangan kawasan tidak hanya terbatas pada konservasi tukik. Ia menyebut pesisir Banyuasri juga dapat dikembangkan menjadi destinasi ekowisata bahari yang menawarkan berbagai aktivitas, seperti memancing, kano, berenang, hingga pengamatan lumba-lumba. Selain itu, keberadaan Pura Segara dan Pura Taman Alit dapat menjadi daya tarik wisata religi yang memperkaya pengalaman pengunjung.

Baca juga: Kucing Kuwuk Kembali Menyatu dengan Hutan Gunung Raung: Simbol Nyata Gerakan Konservasi Satwa

Potensi lain yang turut dilirik adalah pengembangan wisata kuliner berbasis lokal serta pembangunan jalur jogging dengan pemandangan pantai dan area persawahan. Meski demikian, ia mengakui bahwa hingga saat ini belum ada sistem pengelolaan konservasi tukik yang terorganisir secara baik dan melibatkan komunitas adat secara langsung.

Dukungan terhadap rencana ini juga datang dari Kelian Desa Adat Banyuasri, Mangku Nyoman Widiasa. Ia menyatakan bahwa program tersebut sejalan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat. Namun demikian, ia menegaskan bahwa pelaksanaan program harus tetap memperhatikan keseimbangan alam.

Baca juga: Lindungi Lautan, Indonesia Bentuk Komite Nasional Demi Target 30% Kawasan Konservasi 2045

Rencana pengembangan ini selanjutnya akan dibahas dalam forum paruman desa adat guna mendapatkan persetujuan bersama dari krama desa. Dengan posisi strategisnya dalam jalur wisata Buleleng, kawasan pesisir Banyuasri diharapkan mampu tumbuh sebagai destinasi baru yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemkab Buleleng

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Potensi Besar Pesisir Banyuasri, Wisata Alam dan Konservasi Siap Dikembangkan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!