Desa Wisata Penglipuran Bali (tourbali.id)
BALI - Desa wisata di Bali berkembang sebagai alternatif perjalanan berbasis pengalaman (experiential travel), di mana wisatawan tidak sekadar datang untuk melihat, tetapi ikut hidup bersama masyarakat lokal. Aktivitas seperti bertani, membuat kerajinan, memasak kuliner tradisional, hingga mengikuti ritual budaya menjadi bagian dari paket perjalanan yang ditawarkan.
Konsep desa wisata tidak lahir tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata berkelanjutan menjadi fokus utama pengembangan destinasi di Indonesia, termasuk Bali. Pendekatan ini menekankan keseimbangan antara pelestarian lingkungan, budaya, dan peningkatan ekonomi masyarakat lokal.
Baca juga: Bosan Kota? Ini 4 Desa Wisata di Malang yang Bikin Kamu Gak Mau Pulang!
Di Bali sendiri, nilai ini sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, yakni harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas. Prinsip ini menjadi fondasi dalam pengembangan desa wisata agar tidak merusak ekosistem maupun identitas budaya setempat.
Selain itu, desa wisata juga dipahami sebagai kawasan berbasis komunitas yang memberi ruang bagi masyarakat untuk mengelola potensi lokal secara mandiri. Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjaga keaslian desa.
Desa Penglipuran: Simbol Ketertiban dan Budaya
Salah satu desa wisata paling terkenal di Bali adalah Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli. Desa ini sering disebut sebagai salah satu desa terbersih di dunia dan telah masuk dalam daftar Top 100 Sustainable Destinations versi Green Destinations Foundation.
Penglipuran mempertahankan tata ruang tradisional yang seragam, dengan rumah-rumah berbahan alami dan jalur utama yang tertata rapi. Tidak ada kendaraan bermotor yang bebas keluar-masuk, sehingga suasana desa tetap tenang dan bersih.
Wisatawan yang datang ke sini tidak hanya berjalan-jalan, tetapi juga bisa mencoba langsung kehidupan masyarakat. Aktivitas seperti membuat anyaman bambu, mencicipi kuliner khas Bali, hingga mengikuti upacara adat menjadi pengalaman yang ditawarkan.
Baca juga: Kenalan dengan Desa Kemiren Banyuwangi: Tempat Wisata dengan Segudang Budaya
Homestay di Penglipuran dikelola langsung oleh warga. Fasilitasnya sederhana namun nyaman, dengan konsep rumah tradisional Bali. Wisatawan diajak merasakan hidup sebagai bagian dari keluarga desa, bukan sekadar tamu.
Jatiluwih: Lanskap Hijau Warisan Dunia
Berpindah ke Kabupaten Tabanan, ada Desa Wisata Jatiluwih yang terkenal dengan hamparan sawah teraseringnya. Kawasan ini telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO sejak 2012.
Jatiluwih menjadi contoh nyata bagaimana pariwisata dan pertanian bisa berjalan beriringan. Sistem irigasi tradisional subak yang digunakan petani menjadi daya tarik utama sekaligus simbol kearifan lokal Bali.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kemenpar.RI