Candi Gunung Kawi, Bali (getlost.id/melinda yuliani)
BALI - Berbeda dengan Pulau Jawa yang memiliki struktur candi batu berdiri bebas, Bali menghadirkan bentuk unik berupa candi tebing dan pura kuno yang sarat nilai sejarah, religi, dan filosofi kehidupan masyarakat Bali Kuno.
Salah satu situs yang paling representatif untuk memahami sejarah percandian di Bali adalah Candi Gunung Kawi. Situs ini menjadi pintu masuk penting bagi wisatawan maupun peneliti yang ingin menelusuri perkembangan arsitektur, sistem kepercayaan, hingga dinamika politik kerajaan Bali pada masa lampau.
Terletak di lembah Sungai Pakerisan, kawasan Tampaksiring, Candi Gunung Kawi merupakan kompleks candi tebing yang dipahat langsung pada dinding batu. Situs ini diperkirakan dibangun pada abad ke-11 Masehi, tepatnya pada masa pemerintahan Dinasti Warmadewa, salah satu dinasti besar dalam sejarah Bali Kuno.
Kompleks ini terdiri dari sepuluh candi yang terbagi dalam beberapa kelompok. Para ahli meyakini bahwa candi-candi tersebut berfungsi sebagai tempat pemujaan sekaligus monumen peringatan bagi raja dan anggota keluarga kerajaan, khususnya pada masa Raja Udayana dan Anak Wungsu.
Keunikan utama dari candi ini adalah teknik pembuatannya. Seluruh struktur tidak dibangun dari susunan batu, melainkan dipahat langsung pada tebing. Hal ini menunjukkan kemampuan teknologi dan estetika tinggi masyarakat Bali Kuno dalam memanfaatkan kondisi alam sebagai bagian dari arsitektur sakral.
Candi Gunung Kawi memiliki latar belakang keagamaan Hindu, yang pada masa itu berkembang pesat di Bali melalui pengaruh budaya India. Namun, praktik keagamaannya tidak sepenuhnya meniru India, melainkan telah beradaptasi dengan kepercayaan lokal masyarakat Bali.
Konsep pemujaan di candi ini erat kaitannya dengan penghormatan kepada leluhur. Hal ini tercermin dari fungsi candi sebagai tempat penghormatan raja yang telah wafat. Dalam konteks ini, candi tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol legitimasi kekuasaan dan kesinambungan spiritual antara raja dan rakyatnya.
Relief dan struktur candi yang sederhana namun monumental menggambarkan filosofi keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan yang dalam budaya Bali dikenal sebagai konsep Tri Hita Karana.
Berbeda dengan candi-candi di Jawa yang kaya akan relief naratif seperti kisah Ramayana atau Mahabharata, Candi Gunung Kawi lebih menonjolkan bentuk arsitektur simbolik.
Baca juga: Peninggalan Sriwijaya: Prasasti, Candi, dan Jejak Sejarahnya
Setiap ceruk candi memiliki bentuk menyerupai “pura mini” dengan atap berundak. Bentuk ini melambangkan gunung sebagai tempat suci, yang dalam kepercayaan Hindu-Bali dianggap sebagai tempat bersemayam para dewa.
Selain itu, keberadaan ceruk pertapaan di sekitar kompleks menunjukkan bahwa kawasan ini juga digunakan sebagai tempat meditasi para resi atau pendeta. Hal ini memperkuat fungsi kawasan sebagai pusat spiritual, bukan sekadar monumen kerajaan.
Seperti banyak situs kuno di Bali, Candi Gunung Kawi juga diselimuti cerita rakyat. Salah satu legenda yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa candi ini dipahat oleh tokoh sakti dalam semalam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Invest.baliprov.go.id