BALI - Peran perempuan, terutama ibu rumah tangga, dinilai sangat menentukan dalam keberhasilan pengelolaan sampah berbasis sumber di Kabupaten Buleleng. Hal tersebut mengemuka dalam podcast “Petuah Ngopi: Penegak Peraturan Daerah Ngobrol Pintar dan Inspiratif” yang menghadirkan Ny. Wardhany Sutjidra sebagai narasumber, Selasa (28/4), di Ruang Sekretariat PKK Buleleng.
Dalam perbincangan tersebut, Wardhany menekankan bahwa persoalan sampah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah daerah. Upaya paling efektif justru harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu rumah tangga. Ia menjelaskan bahwa kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah mampu menekan jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Baca juga: Miris! Bayi Malang Dibuang di Tempat Sampah di Pademangan, Ibu Kandung Diamankan Polisi
Menurutnya, jika masyarakat konsisten memisahkan sampah organik dan anorganik sejak awal, sebagian besar persoalan sampah sebenarnya dapat diselesaikan di tingkat keluarga. Sisanya baru menjadi tanggung jawab pemerintah melalui sistem pengelolaan yang tersedia.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa program Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) yang dikenal dengan konsep “Desaku Bersih Tanpa Mengotori Desa Lain” mendorong masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri dengan prinsip 3R, yakni mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang. Sampah organik dapat diolah secara sederhana di rumah, sementara sampah anorganik dapat ditangani melalui fasilitas seperti TPS3R.
Meski demikian, Wardhany tidak menampik bahwa masih terdapat sejumlah kendala di lapangan. Salah satu tantangan terbesar adalah kebiasaan masyarakat yang belum sepenuhnya disiplin dalam memilah sampah. Pola lama yang hanya mengandalkan pengangkutan tanpa proses pemilahan masih sering terjadi.
Baca juga: Industri Kelapa Sawit Dorong Kesetaraan Gender, Peran Perempuan Kian Strategis
Ia menegaskan bahwa persoalan ini bukan semata terkait sarana dan prasarana, melainkan juga menyangkut kesadaran serta perubahan pola pikir masyarakat. Tanpa adanya komitmen dan penegakan aturan yang tegas, upaya pengelolaan sampah akan sulit berjalan optimal.
Dalam konteks ini, perempuan memiliki posisi strategis sebagai penggerak perubahan. Sebagai pengelola rumah tangga, perempuan berperan penting dalam menanamkan kebiasaan baik kepada anggota keluarga, termasuk anak-anak, terkait pengelolaan sampah yang benar.
Momentum Hari Kartini pun dimanfaatkan untuk mendorong perempuan agar semakin aktif dan berdaya dalam menjaga kebersihan lingkungan. Ia menilai peran ibu rumah tangga tidak bisa dipandang sebelah mata karena memiliki dampak besar terhadap kualitas lingkungan dan masa depan generasi.
Selain membahas sampah, Wardhany juga menyinggung transformasi Posyandu yang kini tidak hanya berfokus pada layanan kesehatan, tetapi telah berkembang mencakup enam Standar Pelayanan Minimal (SPM), seperti pendidikan, ketertiban, hingga pekerjaan umum. Perubahan ini diharapkan mampu memberikan layanan yang lebih menyeluruh kepada masyarakat.
Baca juga: Via Dialog Lintas Sektor, Sekretariat Wapres Tampung Aspirasi Pelaku UMKM dan Ekonomi Perempuan
Di sisi lain, PKK juga disebut sebagai mitra strategis pemerintah dalam memberdayakan keluarga. Melalui berbagai programnya, PKK dinilai mampu mendorong terciptanya keluarga yang mandiri, sejahtera, dan berdaya.
Ia pun berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersinergi dalam mendukung program pemerintah, terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan serta memanfaatkan layanan Posyandu dan program PKK secara maksimal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemkab Buleleng