Pantauan Harga Sembako di Bali Menjelang Lebaran 2026: Beras, Minyak Goreng, Telur, Ayam, dan Cabai
BALI - Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026, masyarakat di Bali mulai memantau perkembangan harga bahan pokok di pasar tradisional maupun toko ritel. Setiap tahun, periode menjelang Ramadhan dan Lebaran biasanya diikuti dengan peningkatan permintaan berbagai kebutuhan dapur, mulai dari beras, minyak goreng, gula, telur, daging ayam, hingga cabai.
Pantauan dari sejumlah sumber data harga pangan menunjukkan bahwa sebagian komoditas mengalami kenaikan tipis, sementara beberapa lainnya relatif stabil. Pemerintah daerah bersama instansi terkait juga terus memantau pergerakan harga agar tidak terjadi lonjakan yang memberatkan masyarakat.
- Harga Beras Relatif Stabil
Beras sebagai kebutuhan utama masyarakat Bali masih menunjukkan harga yang cukup stabil menjelang Lebaran tahun ini. Berdasarkan pemantauan sistem informasi harga pangan daerah Bali, harga beras medium rata-rata berada di kisaran Rp14.700 hingga Rp14.800 per kilogram pada akhir Februari 2026. Harga ini hanya mengalami kenaikan tipis sekitar 0,7 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Baca juga: Jelang Lebaran, Pemprov dan Polda Jambi Pantau Ketat Stok dan Harga Pangan
Sementara itu, di beberapa wilayah seperti Kota Denpasar, harga beras medium tercatat berada di kisaran Rp14.000 per kilogram, yang menunjukkan kondisi pasar yang relatif stabil.
Stabilnya harga beras ini dipengaruhi oleh ketersediaan stok dari daerah penghasil serta distribusi yang masih berjalan lancar. Selain itu, pemerintah juga menjaga pasokan melalui cadangan beras pemerintah yang dikelola oleh Bulog.
Secara nasional, harga beras medium pada awal Maret 2026 juga berada di kisaran Rp14.500 per kilogram, sehingga kondisi di Bali masih sejalan dengan tren nasional.
- Minyak Goreng dan Gula
Komoditas minyak goreng juga menjadi perhatian masyarakat menjelang Lebaran, karena digunakan dalam berbagai kegiatan memasak seperti menggoreng kue kering maupun hidangan khas hari raya.
Berdasarkan data harga pangan, minyak goreng kemasan di Bali berada di kisaran Rp20.000 hingga Rp21.800 per liter. Harga ini relatif stabil dibandingkan beberapa minggu sebelumnya.
Sementara itu, harga gula pasir di pasar tradisional Bali berada di sekitar Rp17.000 per kilogram. Harga ini tidak mengalami perubahan signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Baca juga: DPRD DKI Minta Pemprov Antisipasi Lonjakan Harga Pangan Jelang Ramadhan 2026 dan Dampak Program MBG
Stabilnya harga minyak goreng dan gula dipengaruhi oleh distribusi yang cukup lancar serta adanya pengawasan dari pemerintah untuk mencegah penimbunan atau spekulasi harga.
- Harga Telur Ayam Masih Terkendali
Komoditas telur ayam juga menjadi salah satu kebutuhan penting menjelang Lebaran, terutama untuk membuat berbagai jenis kue.
Di Bali, harga telur ayam ras tercatat sekitar Rp28.400 hingga Rp28.500 per kilogram pada awal Maret 2026. Harga tersebut relatif stabil dan tidak mengalami lonjakan yang berarti dibandingkan periode sebelumnya.
Stabilnya harga telur dipengaruhi oleh pasokan dari peternak yang masih mencukupi kebutuhan pasar. Selain itu, distribusi dari daerah penghasil seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah ke Bali juga berjalan lancar.
- Daging Ayam Mengalami Kenaikan Tipis
Berbeda dengan telur, harga daging ayam ras di Bali mengalami sedikit kenaikan menjelang Lebaran. Berdasarkan data harga pangan, daging ayam broiler berada di kisaran Rp41.700 hingga Rp44.000 per kilogram.
Kenaikan ini tergolong ringan, hanya sekitar 1 hingga 3 persen dibandingkan minggu sebelumnya. Permintaan daging ayam biasanya meningkat menjelang Lebaran karena banyak masyarakat yang mempersiapkan berbagai menu khas seperti opor ayam, sate, maupun ayam goreng.
Baca juga: Harga Cabai Hari Ini di Kendari, Naik atau Turun?
Meski demikian, pemerintah daerah memastikan bahwa pasokan daging ayam masih mencukupi sehingga tidak terjadi lonjakan harga yang terlalu tinggi.
- Cabai Menjadi Komoditas yang Paling Fluktuatif
Salah satu komoditas yang mengalami fluktuasi cukup signifikan adalah cabai. Berdasarkan pantauan harga pangan pada awal Maret 2026, harga cabai rawit merah di Bali mencapai sekitar Rp99.800 per kilogram, sementara cabai merah besar berada di kisaran Rp36.500 per kilogram.
Data lain menunjukkan harga cabai rawit sempat berada di sekitar Rp86.000 hingga Rp92.000 per kilogram pada akhir Februari hingga awal Maret 2026.
Kenaikan harga cabai umumnya disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
- Cuaca ekstrem di daerah penghasil
Curah hujan tinggi dapat mempengaruhi produksi cabai dan menyebabkan pasokan menurun. - Distribusi antar daerah
Bali masih bergantung pada pasokan cabai dari luar daerah seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah. - Lonjakan permintaan menjelang hari besar keagamaan
Permintaan cabai biasanya meningkat saat Ramadan dan Lebaran.
Fenomena kenaikan harga cabai menjelang Ramadan juga terjadi di berbagai daerah di Indonesia akibat gangguan produksi karena cuaca.
Sebagian besar masyarakat Bali masih mengandalkan pasar tradisional sebagai tempat berbelanja kebutuhan sehari-hari. Pasar seperti Pasar Badung di Denpasar, Pasar Gianyar, Pasar Singaraja, hingga Pasar Negara di Jembrana menjadi pusat distribusi bahan pokok.
Harga di pasar tradisional biasanya menjadi acuan bagi pedagang kecil maupun pengecer di wilayah sekitar. Selain itu, pemerintah daerah juga rutin memantau harga di pasar-pasar tersebut untuk mengetahui perkembangan inflasi pangan.
Sistem pemantauan harga pangan juga dilakukan melalui platform digital pemerintah daerah yang menampilkan rata-rata harga berbagai komoditas di setiap kabupaten dan kota di Bali.
Untuk menjaga stabilitas harga menjelang Lebaran, pemerintah daerah di Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melakukan sejumlah langkah strategis.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggelar pasar murah di berbagai wilayah. Program ini bertujuan memberikan akses kepada masyarakat untuk membeli bahan pokok dengan harga lebih terjangkau.
Selain itu, pemerintah juga meningkatkan pengawasan terhadap distribusi pangan dan menindak praktik penimbunan bahan pokok oleh oknum pedagang. Pengawasan ini dilakukan oleh Satgas Pangan yang memantau ribuan titik distribusi di seluruh Indonesia.
Di beberapa daerah, pemerintah kabupaten juga melakukan operasi pasar guna menekan kenaikan harga dan menjaga ketersediaan stok bahan pangan menjelang hari raya.
- Tips Berbelanja Hemat Menjelang Lebaran
Dengan adanya potensi kenaikan harga menjelang Lebaran, masyarakat juga disarankan untuk mengatur belanja secara lebih bijak. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan:
- Membuat daftar belanja
Dengan daftar belanja yang jelas, masyarakat dapat menghindari pembelian barang yang tidak diperlukan. - Memantau harga pasar
Masyarakat dapat memanfaatkan informasi harga pangan dari situs resmi pemerintah daerah untuk mengetahui harga rata-rata. - Berbelanja lebih awal
Membeli bahan pokok beberapa hari sebelum puncak permintaan Lebaran dapat membantu menghindari kenaikan harga. - Memanfaatkan pasar murah
Program pasar murah yang diselenggarakan pemerintah biasanya menawarkan harga yang lebih rendah dibandingkan pasar umum.
Secara umum, harga sembako di Bali menjelang Lebaran 2026 masih tergolong stabil meskipun terdapat kenaikan pada beberapa komoditas seperti cabai dan daging ayam. Sementara itu, harga beras, minyak goreng, gula, dan telur relatif terkendali.
Pemantauan harga oleh pemerintah daerah, distribusi pasokan yang lancar, serta intervensi melalui pasar murah menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga pangan di Bali.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diharapkan tetap dapat memenuhi kebutuhan pangan menjelang hari raya tanpa mengalami tekanan ekonomi yang terlalu besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber Berita