Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 02 MARET 2026 • 09:50 WIB

Film Pendek, Pesan Besar: DTIK Fest 2026 Gaungkan Stop Kekerasan pada Anak dan Perempuan

Film Pendek, Pesan Besar: DTIK Fest 2026 Gaungkan Stop Kekerasan pada Anak dan PerempuanPemutaran Film Pendek di DTIK Fest 2026 Gaungkan Stop Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (humasdps)

BALIJika biasanya festival identik dengan teknologi, kreativitas, dan inovasi digital, kali ini ada sudut yang menghadirkan nuansa lebih hangat dan menyentuh. Puluhan anak duduk berdampingan bersama orang tua mereka, menyimak pemutaran film pendek edukatif hasil kolaborasi bersama Minikino. Di balik layar sederhana itu, tersimpan pesan yang jauh lebih besar dari sekadar hiburan.

Film-film yang diputar tidak hanya menyajikan cerita ringan, tetapi juga membawa misi penting: mengajak semua pihak menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan. Tanpa kesan menggurui, setiap adegan dirancang agar mudah dicerna oleh anak-anak, namun tetap memberi ruang refleksi bagi orang dewasa. Ceritanya sederhana, alurnya mengalir, tetapi maknanya kuat dan relevan dengan situasi yang kerap terjadi di sekitar kita.

Baca juga: Kesadaran Melapor Meningkat, Jambi Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak

Anak-anak diajak mengenali batasan diri sejak dini. Mereka diperkenalkan pada konsep tentang sentuhan yang aman dan tidak aman, tentang hak untuk berkata “tidak”, serta pentingnya berani berbicara ketika merasa tidak nyaman. Lewat pendekatan visual yang ramah anak, pesan tersebut terasa lebih membumi dan tidak menakutkan. Edukasi disampaikan dengan bahasa yang hangat, sehingga anak-anak dapat memahami tanpa merasa terintimidasi.

Di sisi lain, orang tua yang turut menyaksikan juga seakan diajak bercermin. Film-film tersebut menegaskan bahwa keluarga adalah benteng pertama perlindungan anak. Komunikasi terbuka, kepekaan terhadap perubahan sikap anak, serta kesiapan untuk mendengarkan tanpa menghakimi menjadi poin penting yang disampaikan. Ruang aman bukan hanya slogan, tetapi harus dibangun dari rumah, dari percakapan sehari-hari yang penuh empati.

Kehadiran sesi pemutaran film ini menjadi pengingat bahwa edukasi tidak selalu harus hadir dalam bentuk seminar formal atau ceramah panjang. Media kreatif seperti film mampu menjembatani pesan sensitif dengan cara yang lebih mudah diterima. Anak-anak tidak merasa sedang “dinasihati”, melainkan diajak memahami lewat cerita yang dekat dengan kehidupan mereka.

Di tengah kemajuan teknologi yang menjadi sorotan utama festival, DTIK Fest 2026 menunjukkan bahwa inovasi tidak hanya berbicara soal kecanggihan digital. Ada nilai kemanusiaan yang tetap dijaga dan diperjuangkan. Komitmen ini memperlihatkan bahwa literasi digital perlu berjalan seiring dengan pembentukan karakter dan kesadaran sosial.

Baca juga: Daftar 25 Penerima Penghargaan Perempuan Inspiratif dari Pemprov Sulsel

Melalui pemutaran film pendek tersebut, DTIK Fest 2026 menegaskan perannya bukan sekadar ruang pamer teknologi, melainkan juga wadah tumbuhnya generasi yang cerdas dan peduli. Perubahan besar memang tidak terjadi dalam semalam. Namun dari cerita-cerita singkat yang ditayangkan, benih kesadaran itu mulai ditanam.

Karena menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak bukanlah tanggung jawab satu pihak saja. Ini adalah gerakan bersama, yang bisa dimulai dari keluarga, dari lingkungan terdekat, bahkan dari sebuah layar kecil di tengah festival. Dari sana, harapan akan masa depan yang lebih aman dan setara perlahan menemukan jalannya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemkot Denpasar

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Film Pendek, Pesan Besar: DTIK Fest 2026 Gaungkan Stop Kekerasan pada Anak dan Perempuan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!