I Made Taro, Maestro Dongeng Bali yang Menginspirasi Lewat Cerita Rakyat dan Permainan Tradisional
BALI - Bali tidak hanya terkenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga memiliki banyak tokoh yang berjasa menjaga budaya daerah. Salah satu di antaranya adalah I Made Taro, seorang maestro dongeng yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk melestarikan cerita rakyat atau satua Bali.
Selama puluhan tahun, Made Taro dikenal sebagai pendongeng, penulis, sekaligus pemerhati budaya anak. Lewat cerita, lagu, dan permainan tradisional, ia mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak sekaligus mengenalkan kekayaan budaya Bali. Berkat dedikasinya, nama Made Taro menjadi salah satu tokoh budaya yang dihormati, tidak hanya di Bali tetapi juga di tingkat nasional.
Baca juga: 4 Permainan Tradisional Indonesia yang Mulai Jarang Dimainkan, Padahal Seru Banget!
I Made Taro lahir di Desa Sengkidu, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, pada 16 April 1939. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan tradisi mendongeng yang dilakukan orang tuanya sebelum tidur. Cerita-cerita rakyat yang didengarnya bukan sekadar hiburan. Di dalamnya terdapat banyak pesan tentang kejujuran, kerja keras, rasa hormat kepada orang tua, hingga pentingnya hidup rukun.
Pengalaman itulah yang kemudian membuat Made Taro jatuh cinta pada dunia dongeng dan ingin menjaga tradisi tersebut agar tidak hilang. Menurutnya, dongeng merupakan cara sederhana untuk mengenalkan budaya sekaligus membentuk karakter anak sejak dini.
Memulai Perjalanan Sebagai Pendongeng
Karier Made Taro sebagai pendongeng dimulai pada tahun 1973 saat masih menjadi guru sekolah dasar. Ia melihat bahwa anak-anak lebih mudah memahami pelajaran jika disampaikan melalui cerita.
Baca juga: Kearifan Lokal Masyarakat Bali Lewat Permainan Tradisional yang Edukatif dan Menyenangkan
Sejak saat itu, ia mulai aktif mendongeng di sekolah, perpustakaan, desa, hingga berbagai acara budaya. Gaya berceritanya yang hangat, lucu, dan interaktif membuat anak-anak mudah menikmati setiap cerita yang disampaikan.
Tidak hanya menghibur, setiap dongeng yang dibawakannya selalu mengandung pesan moral yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang membuat Made Taro dikenal luas sebagai pendongeng yang mampu mengajarkan nilai kehidupan dengan cara yang menyenangkan.
Mendirikan Sanggar Kukuruyuk
Sebagai bentuk kepeduliannya terhadap budaya anak, Made Taro mendirikan Sanggar Kukuruyuk pada 15 Juni 1979. Melalui sanggar ini, ia mengajak anak-anak mengenal kembali cerita rakyat, lagu daerah, dan permainan tradisional Bali.
Baca juga: Kisah "Silent Night", Lagu Natal Klasik yang Tercipta di Tengah Ketidakpastian
Kegiatan tersebut tidak hanya dilakukan di satu tempat, tetapi juga mendatangi sekolah-sekolah dan desa-desa agar semakin banyak anak yang dapat belajar budaya lokal.
Made Taro percaya bahwa permainan tradisional dapat mengajarkan kerja sama, sportivitas, kreativitas, dan kebersamaan. Karena itu, ia terus memperkenalkan permainan yang mulai ditinggalkan akibat perkembangan teknologi.
Aktif Menulis Buku Budaya
Selain mendongeng secara langsung, Made Taro juga menulis berbagai buku agar cerita rakyat Bali tetap terdokumentasi. Selama berkarya, ia menghasilkan lebih dari 30 buku yang berisi dongeng, permainan tradisional, lagu anak-anak, hingga cerita rakyat Bali. Beberapa karyanya yang dikenal antara lain Bawang dan Kesuna, Randu dan Sahabatnya, Balingkang, serta Dongeng untuk Presiden.
Melalui buku-buku tersebut, generasi muda dapat mempelajari kembali cerita rakyat Bali yang sebelumnya hanya diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Baca juga: Orang Tua Wajib Tahu! Bukan Cuma Orang Dewasa, Anak-anak Juga Bisa Burnout
Melestarikan Permainan Tradisional
Perhatian Made Taro terhadap budaya tidak hanya berhenti pada dunia dongeng. Ia juga mendokumentasikan sekitar 200 permainan tradisional Bali dan 225 lagu anak-anak Bali.
Menurutnya, permainan tradisional memiliki banyak manfaat karena mengajarkan anak untuk bekerja sama, menghargai teman, bersikap jujur, dan lebih dekat dengan lingkungan sekitar. Upaya tersebut menjadi salah satu kontribusi penting dalam menjaga budaya Bali agar tidak hilang di tengah perkembangan teknologi dan permainan digital.
Baca juga: Brand Fashion Lokal Indonesia Ini Ajak Anak Muda Lebih Dekat dengan Kain Tradisional Indonesia
Dedikasi Made Taro juga membawanya tampil di berbagai kegiatan budaya internasional. Ia pernah menjadi pendongeng dalam festival di Australia, Singapura, Afrika Selatan, dan beberapa negara lainnya.
Dalam setiap kesempatan, ia memperkenalkan kekayaan cerita rakyat, lagu anak-anak, dan permainan tradisional Bali kepada masyarakat dunia. Baginya, budaya Bali layak dikenal secara luas karena memiliki nilai pendidikan yang tinggi.
Menerima Banyak Penghargaan
Atas pengabdiannya selama puluhan tahun, Made Taro menerima berbagai penghargaan, di antaranya Guru Teladan Provinsi Bali, Penghargaan Sastra Rancage, gelar Maestro Tradisi Lisan, Anugerah Kebudayaan dari Presiden Republik Indonesia, hingga Lifetime Achievement Award dari Ubud Writers & Readers Festival.
Baca juga: Apakah Tokoh Odysseus di Film Fantasi The Odyssey Benar Nyata? Ini Jawabannya!
Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa perjuangannya dalam melestarikan budaya mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, baik di tingkat daerah, nasional, maupun internasional.
Bagi Made Taro, dongeng bukan sekadar cerita pengantar tidur. Ia percaya bahwa cerita rakyat dapat menjadi sarana untuk membangun karakter anak sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya daerah.
Hingga akhir hayatnya, ia tetap aktif mendongeng dan mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali tradisi bercerita di lingkungan keluarga. Menurutnya, kebiasaan sederhana itu dapat mempererat hubungan orang tua dan anak sekaligus menanamkan nilai-nilai kehidupan.
Kepergian I Made Taro pada 23 Juli 2026 meninggalkan duka bagi dunia kebudayaan Indonesia. Namun, karya-karya, cerita, dan semangatnya akan terus hidup melalui buku, Sanggar Kukuruyuk, serta ribuan anak yang pernah belajar darinya.
Baca juga: 5 Tokoh Influencer Wanita Sepanjang Sejarah Sebelum Abad ke-21
Bagi generasi muda Bali, sosok Made Taro menjadi contoh bahwa melestarikan budaya dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Dengan menjaga cerita rakyat, permainan tradisional, dan bahasa daerah, warisan budaya Bali akan tetap lestari dan dikenal oleh generasi berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber