Ilustrasi Permainan Tradisional di Bali (happyplayindonesia.com/albab kamil alislami)
BALI - Di tengah pesatnya digitalisasi, anak-anak kini lebih akrab dengan gawai dibandingkan bermain di luar rumah, sehingga pola interaksi sosial pun ikut berubah. Di Bali, kondisi ini berdampak pada semakin terpinggirkannya permainan tradisional yang dulunya menjadi bagian penting kehidupan anak-anak, bahkan kini mulai terlupakan. Padahal, permainan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga merupakan warisan budaya yang mengandung nilai dan filosofi hidup, serta berperan dalam membentuk karakter, keterampilan sosial, dan perkembangan mental anak.
Kemajuan teknologi membawa perubahan besar dalam pola bermain anak. Jika dahulu anak-anak berkumpul di sore hari untuk bermain bersama, kini mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan game digital di dalam rumah. Akibatnya, interaksi sosial langsung semakin berkurang.
Baca juga: 4 Permainan Tradisional Indonesia yang Mulai Jarang Dimainkan, Padahal Seru Banget!
Sejumlah sumber menyebutkan bahwa kondisi ini membuat permainan tradisional semakin jarang dimainkan. Anak-anak cenderung memilih hiburan instan yang ditawarkan gadget, dibandingkan aktivitas fisik yang melibatkan teman sebaya.
Ironisnya, Bali yang dikenal kaya akan budaya justru menghadapi ancaman “mati suri” pada permainan tradisionalnya. Bahkan, seorang pemerhati budaya mencatat bahwa terdapat ratusan jenis permainan tradisional di Bali, namun banyak di antaranya kini sudah tidak lagi dikenal generasi muda.
Permainan tradisional Bali, atau yang dikenal sebagai dolanan atau meplalianan, memiliki beragam bentuk yang unik. Selain menyenangkan, permainan ini juga sederhana karena menggunakan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
1. Meong-Meong
Permainan ini melibatkan banyak anak dan dimainkan secara berkelompok. Satu anak berperan sebagai “meong” (kucing), sementara yang lain menjadi “bikul” (tikus). Anak-anak lainnya membentuk lingkaran sambil bergandengan tangan. Meong bertugas menangkap bikul yang berada di dalam lingkaran. Permainan ini biasanya diiringi lagu khas.
Filosofinya sederhana namun dalam: kerja sama tim, strategi, dan kebersamaan menjadi kunci utama.
Baca juga: Evolusi Permainan Catur: Dari Strategi Kuno hingga Permainan Modern
2. Cagcag
Permainan ini menggunakan bambu sebagai alat utama. Bambu disusun sedemikian rupa dan pemain harus melangkah melewati celahnya tanpa terjepit.
Selain melatih kelincahan, permainan ini juga mengajarkan fokus dan kehati-hatian.
3. Tajog (Egrang)
Permainan berjalan menggunakan bambu dengan pijakan kaki. Anak-anak berlomba menjaga keseimbangan sambil berjalan.
Nilai yang terkandung adalah keberanian, keseimbangan, dan kepercayaan diri.
4. Curik-Curik
Permainan ini menyerupai “pintu jebakan”. Dua anak membentuk gerbang dengan tangan, sementara yang lain berjalan melewati sambil bernyanyi. Saat lagu berhenti, satu anak akan tertangkap.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber