Vihara Dharmayana Temple (Batool Fayaz/30sundays.club)
BALI - Bali selama ini dikenal sebagai “Pulau Seribu Pura” dengan dominasi budaya Hindu yang kuat. Namun di balik identitas tersebut, pulau ini juga menyimpan jejak keberagaman yang hidup berdampingan secara harmonis. Salah satunya tercermin dari keberadaan vihara dan kelenteng sebagai tempat ibadah umat Buddha dan Tri Dharma yang tersebar di berbagai wilayah Bali.
Tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, vihara dan kelenteng di Bali kini juga berkembang menjadi destinasi wisata religi dan eduwisata. Arsitekturnya yang unik, perpaduan budaya Tionghoa dan lokal Bali, serta nilai sejarah panjang menjadikan tempat-tempat ini menarik untuk dikunjungi, bahkan oleh wisatawan non-Buddhis.
Baca juga: Jemaat Vihara Dharma Bakti Lakukan Tradisi Lepas Burung Pipit di Momen Imlek, Ini Maknanya
Jejak Sejarah dan Persebaran Vihara di Bali
Keberadaan vihara di Bali tidak lepas dari sejarah panjang kedatangan masyarakat Tionghoa ke Nusantara, termasuk ke wilayah Bali. Seiring waktu, komunitas ini membangun tempat ibadah yang kemudian berkembang menjadi pusat spiritual sekaligus sosial.
Salah satu vihara tertua di Bali adalah Vihara Dharmayana di Kuta. Tempat ini telah berdiri sejak abad ke-19 dan menjadi saksi hidup interaksi budaya lintas agama di Bali. Vihara ini tidak hanya digunakan oleh umat Buddha, tetapi juga sering dikunjungi masyarakat lokal Hindu yang ikut bersembahyang dengan membawa sesajen khas Bali.
Selain itu, terdapat Klenteng Ling Gwan Kiong di Singaraja yang dibangun pada tahun 1873. Letaknya di kawasan pelabuhan tua Buleleng menunjukkan eratnya hubungan antara perdagangan, migrasi, dan perkembangan tempat ibadah di masa lampau.
Di wilayah Bali utara, terdapat Brahma Vihara Arama yang dikenal sebagai salah satu vihara terbesar dan tertua. Dibangun pada awal 1970-an, vihara ini berdiri di kawasan perbukitan yang tenang dan sering disebut sebagai “miniatur Borobudur” karena kemiripan arsitekturnya.
Sementara itu di Denpasar, Vihara Buddha Sakyamuni menjadi contoh perkembangan vihara modern yang awalnya hanya berupa bangunan sederhana sebelum berkembang menjadi kompleks ibadah yang megah dan ramai dikunjungi umat.
Persebaran vihara ini menunjukkan bahwa Bali bukan hanya pusat budaya Hindu, tetapi juga ruang hidup bagi keberagaman agama yang berkembang secara damai.
Baca juga: Apa Itu Waisak? Mengungkap Makna dan Sejarah di Balik Perayaan Penting Umat Buddha
Salah satu daya tarik utama vihara dan kelenteng di Bali adalah arsitekturnya yang unik. Tidak seperti vihara di daerah lain di Indonesia, bangunan di Bali sering menampilkan perpaduan antara ornamen Tionghoa dan elemen arsitektur khas Bali.
Contohnya terlihat jelas pada Vihara Satya Dharma di Benoa. Vihara ini menampilkan patung naga, warna merah dan emas khas Tionghoa, namun juga dilengkapi pelinggih dan ornamen batu karang yang identik dengan pura di Bali.
Akulturasi ini tidak hanya tampak secara visual, tetapi juga terasa dalam praktik keagamaan. Di beberapa vihara, umat Buddha menggunakan canang (persembahan khas Bali) sebagai bagian dari ritual ibadah. Hal ini menjadi simbol kuat toleransi dan adaptasi budaya yang telah berlangsung lama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber Berita