Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 20 MARET 2026 • 14:40 WIB

Malam Takbiran 2026 di Bali Berlangsung Hening, Bertepatan dengan Nyepi Wujud Toleransi

Malam Takbiran 2026 di Bali Berlangsung Hening, Bertepatan dengan Nyepi Wujud ToleransiIlustrasi Kemenag Akan Menggelar Pawai Obor Takbiran (Alfian Risfil/berita.rri.co.id)

BALI - Suasana malam takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah di Bali tahun ini terasa berbeda dari biasanya. Alih-alih riuh gema takbir yang menggema dari pengeras suara dan iring-iringan kendaraan keliling, malam menyambut Lebaran di Pulau Dewata justru berlangsung dalam nuansa hening, sederhana, dan penuh makna toleransi.

Perbedaan ini bukan tanpa sebab. Tahun 2026 menjadi momen langka ketika malam takbiran bertepatan dengan Hari Raya Nyepi, yakni hari suci umat Hindu yang identik dengan keheningan total selama 24 jam. Kondisi tersebut membuat seluruh aktivitas masyarakat di Bali, termasuk perayaan keagamaan lain, harus menyesuaikan diri dengan aturan Nyepi.

Di berbagai wilayah Bali seperti Denpasar, Badung, hingga Buleleng, umat Islam tetap melaksanakan takbiran, namun dengan cara yang jauh lebih sederhana. Takbir dikumandangkan di dalam masjid dan musala tanpa menggunakan pengeras suara eksternal.

Baca juga: Amalan dan Doa Malam Takbiran Idul Fitri Lengkap yang Bisa Diamalkan

Tidak ada konvoi kendaraan, petasan, ataupun arak-arakan seperti yang lazim ditemukan di daerah lain di Indonesia. Lampu pun digunakan secara terbatas, mengikuti prinsip Nyepi yang melarang cahaya berlebihan.

Kebijakan ini bukan sekadar imbauan, melainkan hasil kesepakatan bersama antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat Bali. Kementerian Agama telah mengeluarkan panduan khusus agar takbiran tetap berjalan tanpa mengganggu umat Hindu yang menjalankan Catur Brata Penyepian.

Dalam panduan tersebut disebutkan bahwa takbiran dilakukan dengan berjalan kaki ke masjid terdekat, tanpa pengeras suara dan tanpa aktivitas yang menimbulkan keramaian. Waktu pelaksanaannya pun dibatasi hingga pukul 21.00 WITA.

Di sisi lain, suasana Bali memang berubah drastis saat Nyepi. Jalan-jalan utama yang biasanya dipadati kendaraan mendadak kosong. Bandara ditutup, lampu-lampu dipadamkan, dan aktivitas masyarakat berhenti total selama 24 jam.

Hari Raya Nyepi sendiri merupakan perayaan Tahun Baru Saka bagi umat Hindu Bali yang diisi dengan refleksi diri, meditasi, serta pengendalian hawa nafsu. Selama periode ini, masyarakat menjalankan empat pantangan utama, yakni tidak menyalakan api atau cahaya terang, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.

Baca juga: 8 Ide Kegiatan Seru di Malam Takbiran 2025, Bisa Dilakukan di Rumah!

Keheningan ini menciptakan suasana yang sangat kontras dengan malam takbiran di daerah lain yang biasanya meriah dan penuh euforia. Namun di Bali, justru dari keheningan itulah muncul nilai yang lebih dalam: penghormatan antarumat beragama.

Pemerintah memastikan bahwa dua perayaan besar ini tetap berjalan dengan aman dan harmonis. Koordinasi dilakukan secara intensif antara aparat keamanan, tokoh adat, serta organisasi keagamaan.

Hasilnya, malam takbiran tetap berlangsung tanpa konflik. Umat Islam dapat beribadah, sementara umat Hindu menjalankan Nyepi dengan tenang. “Kedua perayaan ini bisa berjalan berdampingan dengan saling menghormati,” demikian pernyataan dari pihak Kementerian Agama terkait kondisi di Bali.

Tak hanya itu, pelaksanaan salat Idul Fitri juga disesuaikan. Di beberapa wilayah, salat Id dilakukan setelah Nyepi berakhir, sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Hindu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Malam Takbiran 2026 di Bali Berlangsung Hening, Bertepatan dengan Nyepi Wujud Toleransi

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!