Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 19 MARET 2026 • 14:30 WIB

Tak Sekadar Pawai, Ini Makna Mendalam Tradisi Ogoh-Ogoh di Bali

Tak Sekadar Pawai, Ini Makna Mendalam Tradisi Ogoh-Ogoh di BaliPawai Ogoh-ogoh dalam Perayaan Hari Raya Nyepi (Faozan Tri N/bola.com)

BALI - Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, suasana di berbagai wilayah Bali berubah menjadi lebih semarak dari biasanya. Salah satu tradisi yang paling dinanti masyarakat adalah pawai ogoh-ogoh, sebuah arak-arakan patung raksasa yang identik dengan wujud menyeramkan dan penuh ekspresi dramatis.

Tradisi ogoh-ogoh bukan sekadar tontonan atau atraksi budaya. Di balik bentuknya yang unik dan terkadang menakutkan, tersimpan makna filosofis yang dalam terkait kehidupan spiritual masyarakat Hindu di Bali. Pawai ini menjadi bagian penting dalam rangkaian upacara menjelang Nyepi, khususnya pada malam pengerupukan.

Apa Itu Ogoh-Ogoh?

Baca juga: Momen Ketika Orang Tua Gen Z Punya Anak Ikutan Pawai HUT RI Ke-80 Tahun

Ogoh-ogoh adalah patung atau boneka raksasa yang biasanya dibuat dari bahan ringan seperti bambu, styrofoam, dan kertas. Patung ini dibentuk menyerupai sosok makhluk menyeramkan, seperti raksasa, buta kala, atau makhluk mitologi lainnya.

Dalam kepercayaan Hindu Bali, ogoh-ogoh melambangkan Bhuta Kala, yaitu kekuatan negatif yang ada di alam semesta maupun dalam diri manusia. Sosok ini bukan semata-mata dianggap jahat, melainkan bagian dari keseimbangan alam yang harus dikendalikan.

Pawai ogoh-ogoh biasanya dilakukan secara berkelompok oleh para pemuda banjar atau komunitas adat setempat. Mereka mengarak ogoh-ogoh keliling desa diiringi gamelan baleganjur yang menghentak, menciptakan suasana meriah sekaligus sakral.

Tradisi ogoh-ogoh memiliki tujuan utama sebagai bagian dari ritual penyucian diri dan lingkungan sebelum memasuki Nyepi. Dalam ajaran Hindu Bali, kehidupan harus selalu menjaga keseimbangan antara unsur baik dan buruk.

Melalui pawai ogoh-ogoh, masyarakat secara simbolis “mengumpulkan” energi negatif yang ada di sekitar mereka. Setelah diarak, ogoh-ogoh biasanya dibakar sebagai bentuk penghancuran unsur negatif tersebut.

Baca juga: ALIF Raya Market Hadirkan Market Exhibition Bernuansa Art, Fashion, dan Budaya Islam

Ritual ini berkaitan erat dengan konsep Tri Hita Karana, yang mengajarkan harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Dengan demikian, pawai ogoh-ogoh bukan hanya kegiatan budaya, tetapi juga bentuk refleksi spiritual. Masyarakat diajak untuk membersihkan diri dari sifat-sifat buruk seperti amarah, iri hati, dan keserakahan sebelum memasuki hari Nyepi yang penuh keheningan.

Tradisi ogoh-ogoh pada dasarnya merupakan bagian dari kehidupan umat Hindu di Bali. Namun dalam praktiknya, kegiatan ini melibatkan berbagai lapisan masyarakat, terutama generasi muda.

Para pemuda yang tergabung dalam sekaa teruna (organisasi pemuda adat) biasanya menjadi motor utama dalam pembuatan ogoh-ogoh. Mereka bekerja sama selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk merancang dan membangun patung tersebut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Disbudpar

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Tak Sekadar Pawai, Ini Makna Mendalam Tradisi Ogoh-Ogoh di Bali

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!