BALI - Pergerakan pemudik di Bali pada momentum Lebaran 2026 menunjukkan peningkatan signifikan. Jalur penyeberangan laut hingga akses darat menuju pelabuhan menjadi titik krusial yang dipadati kendaraan, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat yang keluar maupun masuk Pulau Dewata.
Fenomena mudik tahun ini terasa berbeda karena berdekatan dengan perayaan Hari Raya Nyepi. Kondisi tersebut membuat pengaturan transportasi menjadi lebih kompleks, sekaligus berdampak pada lonjakan arus kendaraan dalam waktu yang relatif singkat.
PT ASDP Indonesia Ferry mencatat adanya peningkatan jumlah pemudik di lintasan Jawa–Bali pada tahun ini. Diproyeksikan, jumlah penumpang naik sekitar 10 persen, sementara kendaraan meningkat sekitar 9,3 persen dibandingkan periode sebelumnya. Secara nasional, total pergerakan diperkirakan mencapai sekitar 5,8 juta penumpang dan 1,4 juta kendaraan.
Baca juga: Cerita Ibu Eka Menguatkan Sesama hingga Bisa Mudik Nyaman Bareng PNM
Tak hanya arus dari Jawa ke Bali, pergerakan dari Bali menuju Jawa juga mengalami peningkatan, dengan estimasi pertumbuhan penumpang sekitar 9,5 persen. Hal ini menunjukkan bahwa mobilitas masyarakat di Bali tidak hanya didominasi wisatawan, tetapi juga warga yang melakukan perjalanan mudik ke daerah asal.
Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, operator penyeberangan menambah jumlah armada kapal dari 28 menjadi 32 unit di lintasan Ketapang–Gilimanuk.
Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi dan Gilimanuk di Jembrana kembali menjadi simpul utama arus mudik Bali 2026. Kepadatan kendaraan bahkan sudah terlihat sejak beberapa hari sebelum puncak arus mudik.
Laporan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan mengular panjang, terutama menjelang jadwal penutupan penyeberangan. Kondisi ini dipicu oleh tingginya volume kendaraan yang berusaha menyeberang sebelum layanan dihentikan sementara.
Dalam periode tertentu, aktivitas penyeberangan mencapai ratusan perjalanan kapal dalam sehari. Data posko mencatat hingga 220 trip kapal dalam 24 jam pada masa awal arus mudik, menunjukkan tingginya intensitas layanan yang harus dioperasikan.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi pola mudik tahun ini adalah penutupan sementara layanan penyeberangan saat Hari Raya Nyepi. Pemerintah melalui Surat Keputusan Bersama menetapkan bahwa penyeberangan lintas Ketapang–Gilimanuk ditutup mulai 18 hingga 20 Maret 2026.
Baca juga: Tips Aman Mudik Jarak Jauh bagi Penderita Saraf Kejepit, Jangan Disepelekan
Penutupan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap perayaan Nyepi di Bali, di mana seluruh aktivitas, termasuk transportasi, dihentikan selama 24 jam. Selain lintas Jawa–Bali, penutupan juga berlaku untuk jalur Bali–Lombok melalui Pelabuhan Padang Bai dan Lembar.
Kebijakan ini berdampak langsung pada pola pergerakan pemudik. Banyak masyarakat memilih berangkat lebih awal untuk menghindari penumpukan kendaraan menjelang penutupan.
Berdasarkan prediksi aparat kepolisian dan Kementerian Perhubungan, puncak arus mudik 2026 terjadi dalam dua gelombang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber