BALI - Perayaan tradisi Omed-omedan di Banjar Kaja, Kelurahan Sesetan, Denpasar Selatan, kembali berlangsung meriah melalui gelaran Sesetan Heritage Omed-omedan Festival (SHOF) 2026. Mengusung tema “Toya Prakerti”, festival tahunan ini dilaksanakan bertepatan dengan Hari Ngembak Geni, Jumat (20/3), dan menjadi wadah ekspresi seni sekaligus pelestarian budaya bagi generasi muda.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Sekaa Teruna Teruni (STT) Satya Dharma Kerti dan secara resmi dibuka oleh Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa. Prosesi pembukaan ditandai dengan pemotongan pita serta pemukulan alat musik tradisional di Jalan Sesetan, tepat di depan Banjar Kaja.
Baca juga: Berikan Rasa Aman, Personel Polres Tanjab Barat Siaga Kawal Perayaan Imlek
Sejumlah tokoh turut hadir memeriahkan acara tersebut, di antaranya anggota DPRD Provinsi Bali dan DPRD Kota Denpasar. Kehadiran para pejabat ini menunjukkan dukungan nyata terhadap pelestarian tradisi lokal yang telah menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Sesetan.
Dalam sambutannya, Arya Wibawa memberikan apresiasi atas konsistensi STT Satya Dharma Kerti dalam menjaga keberlangsungan tradisi Omed-omedan melalui SHOF. Ia menilai festival ini tidak hanya sekadar kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyalurkan kreativitas dan inovasi. Menurutnya, keterlibatan pemuda menjadi kunci utama dalam menjaga agar warisan budaya tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Ia juga mendorong para anggota STT untuk terus berinovasi dengan menghadirkan ide-ide segar tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi. Dengan demikian, budaya lokal dapat terus berkembang sekaligus tetap berakar kuat pada kearifan leluhur.
Sementara itu, Ketua Panitia SHOF 2026, Kadek Dhivanny, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan tahun ini diisi dengan berbagai lomba seni, seperti pembuatan tapel ogoh-ogoh dan sketsa ogoh-ogoh. Kompetisi tersebut diharapkan mampu memacu kreativitas generasi muda sekaligus memperkaya nilai artistik dalam tradisi Omed-omedan.
Tak hanya itu, festival ini juga memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal. Sebanyak 68 UMKM turut ambil bagian dengan membuka stan yang menawarkan beragam produk, mulai dari kerajinan tangan hingga kuliner khas. Keterlibatan UMKM ini menjadi bukti bahwa SHOF tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi masyarakat.
Baca juga: Harga Cabai Rawit Merah di Jakarta Menggila Tembus Rp115 Ribu Hari Ini, Cek Daftarnya!
Menginjak penyelenggaraan ke-18, SHOF terus menunjukkan eksistensinya sebagai festival budaya yang dinanti setiap tahun. Tema “Toya Prakerti” yang diangkat kali ini mengandung pesan mendalam tentang pentingnya menjaga air sebagai sumber kehidupan sekaligus bagian dari budaya dan alam.
Melalui tema tersebut, panitia berharap kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, semakin meningkat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Air dan alam, menurut mereka, merupakan warisan berharga yang harus dijaga demi keberlanjutan kehidupan di masa mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemkot Denpasar