Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 23 MARET 2026 • 12:40 WIB

Mengenal Omed-Omedan Sebuah Tradisi Unik dari Bali yang Sarat Makna dan Kebersamaannya

Mengenal Omed-Omedan Sebuah Tradisi Unik dari Bali yang Sarat Makna dan KebersamaannyaTradisi Omed-Omedan di Bali (dini daniswari/kompas.com)

BALI - Salah satu tradisi yang paling menarik perhatian publik, baik wisatawan domestik maupun mancanegara, adalah Omed-Omedan. Tradisi ini kerap disebut sebagai ritual tarik-menarik” atau bahkan secara populer dikenal sebagai festival ciuman”, meskipun penyebutan terakhir sering kali menimbulkan salah tafsir.

Omed-Omedan merupakan tradisi khas masyarakat Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar Selatan. Tradisi ini tidak sekadar atraksi budaya, melainkan memiliki nilai filosofis yang kuat terkait kebersamaan, keharmonisan, serta regenerasi sosial di kalangan generasi muda.

Omed-Omedan dilaksanakan setiap tahun, tepatnya sehari setelah Hari Raya Nyepi, yaitu pada hari Ngembak Geni. Hari ini menjadi momen bagi masyarakat Bali untuk kembali beraktivitas setelah menjalani hari hening selama Nyepi.

Baca juga: Tradisi Pawai Obor di Jambi: Simbol Kemenangan dan Eratnya Tali Silaturahmi Warga

Pada saat Ngembak Geni, masyarakat biasanya saling bermaafan dan mempererat hubungan sosial. Dalam konteks ini, Omed-Omedan hadir sebagai simbol kebangkitan kembali kehidupan sosial setelah keheningan spiritual.

Apa Itu Omed-omedan?

Secara bahasa, “omed-omedan” berasal dari kata “omed” yang berarti tarik-menarik. Dalam praktiknya, tradisi ini memang melibatkan aktivitas tarik-menarik antara dua kelompok, yakni pemuda dan pemudi.

Sejarah tradisi ini diyakini sudah berlangsung sejak abad ke-17. Menurut kisah yang berkembang di masyarakat, tradisi ini bermula dari permainan rakyat di masa Kerajaan Puri Oka di Denpasar Selatan. Kala itu, permainan tarik-menarik yang dilakukan oleh para pemuda berubah menjadi ajang saling rangkul hingga menimbulkan suasana riuh.

Kisah menarik muncul ketika raja yang sedang sakit keluar untuk menghentikan keramaian tersebut. Alih-alih marah, sang raja justru merasa kondisinya membaik setelah menyaksikan permainan itu. Sejak saat itu, ia memerintahkan agar tradisi tersebut dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk ritual dan ungkapan syukur.

Tidak semua orang bisa ikut dalam tradisi Omed-Omedan. Pesertanya dibatasi hanya untuk pemuda dan pemudi yang masih lajang, berusia sekitar 17 hingga 30 tahun, serta merupakan warga Banjar Kaja Sesetan. Mereka biasanya tergabung dalam kelompok pemuda setempat atau sekaa teruna-teruni. Dalam pelaksanaannya, para peserta kemudian dibagi menjadi dua kelompok, laki-laki dan perempuan, yang saling berhadapan untuk mengikuti prosesi utama tradisi ini.

Baca juga: Ternyata Ini Awal Tradisi Sungkem saat Hari Idul Fitri, Benarkh Hanya Ada di Indonesia?

Seperti Apa Pelaksanaan Tradisi Tersebut?

Pelaksanaan tradisi Omed-Omedan tidak dilakukan secara sembarangan. Seluruh rangkaian dijalankan melalui tahapan yang teratur dan sarat makna, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar permainan biasa.

Tradisi diawali dengan persembahyangan bersama di pura. Pada tahap ini, para peserta dan warga memanjatkan doa untuk memohon keselamatan serta kelancaran jalannya kegiatan. Setelah itu, pemuda dan pemudi yang ikut serta mulai dipersiapkan dan dibagi menjadi dua kelompok yang saling berhadapan di jalan utama desa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Mengenal Omed-Omedan Sebuah Tradisi Unik dari Bali yang Sarat Makna dan Kebersamaannya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!