Jumat, 20 FEBRUARI 2026 • 16:50 WIB

Bangli Gaspol Atasi Sampah, Libatkan Sekolah dan Desa Adat Lewat Sentuhan Digital

Author

Pemkab Bangli Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber Lewat Kolaborasi Teknologi dan Kearifan Lokal (adm bangli)

BALI - Pemerintah Kabupaten Bangli menunjukkan keseriusannya dalam membereskan persoalan sampah yang kian kompleks. Lewat pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai sektor, dukungan teknologi informasi, serta penguatan nilai kearifan lokal Palemahan, upaya penanganan sampah kini diarahkan menjadi gerakan bersama, bukan sekadar program seremonial.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam kegiatan sosialisasi dan diseminasi program prioritas pemerintah yang berlangsung di Gedung Bukti Mukti Bakti, Kantor Bupati Bangli, Kamis (19/2). Agenda ini digagas oleh Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Bali dan menyasar berbagai elemen masyarakat, termasuk kalangan pelajar yang dinilai memiliki peran strategis sebagai agen perubahan sekaligus penyampai pesan di era digital.

Baca juga: Kurangi Beban Bantargebang, Pemkot Jakpus Masifkan Pengelolaan Sampah di 100 RW ProKlim

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Kabupaten Bangli, I Nyoman Murditha, menekankan bahwa keberhasilan program lingkungan tidak bisa dilepaskan dari strategi komunikasi yang tepat. Di tengah arus informasi yang serba cepat, kanal digital dan media sosial dinilai menjadi instrumen efektif untuk menyebarkan edukasi sekaligus mendorong partisipasi publik.

Menurutnya, pengelolaan sampah bukan lagi isu teknis semata, tetapi sudah menjadi bagian dari transformasi perilaku masyarakat. Pemerintah daerah kini mendorong pelaporan berbasis digital agar masyarakat bisa ikut mengawasi dan berkontribusi dalam penanganan persoalan sampah di lingkungannya masing-masing.

Ia juga mengingatkan kembali amanat Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 yang mewajibkan pengelolaan sampah berbasis sumber. Artinya, setiap rumah tangga harus mulai memilah sampah sejak dari dapur sendiri organik, non-organik, dan residu. Kebijakan ini bukan sekadar aturan administratif, melainkan bentuk tanggung jawab moral terhadap lingkungan.

Dalam pandangannya, praktik memilah sampah sejatinya adalah wujud aktualisasi nilai Palemahan, salah satu unsur Tri Hita Karana yang menekankan harmoni manusia dengan alam. Mengelola sampah dengan benar berarti menjaga keseimbangan dan menunjukkan rasa syukur atas anugerah lingkungan yang menopang kehidupan masyarakat Bali.

Baca juga: Eco-Enzim. Dari Sampah Dapur Jadi Solusi Hemat untuk Rumah dan Lingkungan

Tak berhenti pada tataran wacana, Pemerintah Kabupaten Bangli juga memetakan sejumlah langkah konkret. Salah satunya adalah mengoptimalkan keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di tingkat desa agar pengolahan bisa dilakukan lebih dekat dengan sumbernya. Dengan sistem ini, volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir diharapkan dapat ditekan secara signifikan.

Selain itu, perhatian khusus juga diberikan pada upaya mencegah sampah mencemari badan air. Mengingat Bali dikenal sebagai daerah dengan sumber air yang menjadi hulu kehidupan, pencemaran sungai dan saluran air menjadi isu serius. Penanganan dari hulu dinilai krusial agar kualitas lingkungan tetap terjaga.

Pendekatan berbasis adat pun tidak ditinggalkan. Pemerintah mendorong desa adat untuk memperkuat peran awig-awig atau aturan adat sebagai instrumen disiplin sosial. Dengan dukungan regulasi adat, warga diharapkan lebih patuh dalam memilah dan mengelola sampah. Sinergi antara kebijakan formal dan norma tradisional diyakini mampu menciptakan efek jangka panjang yang lebih kuat.

Keterlibatan pelajar juga menjadi sorotan penting dalam kegiatan ini. Siswa dari SMP Negeri 1 Bangli dan SMP Negeri 3 Bangli hadir sekaligus diapresiasi atas komitmen mereka menjalankan program Sekolah Hijau. Kedua sekolah tersebut telah aktif melakukan pemilahan sampah dan membangun budaya peduli lingkungan di lingkungan pendidikan.

Baca juga: Tinjau GIK dan Pengelolaan Sampah Terpadu di UGM, Menteri Brian Yuliarto Minta Kampus Fokuskan Hilirisasi Riset

Kehadiran Sekretaris Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Ni Putu Ayu Puryani, yang juga menjadi narasumber, semakin memperkaya diskusi. Ia menekankan pentingnya kesinambungan program agar gerakan peduli lingkungan tidak berhenti di ruang sosialisasi saja, melainkan benar-benar menjadi kebiasaan sehari-hari.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Bangli berharap isu sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai tanggung jawab kolektif. Dari kantor pemerintahan hingga ruang kelas, dari desa adat hingga platform digital, semua diajak bergerak dalam frekuensi yang sama: menjaga Bali tetap lestari.

Dengan kolaborasi lintas sektor, dukungan teknologi, serta penguatan nilai budaya, Bangli berupaya membuktikan bahwa pengelolaan sampah bisa dijalankan secara sistematis dan berkelanjutan. Jika konsisten, langkah ini bukan hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga mewariskan lingkungan yang lebih bersih bagi generasi berikutnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemkab Bangli

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU