BALI - Isu sampah di Kota Denpasar makin jadi perhatian serius, apalagi jelang Ramadhan yang biasanya identik dengan meningkatnya aktivitas masyarakat. Menjawab tantangan itu, Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, turun langsung membuka Workshop Pengelolaan dan Pengolahan Sampah Berbasis Sumber bertajuk “Pengelolaan Sampah Ramadhan Berkah Tanpa Sampah” di Musholla Al-Hikmah Joglo, Padangsambian Klod, Denpasar Barat, Minggu (8/2) pagi.
Acara ini dihadiri perwakilan masjid dan musholla se-Kota Denpasar, serta sejumlah organisasi keagamaan seperti MUI Kota Denpasar, Dewan Masjid Indonesia, PC NU Kota Denpasar, dan elemen organisasi Islam lainnya. Momentum ini dimanfaatkan Pemkot Denpasar untuk menyampaikan kondisi riil pengelolaan sampah yang sedang dihadapi kota.
Dalam sambutannya, Arya Wibawa menegaskan bahwa persoalan sampah bukan sekadar urusan teknis angkut-buang, tapi soal perubahan kebiasaan. Ia menyinggung arahan Presiden RI agar kabupaten/kota di Bali menggelar gerakan serentak penanganan sampah atau dikenal dengan istilah Kurve. Gerakan turun langsung ke lapangan memang penting, namun menurutnya, yang jauh lebih menantang adalah mengubah pola pikir masyarakat agar disiplin memilah dan mengelola sampah dari rumah.
Baca juga: Timbunan Sampah Meningkat, Pemkot Jambi Bentuk Tim Penanganan di Kecamatan
“Gotong royong bisa dilakukan sehari, tapi mengubah kebiasaan itu butuh konsistensi dan komitmen jangka panjang,” kira-kira begitu pesan yang ingin ditegaskan.
Apalagi, mulai 1 Maret 2026, TPA Suwung resmi ditutup. Sementara itu, Denpasar belum memiliki tempat pembuangan akhir dengan kapasitas besar sebagai pengganti. Situasi ini membuat Pemkot harus bergerak cepat dengan berbagai solusi alternatif.
Beberapa langkah yang sudah dijalankan antara lain program teba modern yang kini sudah mencapai 6.000 unit dan akan terus bertambah, pengadaan komposter, serta penguatan pengelolaan sampah berbasis sumber dengan dukungan 24 TPS3R yang tersebar di desa dan kelurahan. Tak berhenti di situ, pada 2026 ini Pemkot juga merencanakan pembangunan tiga TPS3R baru berskala lebih besar di Pemecutan Kaja, Sidakarya, dan Sanur, memanfaatkan lahan hibah dari Pemprov Bali.
Meski begitu, Arya Wibawa mengakui belum semua wilayah bisa terjangkau layanan optimal, terutama kawasan yang belum memiliki TPS3R. Untuk menjawab celah tersebut, Pemkot melakukan pengadaan mesin pengolah sampah dengan kapasitas maksimal 200 ton dan ditargetkan beroperasi penuh pada Mei mendatang. Penambahan kapasitas mesin di sejumlah TPS3R juga akan dilakukan secara bertahap.
Ke depan, Pemerintah Kota bersama Pemerintah Pusat juga menyiapkan proyek Fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Jika terealisasi dan mulai beroperasi paling lambat akhir 2027, fasilitas ini diyakini bisa menjadi game changer dalam sistem pengelolaan sampah Denpasar dan Bali secara umum. Namun, ia menekankan bahwa keberadaan teknologi canggih tetap harus diimbangi kesadaran warga untuk mengelola sampah dari sumbernya.
Di sisi lain, Ketua Yayasan Al Hikmah Joglo, Hj. Nuryadi, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Wawali Denpasar dan dukungan Pemkot terhadap workshop ini. Ia berharap kegiatan yang melibatkan masjid dan musholla se-Denpasar ini bisa menjadi langkah konkret menciptakan lingkungan yang bersih, aman, dan nyaman, khususnya selama Ramadan.
Baca juga: Volume Sampah Malam Tahun Baru 2026 Turun Drastis, Bukti Perayaan Lebih Sadar Lingkungan
Lewat forum keagamaan seperti ini, pesan pengelolaan sampah diharapkan bisa lebih membumi dan masuk ke ruang-ruang ceramah, sehingga gerakan “Ramadhan Tanpa Sampah” bukan sekadar slogan, tapi benar-benar jadi gaya hidup baru warga Denpasar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemkot Denpasar