Selasa, 20 JANUARI 2026 • 12:40 WIB

Alam Berbicara di Sasih Kaulu, Warga Tabanan Diajak Lebih Mawas Diri

Author

Hembusan angin barat yang kian kencang, hujan lebat, serta gelombang tinggi yang terjadi belakangan ini. (tmc/piskp)

BALI - Cuaca belakangan ini yang menyelimuti wilayah Tabanan terbilang ekstrem. Angin barat yang berembus makin kencang, hujan deras hingga gelombang laut tinggi dirasakan cukup signifikan, terutama oleh warga yang tinggal di kawasan pesisir dan area terbuka. Namun bagi masyarakat adat Tabanan, kondisi ini bukan sekadar perubahan cuaca biasa. Fenomena alam tersebut dipercaya sebagai tanda masuknya Sasih Kaulu, salah satu fase penting dalam kalender Bali yang datang menjelang pergantian Tahun Saka.

Baca juga: Demi Keselamatan Penumpang, Dishub DKI Jakarta Terpaksa "Parkirkan" Kapal Cepat ke Kepulauan Seribu Akibat Cuaca Ekstrem

Sejak dulu, Sasih Kaulu dikenal memiliki karakter alam yang “keras”, baik secara kasat mata maupun secara spiritual. Angin barat yang kuat, laut yang bergelora, suhu yang tak menentu, hingga pohon tumbang sudah menjadi pola yang berulang tiap tahunnya. Bagi masyarakat setempat, ini adalah bahasa alam yang mengingatkan manusia untuk lebih waspada, tidak ceroboh, dan tahu batas dalam beraktivitas.

Dalam kearifan lokal Tabanan, Sasih Kaulu dimaknai sebagai masa peralihan. Setelahnya, umat Hindu akan memasuki Sasih Kasanga yang identik dengan rangkaian Bhuta Yadnya dan puncaknya Tawur Kesanga. Alam seolah lebih dulu “membersihkan diri” sebelum manusia diajak masuk ke fase hening dan reflektif saat Hari Raya Nyepi, penanda Tahun Baru Saka.

Baca juga: Cuaca Ekstrem Landa Selayar, Angin Kencang Picu Pohon Tumbang hingga Listrik Padam

Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., menegaskan bahwa kondisi alam di Sasih Kaulu harus disikapi dengan kesadaran bersama. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan risiko cuaca ekstrem, terutama bagi nelayan, petani, dan warga yang beraktivitas di luar ruang.

Menurutnya, kewaspadaan bukan berarti takut berlebihan, tetapi bentuk rasa hormat terhadap alam. Ia juga menekankan pentingnya menjaga harmoni sebagaimana nilai Tri Hita Karana, yang mengajarkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan. Ketika alam memberi sinyal, manusia dituntut untuk lebih bijak dalam bersikap.

Lebih jauh, Sasih Kaulu juga dinilai sebagai momentum refleksi menjelang Nyepi. Tidak hanya soal menjalankan ritual adat, tetapi juga menata ulang pola hidup agar lebih ramah lingkungan dan bertanggung jawab. Dalam konteks perubahan iklim global saat ini, pesan-pesan leluhur justru terasa semakin relevan.

Baca juga: BPBD DIY Himbau Warga Waspada Cuaca Ekstrem Awal 2026, Gunungkidul Paling Risiko

Bagi masyarakat Tabanan, Sasih Kaulu bukan sekadar hitungan bulan dalam kalender adat. Ia adalah pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam. Saat angin barat bertiup kencang dan hujan turun tanpa kompromi, di sanalah manusia diajak untuk kembali mawas diri, menjaga keseimbangan, dan bersiap menyambut Tahun Saka dengan kesadaran baru melalui Nyepi yang penuh makna.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Tmc.tabanankab

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU