BALI - Momen ini terbilang langka, karena tidak setiap hari suci punya energi yang sama. Ada hari tertantu yang rasanya lebih "kena", seperti semesta sedang mengajak kita untuk refleksi dan mendengarkan isi hati kita sendiri.
Baca juga: Nyastra Aksara Bali, Cara Pemkab Tabanan Jaga Budaya di Tengah Zaman Modern
Tumpek Krulut yang bersamaan dengan Purnama Kepitu jadi pertemuan sakral antara kasih sayang dan kesadaran. Dalam Lontar Sundarigama, Tumpek Krulut dimaknai sebagai hari membersihkan rasa atau waktu unutk melembutkan batin dan merawat keindahan jiwa. Hari ini dipersembahkan untuk Bhatara Iswara, simbol kesucian, seni, serta keharmonisan.
Ketika Tumpek Krulut bertemu dengan Purnama Kepitu, maka maknanya semakin dalam. Purnama melambangkan pikiran yang jernih serta hati yang terbuka, sementara Kepitu erat dengan penyembuhan emosi.
Ini juga jadi pengingat soal Sapta Timira, tujuh sisi gelap dalam diri manusia yang harus disadari dan dikendalikan dengan kebijaksanaan.
Di kondisi sekarang, saat bullying, depresi dan bunuh diri terutama di kalangan generasi sekarang yang mengkhawatirkan, maka ini merupakan pesan yang relevan.
Dunia kita ramai, tetapi empati semakin hilang. Banyak anak muda kelihatan kuat di media sosial, padahal sangat rapuh di balik layar sosmed tersebut. Di sinilah Tumpek Krulut jadi penting sebab, kasih sayang bukan hanya perasaan, tapi cara hidup.
Bullying lahir dari ego, sementara keputusasaan muncul dari rasa tidak dicintai. Jadi solusinya bukan sekadar “harus kuat”, tapi hadir dengan empati dan ketulusan. Purnama Kepitu menguatkan pesan ini lewat simbol cahaya dan kesadaran.
Makna Tumpek Krulut dan Purnama Kepitu seharusnya diwujudkan dalam tindakan nyata, seperti mau mendengar tanpa menghakimi, menciptakan ruang aman di rumah dan sekolah, serta mengakui bahwa kesehatan mental adalah bagian dari dharma menjaga kehidupan.
Saat empati tumbuh, kemarahan dan kebencian pelan-pelan meredup. Inilah kondisi batin ideal untuk menekan kekerasan verbal, bullying, dan rasa putus asa. Cahaya kesadaran dan kasih sayang adalah nilai tertinggi dari kunci untuk keluar dari gelapnya batin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemkab Buleleng