BALI - Di tengah hiruk-pikuk konflik dunia yang kerap meninggalkan luka kemanusiaan, ada satu nama yang dikenang sebagai pelopor gerakan bantuan tanpa batas, ialah Henry Dunant. Sosok inilah yang pertama kali menggagas bahwa setiap korban perang berhak mendapat pertolongan, tanpa melihat siapa kawan dan siapa lawan. Dari sebuah peristiwa tragis di medan tempur, lahir ide besar yang kemudian mengubah cara dunia memandang kemanusiaan. Kisahnya bukan hanya tentang sejarah, tetapi juga tentang bagaimana empati mampu melahirkan gerakan global yang bertahan hingga hari ini.
Nama Henry Dunant tercatat dalam sejarah sebagai pelopor gerakan kemanusiaan modern. Lahir di Jenewa, Swiss, pada 8 Mei 1828, Dunant dikenal sebagai aktivis sosial, pengusaha, sekaligus penulis yang memiliki kepedulian tinggi terhadap penderitaan sesama.
Baca juga: 25 Ucapan Selamat untuk Hari Jadi Palang Merah Indonesi (PMI)
Ia tumbuh dalam keluarga religius yang menanamkan nilai kepedulian sosial sejak kecil. Orang tuanya aktif membantu orang miskin, sakit, dan para tahanan. Lingkungan ini membentuk karakter Dunant menjadi pribadi yang peka terhadap penderitaan manusia.
Namun, perjalanan hidupnya berubah drastis ketika ia menyaksikan langsung tragedi perang yang mengerikan di Italia pada pertengahan abad ke-19.
Momen Tragis di Pertempuran Solferino
Peristiwa penting yang mengubah arah hidup Dunant terjadi pada 24 Juni 1859 dalam Pertempuran Solferino di Italia utara.
Saat itu, Dunant sedang dalam perjalanan bisnis untuk bertemu Kaisar Prancis Napoleon III. Namun, ia justru tiba di lokasi perang yang baru saja usai. Apa yang ia lihat jauh dari bayangan, puluhan ribu tentara tergeletak di medan perang, banyak di antaranya terluka parah tanpa perawatan.
Jumlah korban begitu besar hingga tenaga medis tidak mampu menangani semuanya. Banyak prajurit dibiarkan menderita tanpa pertolongan.
Baca juga: Keren! Pria Ini Dapat Piagam Penghargaan dari PMI Setelah Donor Darah 50 Kali
Melihat kondisi tersebut, Dunant tidak tinggal diam. Ia menggerakkan warga sekitar untuk membantu para korban, tanpa membedakan apakah mereka berasal dari pihak kawan atau lawan. Prinsip kemanusiaan menjadi prioritas utama.
Dalam situasi itu, muncul semangat solidaritas yang dirangkum dalam ungkapan “Tutti fratelli” atau “kita semua bersaudara”. Aksi spontan ini menjadi titik awal lahirnya gagasan besar yakni, perlunya organisasi netral yang khusus menangani korban perang.
Sepulang dari Solferino, Dunant tidak melupakan pengalaman tersebut. Ia menuliskannya dalam sebuah buku berjudul A Memory of Solferino (Kenangan dari Solferino) pada tahun 1862.
Dalam buku itu, ia mengajukan dua gagasan penting:
- Dibentuknya organisasi relawan untuk membantu korban perang
- Adanya aturan internasional yang melindungi korban konflik
Gagasan ini mendapat perhatian luas di Eropa. Banyak tokoh politik dan militer mulai mempertimbangkan pentingnya sistem bantuan kemanusiaan yang terorganisir.
Tak lama kemudian, pada tahun 1863, Dunant bersama empat tokoh lainnya membentuk komite yang menjadi cikal bakal International Committee of the Red Cross.
Baca juga: Peristiwa 8 Mei: Lahirnya Pendiri Palang Merah hingga Terbunuhnya Marsinah
Organisasi ini kemudian berkembang menjadi gerakan global yang dikenal sebagai Palang Merah Internasional.
Lahirnya Gerakan Kemanusiaan Dunia
Berdirinya Palang Merah bukan sekadar pembentukan organisasi biasa. Ini adalah tonggak penting dalam sejarah kemanusiaan. Gerakan ini membawa prinsip utama:
- Netral (tidak memihak)
- Tidak diskriminatif
- Fokus pada bantuan kemanusiaan
Palang Merah kemudian hadir di berbagai negara dan menjadi garda terdepan dalam membantu korban perang, bencana alam, dan krisis kemanusiaan lainnya.
Selain itu, gagasan Dunant juga melahirkan Konvensi Jenewa, yang menjadi dasar hukum internasional dalam perlindungan korban perang.
Baca juga: Sherina Munaf Akui Buku Filosofi Teras Bantu Kesehatan Mentalnya Saat Covid: "It's a No Brainer!"
Meski jasanya besar, hidup Dunant tidak selalu berjalan mulus. Ia pernah mengalami kebangkrutan dan sempat hidup dalam kesulitan selama bertahun-tahun.
Namun, pada akhir hayatnya, dunia kembali mengakui jasanya. Pada tahun 1901, ia menerima Penghargaan Nobel Perdamaian pertama dalam sejarah. Penghargaan ini menjadi simbol pengakuan global atas kontribusinya dalam membangun gerakan kemanusiaan.
Dunant wafat pada 30 Oktober 1910 di Swiss. Hingga kini, tanggal kelahirannya, 8 Mei, diperingati sebagai Hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional.
Baca juga: Fakta Sejarah Hari Kesehatan Dunia: Mengapa 7 April dan Siapa Tokoh yang Menginspirasi?
Lebih dari sekadar pendiri organisasi, Henry Dunant meninggalkan warisan nilai yang tetap relevan hingga hari ini.
Di tengah konflik dan krisis global, prinsip yang ia perjuangkan menolong tanpa memandang pihak menjadi fondasi penting dalam dunia kemanusiaan.
Palang Merah kini hadir di hampir seluruh negara dengan jutaan relawan yang meneruskan semangatnya.
Dari satu pengalaman tragis di medan perang, lahirlah gerakan yang menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia. Bapak Palang Merah Sedunia adalah Henry Dunant. Ia bukan hanya pendiri organisasi, tetapi juga pelopor nilai kemanusiaan universal.
Baca juga: Siapa Sebenarnya Semar? Ini Asal-Usul dan Makna Tokoh Legendaris Mitologi Jawa
Peristiwa tragis di Pertempuran Solferino menjadi titik balik yang menggerakkan hatinya untuk menciptakan sistem bantuan global yang netral dan tanpa diskriminasi. Kisah Dunant menunjukkan bahwa perubahan besar dalam sejarah bisa lahir dari empati terhadap penderitaan manusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber