Jumat, 20 FEBRUARI 2026 • 12:55 WIB

Doa Buka Puasa Sesuai Hadis: Arab, Latin, Arti dan Adab Sunnah

Author

Ilustrasi Doa Buka Puasa Sesuai Hadis Arab, Latin, Arti dan Adab Sunnah (Chat GPT)

BALI - Menjelang azan Magrib berkumandang, suasana biasanya berubah drastis. Aktivitas yang semula terasa berat karena lapar dan dahaga mendadak digantikan oleh rasa lega dan syukur. Bagi umat Islam, momen berbuka puasa bukan hanya soal makan dan minum, tetapi juga momentum spiritual yang sarat makna. Salah satu praktik yang lazim dilakukan adalah membaca doa berbuka puasa tradisi yang berakar dari hadis Nabi Muhammad SAW serta diwariskan dalam berbagai riwayat keilmuan Islam. 

Namun, di tengah masyarakat, bacaan doa berbuka sering dipahami secara sederhana tanpa mengetahui latar belakang riwayatnya. Padahal, literatur hadis menunjukkan adanya beberapa versi doa yang memiliki perbedaan redaksi, tingkat kekuatan sanad, serta waktu pembacaan. Memahami hal ini penting agar ibadah dilakukan dengan dasar pengetahuan, bukan sekadar kebiasaan turun-temurun.

Salah satu bacaan doa berbuka yang paling dikenal di Indonesia berbunyi sebagai berikut:

Tulisan Arab:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

Latin:
Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu

Artinya:
“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”

Baca juga: Doa Buka Puasa Ramadhan: Bacaan Arab, Latin, dan Artinya Lengkap

Doa ini dinisbatkan pada hadis riwayat Abu Dawud.

Dalam praktik sehari-hari, masyarakat sering menambahkan lafaz seperti wa bika aamantu atau birahmatika yaa arhamar rahimin. Penambahan tersebut tidak ditemukan dalam riwayat utama hadis, tetapi tetap dianggap sebagai doa tambahan yang diperbolehkan selama tidak diyakini sebagai teks hadis baku.

Versi panjang yang sering diajarkan berbunyi:

Latin:
Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar rahimin

Artinya:
“Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”

Maknanya menegaskan bahwa ibadah puasa merupakan wujud pengabdian kepada Allah dan pengakuan bahwa rezeki berbuka berasal dari-Nya.

Selain doa di atas, ada bacaan lain yang juga dikenal luas:

Tulisan Arab:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Latin:
Dzahabazh-zhama’u wabtalatil-‘uruqu wa tsabatal-ajru insya Allah

Artinya:
“Rasa dahaga telah hilang, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah.”

Baca juga: Catat! Disdik DKI Jakarta Ubah Jam Sekolah Selama Ramadhan, Siswa Boleh Pulang Jam 2 Siang

Doa ini bersumber dari hadis yang diriwayatkan dalam kitab Sunan Abu Dawud.

Makna kalimatnya menunjukkan bahwa puasa telah selesai dan disyukuri, sehingga biasanya dibaca setelah minum atau makan pertama saat berbuka.

Selain itu, terdapat doa lain yang dianjurkan sebagian ulama, misalnya permohonan ampun dengan memohon rahmat Allah, bersumber dari riwayat sahabat Abdullah bin ‘Amr yang tercatat dalam hadis Ibnu Majah.

Perbedaan redaksi doa berbuka puasa tidak lepas dari variasi riwayat hadis yang sampai kepada ulama. Sebagian riwayat menyebutkan doa “Allahumma laka shumtu” dengan kualitas sanad yang diperdebatkan atau dianggap lemah oleh sebagian ahli hadis, sementara sebagian ulama lain tetap membolehkan penggunaannya sebagai doa.

Di sisi lain, doa “Dzahabazh-zhama’u…” memiliki riwayat yang dinilai lebih kuat menurut sebagian penilaian hadis. Hal ini memunculkan diskusi akademik tentang mana yang lebih utama.

Namun, dalam praktik fikih, banyak ulama memilih pendekatan moderat dengan menggabungkan riwayat-riwayat tersebut. Pendekatan ini menekankan bahwa doa adalah bentuk ibadah yang fleksibel, sehingga tidak perlu memperuncing perbedaan redaksi selama maknanya benar dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Baca juga: Rekomendasi Spot Ngabuburit di Limboto: Menara Keagungan dan Pasmolim yang Instagramable

Perbedaan riwayat juga memengaruhi praktik waktu membaca doa. Secara umum, panduan yang banyak dirujuk adalah:

  • Sebelum berbuka: membaca basmalah dan niat syukur.
  • Saat membatalkan puasa: minum air atau makan kurma.
  • Setelah berbuka: membaca doa seperti “Dzahabazh-zhama’u…”.

Panduan ini didasarkan pada kajian hadis dan kitab fikih yang menyebutkan bahwa doa berbuka dibaca setelah puasa benar-benar batal, sesuai makna kalimatnya yang menunjukkan tindakan telah selesai.

Meskipun demikian, membaca doa sebelum makan tetap diperbolehkan sebagai bentuk adab dan pengharapan berkah.

Selain itu, waktu berbuka dianggap sebagai salah satu momen mustajab untuk berdoa karena doa orang berpuasa diyakini memiliki peluang dikabulkan.

Adab Berbuka Puasa Sesuai Sunnah

Selain doa, Nabi Muhammad SAW juga mencontohkan beberapa etika berbuka yang menjadi pedoman hingga kini. Di antaranya:

  • Menyegerakan berbuka ketika matahari terbenam
    Tidak menunda berbuka merupakan anjuran agar mengikuti sunnah dan menjaga kesehatan.
  • Membaca basmalah sebelum makan
    Ini menjadi bagian adab makan dalam Islam.
  • Mendahulukan kurma atau air putih
    Nabi biasa berbuka dengan kurma segar, kurma kering, atau seteguk air jika tidak ada kurma.
  • Berdoa pada waktu berbuka
    Momen ini diyakini sebagai saat yang baik untuk memohon hajat.
  • Tidak makan berlebihan
    Kesederhanaan saat berbuka membantu menjaga kekhusyukan ibadah berikutnya seperti salat Magrib.

Dalam perspektif keagamaan, doa berbuka bukan sekadar rangkaian kata Arab yang dihafal. Ia mencerminkan kesadaran bahwa ibadah puasa adalah proses spiritual dari menahan diri hingga bersyukur saat memperoleh rezeki. Bahkan hadis menyebutkan bahwa orang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: saat berbuka dan saat bertemu Tuhannya kelak.

Baca juga: Resmi dibuka Sore Ini, Semarak Pembukaan Kampung Ramadhan Jogokariyan 1447 H diawali Mendoakan Alm Muhammad Jazir Hingga diingatkan Jaga Kebersihan

Makna ini menunjukkan bahwa berbuka bukan hanya mengakhiri rasa lapar, tetapi juga meneguhkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta melalui rasa syukur.

Perbedaan riwayat doa berbuka puasa sebenarnya mencerminkan kekayaan tradisi keilmuan Islam. Ada doa yang populer karena diwariskan dalam budaya masyarakat, ada pula doa yang dianggap lebih kuat dari sisi hadis. Namun pada akhirnya, inti dari berbuka puasa tetap sama: mensyukuri nikmat, mengikuti sunnah Rasulullah, serta menjadikan momen tersebut sebagai ruang mendekatkan diri kepada Allah.

Dengan memahami teks Arab, transliterasi, arti, serta latar belakang riwayatnya, umat Muslim dapat menjalankan ibadah berbuka dengan lebih sadar dan bermakna. Di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat, jeda singkat menjelang tegukan air pertama saat Magrib bisa menjadi pengingat bahwa spiritualitas tidak pernah kehilangan relevansinya selama manusia masih merasakan lapar, haus, dan kebutuhan untuk bersyukur.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dari Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU