BALI - Memasuki bulan Ramadhan biasanya identik dengan alarm sahur yang brutal, chat keluarga yang mendadak religius, sampai timeline medsos yang berubah jadi penuh quotes islami. Tapi sebelum semua ritual itu jalan, ada satu hal basic yang sering dianggap sepele padahal krusial banget yaitu niat puasa.
Kalau dianalogikan pakai bahasa sehari-hari, niat itu bukan sekadar formalitas atau template bacaan yang dihafal tiap tahun. Ini semacam tombol “activate mode ibadah”. Tanpa itu, puasa bisa saja berubah cuma jadi aktivitas menahan lapar, bukan ibadah yang bernilai spiritual.
Dalam kajian fikih, para ulama sepakat bahwa niat termasuk bagian inti yang menentukan sah atau tidaknya puasa. Esensinya bukan pada seberapa fasih melafalkan teks Arab, tapi pada kesadaran dalam hati bahwa seseorang benar-benar berniat menjalankan ibadah karena Allah. Jadi sebenarnya, niat itu lebih soal mindset daripada sekadar bunyi lafaz.
Namun di masyarakat khususnya di Indonesia, membaca niat tetap jadi kebiasaan yang dilestarikan. Selain sebagai pengingat spiritual, ini juga jadi bagian dari tradisi keluarga dan pendidikan agama sejak kecil. Maka nggak heran kalau setiap Ramadan, teks niat selalu kembali viral.
Versi yang paling familiar biasanya dibaca tiap malam sebelum puasa esok hari.
Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hadzihis sanati lillāhi ta‘ālā.
Arti:
“Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadan tahun ini karena Allah Ta’ala.”
Praktik membaca niat setiap malam ini banyak diikuti karena sejalan dengan pandangan mazhab Syafi’i mazhab yang dominan dianut Muslim Indonesia. Dalam perspektif ini, tiap hari puasa dianggap ibadah yang berdiri sendiri, jadi niatnya juga diulang setiap hari.
Biasanya orang membaca niat ini setelah tarawih, sebelum tidur, atau sekalian saat sahur. Intinya sebelum waktu subuh masuk.
Ada juga opsi niat yang dibaca sekali di awal Ramadan untuk satu bulan penuh. Ini merujuk pada pandangan mazhab Maliki yang menganggap puasa Ramadan sebagai satu rangkaian ibadah utuh.
Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma jami‘i syahri Ramadhāni hadzihis sanati fardhan lillāhi ta‘ālā.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber