Kemenag Pantau Hilal Ramadhan 2026 di 96 Lokasi (putra/infonasional.com)
BALI - Setiap menjelang Ramadhan, ada satu momen yang selalu dinanti umat Islam di Indonesia yakni, penentuan awal puasa. Di balik pengumuman resmi pemerintah, ada proses panjang yang melibatkan ilmu astronomi, pengamatan langsung, dan koordinasi lintas daerah. Proses itu dikenal dengan pemantauan hilal, dan Bali menjadi salah satu wilayah yang rutin terlibat lewat titik-titik pantau yang sudah ditetapkan secara resmi.
Meski Bali dikenal sebagai daerah dengan mayoritas penduduk non-Muslim, peran Pulau Dewata dalam pemantauan hilal tetap strategis. Letaknya yang menghadap langsung ke laut lepas, khususnya di wilayah selatan, membuat Bali memiliki sudut pandang langit barat yang ideal untuk mengamati kemunculan bulan sabit pertama.
Apa Itu Titik Pantau Hilal?
Titik pantau hilal adalah lokasi khusus yang digunakan untuk mengamati hilal, yakni bulan sabit muda yang muncul pertama kali setelah terjadinya ijtimak atau konjungsi bulan dan matahari. Dalam kalender Hijriah, kemunculan hilal menjadi penanda dimulainya bulan baru, termasuk Ramadhan, Syawal, dan Zulhijjah.
Baca juga: Mengapa Titik Pantau Hilal Banyak Berada di Pantai dan Dataran Tinggi? Ini Alasannya
Pemantauan hilal dilakukan melalui metode rukyatul hilal, yaitu pengamatan langsung terhadap posisi bulan di ufuk barat sesaat setelah matahari terbenam. Metode ini biasanya dipadukan dengan perhitungan astronomi atau hisab untuk memastikan posisi dan kemungkinan visibilitas hilal. Hasil pengamatan dari berbagai titik di Indonesia kemudian menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat yang digelar Kementerian Agama RI.
Untuk wilayah Bali, Kementerian Agama RI menetapkan Pantai Patra Jasa, Kuta Selatan, Kabupaten Badung sebagai lokasi utama pemantauan hilal. Lokasi ini dipilih karena memiliki pandangan terbuka ke arah barat tanpa banyak penghalang seperti gedung tinggi atau kontur pegunungan.
Pantai Patra Jasa menghadap langsung ke Samudra Hindia, sehingga garis ufuk laut terlihat jelas saat matahari terbenam. Kondisi ini sangat mendukung proses rukyatul hilal, terutama pada menit-menit krusial setelah sunset, ketika hilal berpotensi muncul dalam waktu yang sangat singkat.
Dalam praktiknya, pemantauan di Bali melibatkan tim gabungan dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, Pengadilan Agama, BMKG, organisasi kemasyarakatan Islam, serta para ahli falak. Kehadiran berbagai unsur ini bertujuan memastikan hasil pengamatan bersifat objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pemantauan hilal tidak dilakukan setiap hari, melainkan hanya pada waktu-waktu tertentu, yakni menjelang pergantian bulan Hijriah. Untuk penentuan awal Ramadan, pemantauan biasanya dilakukan pada tanggal 29 bulan Syakban.
Sebagai contoh, pada penentuan awal Ramadan 1446 Hijriah, pemantauan hilal dilaksanakan pada Jumat, 28 Februari 2025, bertepatan dengan agenda nasional sidang isbat. Pada hari tersebut, secara astronomi telah terjadi ijtimak di pagi hari, sehingga secara teori hilal sudah berpotensi muncul saat matahari terbenam.
Pemantauan dilakukan menjelang dan sesaat setelah matahari tenggelam. Tim pengamat biasanya sudah bersiap sejak sore hari, menunggu waktu yang telah dihitung berdasarkan data astronomi. Jika hilal berhasil terlihat, laporan langsung disampaikan ke pusat. Jika tidak terlihat karena faktor cuaca atau kondisi atmosfer, hasil tersebut juga tetap dicatat sebagai bagian dari data nasional.
Jadwal pemantauan hilal di Bali mengikuti ketetapan Kementerian Agama RI yang berlaku secara nasional. Selain penentuan awal Ramadan, pemantauan juga dilakukan untuk awal Syawal (Idulfitri) dan Zulhijjah (Iduladha).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber