Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 30 APRIL 2026 • 14:40 WIB

Mengenal Tempat Ibadah Konghucu di Bali Beserta Sejarahnya yang Jadi Simbol Toleransi Antar Budaya

Mengenal Tempat Ibadah Konghucu di Bali Beserta Sejarahnya yang Jadi Simbol Toleransi Antar BudayaKlenteng Caow Eng Bio, Jl. Segara Ening No.14, Benoa, Kec. Kuta Sel., Kabupaten Badung, Bali 80361, Indonesia. (wanderboat.ai)

BALI - Di dominasi pura dan tradisi lokal, terdapat jejak panjang komunitas Tionghoa yang turut membentuk wajah sosial dan spiritual pulau ini. Salah satu bukti paling nyata adalah keberadaan kelenteng tempat ibadah umat Konghucu yang tersebar di sejumlah titik strategis dan menjadi bagian dari lanskap heritage Bali.

Kelenteng-kelenteng tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat sembahyang, tetapi juga sebagai penanda sejarah migrasi, akulturasi budaya, serta simbol toleransi yang telah berlangsung berabad-abad. Dalam konteks wisata, bangunan ini kini berkembang menjadi destinasi heritage yang menawarkan pengalaman spiritual sekaligus estetika arsitektur khas Tiongkok.

Baca juga: Sering Disangka Sama, Ini Perbedaan Wihara dan Kelenteng

Jejak Awal Kedatangan Komunitas Tionghoa

Sejarah mencatat bahwa hubungan antara Bali dan Tiongkok telah terjalin sejak masa perdagangan maritim Nusantara. Para pedagang dari Tiongkok datang melalui jalur laut dan menetap di beberapa wilayah pesisir Bali. Akulturasi ini bahkan berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan meninggalkan jejak berupa kelenteng-kelenteng tua yang masih berdiri hingga kini.

Salah satu kelenteng tertua di Bali adalah Kelenteng Caow Eng Bio yang diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1548. Keberadaannya menjadi bukti kuat bahwa komunitas Tionghoa sudah lama berakar di Bali, jauh sebelum pariwisata berkembang pesat seperti sekarang.

Selain itu, kawasan pelabuhan seperti Benoa dan Singaraja menjadi titik penting masuknya pendatang Tionghoa. Dari sinilah komunitas berkembang dan membangun tempat ibadah yang kemudian menjadi pusat kegiatan sosial dan budaya.

Berikut beberapa kelenteng penting di Bali yang dapat dijadikan rujukan wisata sekaligus ruang refleksi toleransi:

Baca juga: Cara Mengucapkan Salam 5 Agama Saat Membuka Sambutan, Mencerminkan Semangat Toleransi

1. Kelenteng Caow Eng Bio
Kelenteng ini dikenal sebagai salah satu yang tertua di Bali. Arsitekturnya mencerminkan gaya Tiongkok klasik dengan atap melengkung, warna merah mencolok, serta ornamen naga yang menghiasi bagian atap dan pintu. Lokasinya yang dekat kawasan wisata Nusa Dua menjadikannya mudah diakses wisatawan.

2. Kelenteng Po An Kiong
Terletak di kawasan Pelabuhan Benoa, kelenteng ini menjadi simbol kuat akulturasi budaya. Di dalam kompleksnya terdapat elemen khas Hindu Bali seperti padmasana, berdampingan dengan altar Tionghoa. Hal ini menunjukkan bagaimana tradisi lokal dan Tionghoa saling beradaptasi dalam satu ruang ibadah.

3. Kelenteng Ling Gwan Kiong
Didirikan pada tahun 1873, kelenteng ini menjadi salah satu pusat spiritual komunitas Tionghoa di Bali utara. Hingga kini, tempat ini masih aktif digunakan untuk perayaan Imlek dan ritual keagamaan lainnya.

Baca juga: Kisah Ed Gein, Sosok Perampok Makam yang Kuburannya Jadi Tempat Wisata: Insipirasi Pembunuh Berantai di Fiksi

4. Kelenteng Sing Bie
Kelenteng ini unik karena memadukan unsur pemujaan Konghucu dan Hindu dalam satu kompleks. Bahkan terdapat ruang pemujaan Siwa-Buddha yang menunjukkan betapa cairnya batas antar tradisi di Bali.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Mengenal Tempat Ibadah Konghucu di Bali Beserta Sejarahnya yang Jadi Simbol Toleransi Antar Budaya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!