Toko Krisna Oleh-oleh Bali (Gea Yustika/orami.co.id)
BALI - Fenomena berburu oleh-oleh ini sebenarnya bukan sekadar budaya wisata modern. Banyak sumber wisata menyebut belanja buah tangan menjadi bagian penting pengalaman perjalanan karena memberi kesempatan membawa pulang rasa, aroma, atau karya lokal dari destinasi yang dikunjungi. Bali sendiri punya keunggulan karena pilihan oleh-olehnya sangat variatif dari makanan khas sampai kerajinan UMKM yang sarat identitas budaya.
Kalau ngomongin kategori makanan, satu nama hampir pasti muncul duluan adalah pie susu. Kue mungil bertekstur renyah dengan isian susu legit ini sudah lama jadi ikon oleh-oleh Bali. Hampir semua toko souvenir menjualnya, dari pusat belanja besar sampai toko kecil pinggir jalan. Harga yang relatif ramah di kantong membuatnya cocok buat diborong dalam jumlah banyak biasanya berkisar puluhan ribu rupiah per kotak tergantung merek dan ukuran. Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan yakni daya tahannya tidak terlalu lama. Umumnya pie susu hanya aman disimpan sekitar kurang dari seminggu di suhu ruang, jadi strategi terbaik adalah membelinya mendekati hari kepulangan.
Baca juga: Bingung Cari Buah Tangan? Ini 5 Surga Oleh-Oleh Khas Jakarta yang Wajib Kamu Singgahi!
Baca juga: Omah Lombok Batu Layar, Surga Oleh-Oleh Khas Lombok Harga Ramah di Kantong!
Kerajinan tangan lokal punya daya tarik yang sama kuatnya. Tas rotan, ukiran kayu, dekorasi rumah, hingga perhiasan perak handmade menjadi bukti kreativitas pengrajin setempat. Produk seperti ini tidak hanya awet bertahun-tahun, tapi juga punya nilai budaya yang membuatnya terasa lebih personal dibanding souvenir mass-produced. Banyak wisatawan sengaja mengunjungi pasar seni tradisional atau desa pengrajin untuk mendapatkan barang unik sekaligus mendukung ekonomi lokal.
Soal lokasi berburu oleh-oleh, opsinya cukup fleksibel. Ada pusat souvenir modern dengan konsep one-stop shopping bagi yang ingin praktis semua ada dalam satu gedung. Tapi buat yang suka pengalaman belanja lebih autentik, pasar seni dan area tradisional menawarkan sensasi tawar-menawar sekaligus kesempatan menemukan barang handmade dengan karakter lebih kuat. Bahkan ada juga wisatawan yang memilih belanja mendekati waktu pulang di toko sekitar bandara demi efisiensi.
Dari sisi harga, variasinya cukup lebar. Camilan sederhana bisa didapat dengan biaya sangat terjangkau, sementara kopi premium atau kerajinan perak tentu membutuhkan budget lebih besar. Fleksibilitas inilah yang membuat oleh-oleh Bali bisa diakses hampir semua kalangan wisatawan, baik backpacker maupun traveler kelas nyaman. Pie susu: Rp25k–150k, Pia Legong: Rp125k–150k, Kacang disco: Rp20k–34k, Kopi Bali: Rp50k–500k, Sambal/bumbu: Rp20k–100k, Bagiak: harga bervariasi, tahan lama hingga 3 bulan.
Pada akhirnya, membawa oleh-oleh bukan sekadar checklist terakhir sebelum meninggalkan pulau. Lebih dari itu, ini adalah cara memperpanjang pengalaman perjalanan. Ketika keluarga mencicipi camilan yang dibawa, atau ketika tas rotan dipakai sehari-hari, cerita liburan seakan ikut hidup kembali. Oleh-oleh menjadi salah satu barang wajib ketika datang ke suatu tempat wisata, bukan hanya barang, tetapi juga membawa memori.
Baca juga: Jangan Pulang Tanpa Ini! Oleh-Oleh Khas Maluku Utara dari Morotai, Taliabu hingga Ternate
Jadi sebelum benar-benar menutup koper dan check-out dari penginapan, luangkan waktu untuk memilih buah tangan yang tepat. Entah itu makanan manis, kopi aromatik, atau kerajinan artistik, masing-masing punya cara sendiri untuk merepresentasikan Bali. Karena pada akhirnya, pulang dari liburan tanpa oleh-oleh itu mungkin bisa saja, tapi rasanya seperti ada satu bab cerita yang belum selesai ditulis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber