Gajah rupanya bisa menyelamatkan bumi. (detik.com/sulsel)
BALI - Tahun Caka 1948, di saat dunia semakin sibuk mengejar pembangunan, tanpa sadar hutan terus dikorbankan. Yang kita sebut “kemajuan”, justru pelan-pelan merobohkan pelindung alami yang selama ini jaga kehidupan kita.
Bangunan megah yang berdiri di atas bekas hutan itu sebenarnya cuma ilusi. Di baliknya, ada keserakahan yang mengambil hak hidup banyak makhluk buat hidup bebas di alamnya sendiri.
Saat rimba makin menipis, hadir sosok Penjaga Agung. Bukan untuk merusak, tapi untuk merawat. Setiap langkahnya jadi simbol pemulihan, menyimpan air hujan, menenangkan tanah yang terluka, dan memberikan harapan untuk alam yang kehausan.
Sekarang, kita menjadi saksi. Bahwa, hijau hutan berubah menjadi abu-abu. Udara terasa berat, terhimpit gedung-gedung beton yang dingin dan tak bernyawa.
Baca juga: Seni Bernapas di Tengah Alam: Dua Patung Baru Teguh Ostenrik Hiasi Savyavasa
Kehadirannya mengingatkan kita satu hal penting yakni, kekuatan sejati bukan soal menaklukkan, tapi melindungi. Menjaga setiap kehidupan yang masih berdenyut di bumi ini.
Karya ini lahir dari kepedulian terhadap alam dan satwa liar yang kini harus bertahan di tengah sisa-sisa peradaban manusia.
Jadikan karya ini sebagai pengingat untuk tetap melestarikan tradisi, tanpa lupa tanggung jawab utama kita, yaitu untuk menjaga alam kita.
Dan ingat pesan ini baik-baik: G.A.J.A.H Ganggu Alam Jadi Ancaman Hidup!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instragram/@stysbtainsiat