Penilaian Ogoh-Ogoh Zona 5 di Dalung, Kreativitas Pemuda Badung Angkat Filosofi Bhuta Ingkel Manuk
BALI - Kreativitas generasi muda di Desa Dalung kembali mendapat perhatian dalam kegiatan penilaian ogoh-ogoh Zona 5 yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yakni Kamis hingga Jumat, 19–20 Februari 2026, dengan lokasi penilaian yang tersebar di berbagai banjar di wilayah Desa Dalung.
Penilaian ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1948, sekaligus wadah bagi generasi muda untuk menampilkan kreativitas mereka dalam berkarya seni ogoh-ogoh yang sarat dengan nilai filosofis dan budaya Bali.
Dalam pelaksanaannya, tim juri yang ditugaskan langsung oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung terdiri dari tiga orang juri, yakni I Wayan Wartawan, I Made Suwanta, dan I Komang Agus Wiweka. Sementara itu, kegiatan penilaian turut didampingi oleh I Putu Indra Kusuma Wijaya sebagai pendamping dari dinas terkait.
Baca juga: Hotel di Malang Dekat Pusat Kota yang Menawarkan Pengalaman Sejarah dan Budaya Tak Terlupakan
Kedatangan tim juri disambut langsung oleh para pemuda dari masing-masing banjar yang tergabung dalam sekaa teruna teruni. Turut hadir pula Ketua Sabha Yowana Desa Adat Dalung, Gede Arya Putra Pratama, serta Ketua Yowana Prasada Amerta Desa Adat Padang Luwih, I Gusti Ngurah Dwipayana. Kehadiran para tokoh pemuda ini menunjukkan besarnya peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan tradisi seni ogoh-ogoh di wilayah tersebut.
Kegiatan penilaian ogoh-ogoh ini tidak hanya bertujuan menentukan karya terbaik, tetapi juga memberikan ruang evaluasi dan apresiasi bagi para pembuat ogoh-ogoh. Melalui proses penilaian tersebut, para juri memberikan masukan yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas karya seni para pemuda di masa mendatang.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program pemerintah daerah dalam upaya melestarikan seni dan budaya Bali. Dengan adanya penilaian ini, sekaa teruna diharapkan semakin termotivasi untuk menghadirkan ogoh-ogoh yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki nilai filosofi yang kuat dan relevan dengan ajaran budaya Bali.
Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan ini juga bertujuan menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya lokal serta memperkuat kebersamaan antar generasi muda. Semangat kompetisi yang sehat diharapkan mampu memicu lahirnya ide-ide baru dan inovasi dalam pembuatan ogoh-ogoh setiap tahunnya.
Salah satu karya yang mencuri perhatian dalam penilaian tersebut adalah ogoh-ogoh bertema Bhuta Ingkel Manuk. Sosok ini menggambarkan representasi Bhuta Kala yang melambangkan ketidakseimbangan batin manusia akibat pelanggaran terhadap tatanan kosmis.
Dalam pemahaman ajaran Hindu Bali, Bhuta tidak selalu dimaknai sebagai kekuatan jahat. Sebaliknya, Bhuta dipandang sebagai energi alam yang muncul ketika hubungan antara manusia, alam, dan dharma tidak berada dalam kondisi seimbang. Oleh karena itu, simbol Bhuta Kala dalam ogoh-ogoh sering digunakan sebagai pengingat bagi manusia untuk menjaga harmoni kehidupan.
Salah satu anggota Sekaa Teruna Yowana Eka Dharma, Aditya, menjelaskan bahwa konsep Ingkel dalam ogoh-ogoh tersebut menggambarkan kondisi ketika manusia melanggar batas atau pantangan dalam pikiran maupun perbuatannya. Ketika pelanggaran itu terjadi, keseimbangan kehidupan akan terganggu dan melahirkan energi destruktif yang diwujudkan melalui simbol Bhuta Kala.
Ia menambahkan bahwa unsur “Manuk” atau burung dalam konsep tersebut memiliki makna tersendiri. Burung pada dasarnya melambangkan kebebasan dan kesadaran jiwa. Namun dalam konteks hari atau wuku Ingkel Manuk, masyarakat diingatkan untuk tidak melakukan tindakan yang berkaitan dengan menyakiti atau mengeksploitasi burung secara berlebihan, seperti berburu atau menyembelih unggas.
Menurutnya, pesan utama dari filosofi tersebut adalah mengajarkan manusia untuk menghormati siklus alam dan menjaga hubungan harmonis dengan lingkungan. Nilai ini selaras dengan konsep Tri Hita Karana yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Bali, yakni menjaga keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam.
Melalui kegiatan penilaian ogoh-ogoh ini, kreativitas generasi muda tidak hanya diwujudkan dalam bentuk karya seni, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya yang mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga keseimbangan hidup dan menghormati warisan tradisi Bali.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemkab Badung
