Jumat, 27 FEBRUARI 2026 • 13:15 WIB

Setelah 10 Tahun Vakum, Jegog Suar Agung Kembali Guncang Jepang

Author

Pecah!! 10 Tahun Vakum, Dentuman Jegog Suar Agung Kembali Guncang Jepang (Humas Jembrana)

BALI - Dentuman bambu raksasa khas Jembrana kembali menggema di Negeri Sakura. Setelah vakum hampir satu dekade, Sekaa Jegog Suar Agung akhirnya kembali menyapa publik Jepang lewat pementasan pembuka tur budaya di Toyota City, Kamis (19/2) malam. Penampilan ini menjadi momentum emosional, bukan hanya bagi para seniman yang terlibat, tetapi juga bagi penonton setia yang telah lama menanti resonansi khas dari Bumi Makepung.

Sejak nada pertama dipukul, ribuan pasang mata terpaku. Getaran nada rendah yang menghentak, berpadu dengan ritme cepat nan eksplosif, menciptakan atmosfer yang nyaris magis di ruang pertunjukan. Jegog ansambel gamelan bambu berukuran besar yang menjadi identitas Kabupaten Jembrana sekali lagi membuktikan daya pikatnya di panggung internasional.

Baca juga: Seniman Gayo Akan Meriahkan Panggung Kesenian Maestro yang Ke-8 di Jakarta

Pementasan kali ini dipimpin oleh I Gede Oka Artha Negara, pimpinan Sekaa Jegog Suar Agung yang dikenal sebagai konseptor sekaligus kreator komposisi musikal bambu berkarakter kuat. Di tangannya, Jegog tidak hanya tampil sebagai warisan tradisi, tetapi juga sebagai karya seni yang terus bergerak dinamis mengikuti zaman.

Gede Oka bukan nama asing dalam perjalanan panjang Jegog di luar negeri. Ia adalah putra dari almarhum I Ketut Suwentra, maestro legendaris yang dijuluki “Pekak Jegog” dan dikenal luas sebagai tokoh yang berjasa membawa kesenian ini menembus panggung dunia. Jejak sang ayah kini diteruskan dengan semangat yang sama bahkan dengan pendekatan yang lebih segar.

Menariknya, tur kali ini juga menjadi ajang regenerasi. Dua generasi penerus turut ambil bagian, yakni Okky Junior Sadewa dan Ikko Suar Agung Dewi. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan simbol estafet budaya yang dijaga dengan serius. Bagi Ikko, ini adalah pengalaman perdana tampil langsung dalam pertunjukan besar di Jepang.

Ia mengaku ada tantangan tersendiri saat harus tampil di hadapan publik internasional. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi motivasi untuk terus belajar dan memperdalam kecintaannya pada Jegog. Menurutnya, tur ini bukan sekadar rangkaian pertunjukan, tetapi bagian dari komitmen jangka panjang untuk menjaga denyut kehidupan kesenian bambu khas Jembrana agar tetap relevan.

Regenerasi, pembinaan generasi muda, serta perluasan jejaring global menjadi fokus utama. Ikko menegaskan bahwa warisan leluhur tidak boleh berhenti sebagai romantisme masa lalu. Ia harus tumbuh, beradaptasi, dan tetap membanggakan di tengah arus modernisasi. Apalagi, darah seni itu mengalir langsung dari sang kakek yang dikenal sebagai maestro Jegog.

Rombongan Sekaa Jegog Suar Agung sebelumnya dilepas secara resmi oleh Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, sebelum bertolak ke Jepang. Selama 12 hari ke depan, mereka dijadwalkan tampil di sejumlah kota besar lainnya. Tur ini diharapkan menjadi lebih dari sekadar tontonan seni melainkan juga jembatan diplomasi budaya antara Indonesia dan Jepang.

Baca juga: Mengenal Kembali Seni Merangkai Janur: Disbudpar Banyuwangi Hidupkan Dekorasi Mayang Sari Lewat Workshop Digital

Kembalinya dentuman bambu dari Desa Sangkar Agung ke Jepang seakan menegaskan satu hal yakni Jegog bukan hanya pertunjukan musik tradisional. Ia adalah identitas, kebanggaan, sekaligus duta budaya yang menyatukan dua bangsa melalui harmoni nada dan getaran bambu. Setelah sepuluh tahun absen, Jegog Suar Agung kembali membuktikan bahwa suaranya belum pernah benar-benar padam, ia hanya menunggu momen untuk kembali menggema lebih kuat dari sebelumnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemerintah Kabupaten Jembrana

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU