BALI - Perayaan hari jadi ke-11 Yayasan Seni Wahyu Semara Shanti (WSS) tahun ini berlangsung dengan suasana yang berbeda dari biasanya. Jika pada tahun-tahun sebelumnya momentum ulang tahun identik dengan pentas seni atau seremoni meriah, kali ini yayasan yang berlokasi di Desa Tukadmungga memilih merayakannya melalui kegiatan yang lebih membumi dengan aksi sosial yang melibatkan masyarakat sekitar. Langkah tersebut menjadi refleksi bahwa seni tidak hanya hidup di panggung, tetapi juga hadir untuk memberi manfaat nyata bagi lingkungan.
Pendiri sekaligus pengelola yayasan, Kadek Angga Wahyu Pradana, menuturkan bahwa perayaan kali ini mengangkat semangat “Vasudeva Kutumbakam” sebuah gagasan yang menekankan bahwa semua manusia pada dasarnya bersaudara. Menurutnya, nilai tersebut selaras dengan tujuan yayasan dalam memanfaatkan seni sebagai sarana untuk mempererat kebersamaan sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial. Ia menjelaskan bahwa keputusan memilih bakti sosial sebagai inti kegiatan bukan sekadar simbolis, melainkan bentuk komitmen untuk menempatkan seni dalam konteks pengabdian.
Baca juga: Hendra Hidayat Apresiasi Aksi Bakti Sosial dalam Memperingati HUT ke-80 TNI di Jakarta Utara
Angga menambahkan, ukuran keberhasilan sebuah sanggar tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak penghargaan yang diraih di panggung pertunjukan. Lebih dari itu, keberadaan sanggar seharusnya mampu membawa dampak positif bagi masyarakat di sekitarnya. Dengan perspektif tersebut, WSS berupaya menunjukkan bahwa prestasi artistik dapat berjalan seiring dengan kontribusi sosial.
Kegiatan bakti sosial yang digelar pada 13 Februari 2026 menjadi wujud nyata dari gagasan tersebut. Yayasan menyalurkan sekitar 100 paket bantuan berisi kebutuhan pokok kepada warga di sekitar lingkungan sanggar. Bantuan itu diberikan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan, termasuk para lanjut usia, anak-anak yatim piatu yang menjadi peserta didik sanggar, serta warga kurang mampu. Penyaluran dilakukan secara langsung, sehingga interaksi antara anggota yayasan dan masyarakat berlangsung hangat dan penuh rasa kekeluargaan.
Selain menjadi bentuk kepedulian, kegiatan tersebut juga menghadirkan pengalaman emosional bagi para anggota sanggar, khususnya generasi muda yang terlibat. Mereka tidak hanya belajar seni dalam arti teknis, tetapi juga memahami makna berbagi dan empati. Nilai inilah yang dianggap penting oleh pengelola yayasan sebagai bagian dari pendidikan karakter berbasis budaya.
Sejarah perjalanan yayasan sendiri terbilang panjang sebelum akhirnya mencapai usia ke-11 secara formal. Angga mengisahkan bahwa cikal bakal kegiatan seni ini sudah ada sejak 1998, ketika ia mendapatkan dukungan serta arahan dari ayahnya, Ketut Ardana. Dari situ, kegiatan pelestarian seni kerawitan dan tari terus berkembang melalui berbagai proses dan tantangan. Setelah melewati perjalanan panjang, lembaga ini akhirnya memperoleh legalitas resmi pada 2015, yang kemudian menjadi penanda awal perhitungan hari jadi yayasan.
Bagi pengurus, perjalanan tersebut membentuk prinsip kemandirian dan ketahanan mental yang kini menjadi fondasi dalam mengelola kegiatan seni. Mereka memandang bahwa keberlanjutan sebuah lembaga budaya bergantung pada konsistensi menjaga kualitas sekaligus kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat.
Ke depan, WSS berharap dapat berkembang menjadi ruang kebudayaan yang inklusif di wilayah Buleleng. Mereka menginginkan ekosistem seni yang saling mendukung, di mana sanggar-sanggar dapat bekerja sama tanpa merasa tersaingi secara negatif. Semangat kolaboratif dianggap penting agar dunia seni tetap sehat dan terus memberi ruang bagi kreativitas generasi muda.
Baca juga: Kreativitas Pemuda Mimika Disalurkan Lewat Lomba Video Aksi Sosial Bertema Lingkungan
Melalui visi tersebut, yayasan bertekad membina anak-anak muda agar tidak hanya peka terhadap estetika, tetapi juga memiliki kepedulian sosial. Harapannya, mereka tumbuh seperti bunga yang menyebarkan keharuman membawa manfaat bagi siapa pun di sekitarnya. Dengan kombinasi antara pengembangan seni dan aksi kemanusiaan, perayaan hari jadi ke-11 ini menjadi simbol perjalanan sekaligus arah masa depan Yayasan Seni Wahyu Semara Shanti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemkab Buleleng