Senin, 16 FEBRUARI 2026 • 09:35 WIB

Walkot Jaya Negara Hadiri Spirit Kebersamaan Menguat di Puncak Karya Pura Sor Waringin Ulun

Author

Spirit Kebersamaan Menguat di Puncak Karya Pura Sor Waringin Ulun (humasdps)

BALI - Suasana religius bercampur hangatnya kebersamaan terasa kental di kawasan Desa Padangsumbu, Kecamatan Denpasar Barat, Kamis (12/2). Momen itu terjadi saat Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, hadir langsung dalam Puncak Karya di Pura Sor Waringin Ulun. Kehadiran orang nomor satu di Denpasar tersebut bukan sekadar formalitas, tapi jadi sinyal nyata dukungan pemerintah terhadap pelestarian adat, tradisi, sekaligus penguatan nilai spiritual masyarakat setempat.

Acara puncak ini merupakan bagian dari rangkaian panjang upacara yadnya yang digelar dengan penuh kesakralan. Prosesi yang dilaksanakan meliputi Karya Ngenteg Linggih Pedudusan, Wrespati Kalpa Agung, Nyatur Mukti, hingga Caru Walik Sumpah semua berjalan khidmat dengan keterlibatan aktif krama desa. Sejumlah tokoh turut hadir, mulai dari anggota legislatif hingga pejabat daerah, menunjukkan bahwa ritual adat seperti ini tetap menjadi ruang bersama lintas unsur masyarakat.

Baca juga: Upacara Majaya-Jaya Desa Adat Kesiman, Denpasar Teguhkan Pembangunan Berbasis Budaya

Prosesi yadnya dipuput secara Siwa Budha oleh para sulinggih, di antaranya Ida Pedanda Gede Swabawa Karang Adnyana, Ida Pedanda Gede Wayahan Jelantik Dauh, dan Ida Pedanda Gede Sakti. Kehadiran mereka menambah kekhidmatan suasana, menandai jalannya ritual yang sarat makna spiritual dan filosofi keseimbangan hidup.

Dalam kesempatan tersebut, Jaya Negara menyampaikan apresiasinya terhadap solidaritas warga yang terlibat dalam penyelenggaraan karya. Ia menekankan bahwa upacara seperti ini bukan cuma tentang ritual keagamaan, tapi juga menjadi ruang memperkuat rasa kebersamaan, gotong royong, dan identitas budaya. Menurutnya, nilai-nilai itu relevan banget di tengah dunia yang makin cepat berubah karena tradisi bisa jadi jangkar yang menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Sementara itu, Pamucuk Karya I Wayan Nik Selamat menjelaskan bahwa rangkaian upacara sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum puncak acara. Sejak awal Januari 2026, masyarakat telah menjalani prosesi pemelastian ke pantai serta pengambilan tirta, semuanya dilaksanakan mengikuti dresta desa setempat. Setelah puncak karya, upacara masih berlanjut melalui tahapan nyejer selama lima hari, disambung ngeremekin, nganyarin, maprani, hingga nyenuk yang dijadwalkan pertengahan Februari. Penutupannya atau penyineban karya direncanakan berlangsung akhir Maret 2026.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah kota maupun pihak terkait yang sudah mendukung kelancaran seluruh rangkaian kegiatan. Dukungan tersebut dinilai penting karena membantu memastikan tradisi berjalan tanpa hambatan, sekaligus memperkuat sinergi antara masyarakat adat dan pemerintah.

Puncak karya ditutup dengan penyerahan punia sebagai simbol dukungan spiritual dan kebersamaan. Setelah itu, Wali Kota juga menyempatkan diri meninjau pelawatan di area pura, berinteraksi langsung dengan warga serta menyaksikan aktivitas yang masih berlangsung.

Baca juga: Denpasar Sabet Juara 1 Gebogan di HUT WHDI Bali

Kalau dilihat dari perspektif yang lebih santai ala generasi sekarang acara ini bukan cuma soal seremoni sakral, tapi juga bukti bahwa tradisi tetap hidup di tengah modernitas. Ada rasa komunitas, kolaborasi, dan identitas yang terbangun lewat proses panjang persiapan hingga pelaksanaan. Dan di situ terlihat jelas bahwa, budaya bukan sekadar warisan, tapi sesuatu yang terus dirawat bareng-bareng.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemkot Denpasar

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU