BALI - Pemerintah Kabupaten Gianyar semakin serius dalam upaya menekan angka stunting. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah menggelar kegiatan Pendampingan Tim Ahli di 8 Desa yang memiliki angka stunting relatif tinggi. Program ini menjadi tindak lanjut dari Gerakan Pengukuran Serentak yang dilaksanakan pada November 2025 lalu.
Baca juga: Dinkes Tanjab Barat Gencar Lakukan Perbaikan Gizi untuk Tekan Kasus Stunting
Pendampingan tersebut dilaksanakan pada 19–20 Januari 2026 dan difokuskan pada desa-desa dengan prevalensi stunting di atas enam persen. Langkah ini sejalan dengan kebijakan nasional Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting yang menekankan pentingnya intervensi secara terintegrasi, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, Pemkab Gianyar mengombinasikan intervensi spesifik dan sensitif agar penanganan stunting tidak berjalan parsial. Seluruh proses dilakukan berbasis data, sehingga sasaran pendampingan benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan dan kebutuhan masing-masing desa.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar, Ni Nyoman Ariyuni, menjelaskan bahwa pendampingan oleh tim ahli bertujuan memastikan program penanganan stunting di tingkat desa berjalan tepat sasaran. Tim ahli yang dilibatkan berasal dari rumah sakit pemerintah maupun swasta dengan latar belakang profesional yang lengkap.
Baca juga: Arifin Minta Jajaran Pemkot Jakpus Perkuat Komitmen Penurunan Stunting 2026
Tim tersebut terdiri dari dokter spesialis anak, psikolog, nutrisionis, serta unsur pendukung lainnya. Mereka memberikan pendampingan langsung kepada balita yang terindikasi stunting, keluarga berisiko stunting, serta kader dan perangkat desa yang berperan di garis depan pelayanan masyarakat.
Menurut Ariyuni, sasaran utama kegiatan ini adalah balita yang masuk dalam data hasil pengukuran serentak. Pendampingan dilakukan melalui pemantauan tumbuh kembang anak, edukasi gizi seimbang, peningkatan pola asuh, hingga penguatan peran keluarga dan lingkungan sekitar dalam mencegah stunting sejak dini.
Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran keluarga terhadap pentingnya pemenuhan gizi dan pengasuhan yang tepat pada masa emas pertumbuhan anak. Selain itu, keterlibatan masyarakat desa juga dinilai krusial agar upaya pencegahan stunting dapat berjalan lebih efektif.
Baca juga: Peran Orang Terdekat Kunci Tekan Angka Stunting di Jawa Timur
Adapun delapan desa yang menjadi sasaran pendampingan memiliki angka prevalensi stunting yang bervariasi. Desa Kedisan tercatat memiliki 29 balita stunting dengan prevalensi sebesar 9 persen. Desa Taro menyasar 50 balita dengan prevalensi 8,8 persen, sementara Desa Pejeng Kaja terdapat 25 balita dengan prevalensi 7,9 persen.
Selanjutnya, Desa Pupuan memiliki 30 balita terindikasi stunting dengan prevalensi 7,8 persen. Desa Manukaya menyasar 47 balita dengan prevalensi 7,2 persen, dan Desa Puhu tercatat memiliki 20 balita stunting dengan prevalensi yang sama, yakni 7,2 persen.
Sementara itu, Desa Singakerta mencatat 40 balita terindikasi stunting dengan prevalensi 7,1 persen, dan Desa Kelusa menjadi desa dengan prevalensi terendah di antara sasaran pendampingan, yaitu 6,8 persen dengan 16 balita stunting.
Melalui pendampingan intensif ini, Pemerintah Kabupaten Gianyar berharap pelaksanaan intervensi stunting dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan. Target akhirnya adalah menurunkan angka stunting secara signifikan serta mewujudkan generasi Gianyar yang sehat, cerdas, dan berkualitas di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Gianyarkab.go.id