Senin, 22 DESEMBER 2025 • 13:25 WIB

Gubernur Wayan Koster Tepis Isu Bali Sepi Wisatawan: Bohong, Saya Punya Data!

Author

Seorang penjual ikan berdiri di dekat sampah, sebagian besar berupa batang pohon, plastik, dan sampah rumah tangga, selama pembersihan darurat di Pantai Kedonganan, Badung, Bali, Indonesia, 19 Desember 2025. (REUTERS/Johannes P. Christo)

INDOZONE.ID - Adanya isu yang menyebutkan bahwa Bali sepi wisatawan selama periode periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), dibantah langsung, Gubernur Bali Wayan Koster.

Menurutnya, kabar tersebut tidak benar sama sekali karena data yang ada menunjukan jumlah wisatawan yang tinggi.

“Bohong, saya punya data, setiap hari totalnya meningkat,” ucap Koster di Denpasar, Senin (22/12/2025).

Baca juga: Banjir Landa Sejumlah Wilayah Bali, Bandara I Gusti Ngurah Rai Pastikan Tetap Beroperasi Normal

Gubernur Koster menyebut kunjungan wisatawan khususnya wisatawan mancanegara belakangan menembus 20 ribu kunjungan per hari, sementara sebelum periode Nataru kunjungan di angka 17 ribu.

Jika diakumulasikan, kunjungan wisman Januari hingga pertengahan Desember 2025 sudah mencapai 6,7 juta atau naik dari 2024 yang sebanyak 6,3 juta, menandakan pariwisata Bali baik-baik saja.

“Tempo hari kunjungan naik kira-kira 8 persen, sekarang hitung saja per data, hingga hari ini tahun 2024 6,3 juta sekarang 6,7 juta, naik 400 ribu,” ucapnya.

Disinggung soal lenggangnya lalu lintas dan sepinya panggilan kerja para sopir pariwisata, Pemprov Bali menuding cuaca musim hujan mempengaruhi aktifitas wisatawan di luar ruangan.

Baca juga: WNA di Bali Ditemukan Tewas di Gorong-gorong, Diduga karena Nekat Terobos Banjir

“Kan sekarang musim hujan, banjir, mungkin orang datang ke Bali tidak untuk jalan-jalan banyak yang istirahat, jadi ini datanya riil baik dari Angkasa Pura maupun dinas pariwisata,” ujar Gubernur Koster.

Isu sepinya wisatawan mancanegara di periode Nataru juga diprediksi karena rendahnya okupansi dampak dari banyaknya wisatawan menggunakan fasilitas OTA AirBnB yang tidak membayar pajak dan sulit ditelusuri.

Akibatnya, peningkatan jumlah wisatawan tidak sebanding dengan peningkatan hunian hotel restoran.

“Saya cek hotel terendah 60 persen, The Meru Sanur 80 persen, yang berbintang di Nusa Dua itu 80 persen, sebenarnya bisa lebih tinggi dari itu, tapi sekarang karena ada AirBnB banyak rumah kos segala macam difungsikan sebagai penginapan, saya sudah mendapat surat dari Menteri Investasi untuk membuat pergub terkait AirBnB,” kata Koster.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU