Hadapi Perubahan Iklim, BPBD Gianyar Perkuat Desa Lewat Sosialisasi Terpadu (adm gianyar)
BALI - Upaya memperkuat ketahanan desa di tengah tantangan perubahan iklim terus didorong oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gianyar. Salah satunya lewat kegiatan Sosialisasi Konvergensi Adaptasi Perubahan Iklim (API), Pengurangan Risiko Bencana (PRB), dan Sustainable Development Goals (SDGs) yang digelar di Ruang Rapat Kantor Desa Peliatan, Rabu (4/2) pagi.
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi strategis antara pemerintah daerah, perangkat desa, akademisi, dan masyarakat untuk menyamakan persepsi soal pentingnya pembangunan desa yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan, tapi juga berkelanjutan dan tangguh terhadap risiko iklim maupun bencana.
Baca juga: Pohon Tumbang Tutupi Jalan Sumberpasir Pakis, Lalu Lintas Sempat Macet
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Gianyar, I Gusti Ngurah Dibya Presasta, yang hadir sebagai narasumber, menekankan bahwa konvergensi API, PRB, dan SDGs Desa bukan sekadar konsep di atas kertas. Menurutnya, pendekatan ini harus benar-benar diintegrasikan dalam perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan desa agar manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ia menjelaskan, perubahan iklim saat ini sudah nyata dampaknya. Mulai dari kenaikan suhu global, pergeseran pola hujan, hingga meningkatnya kejadian cuaca ekstrem yang berpotensi mengancam keselamatan warga. Kondisi ini, jika tidak diantisipasi sejak dini, bisa memperbesar risiko bencana di tingkat desa.
Di sisi lain, berbagai bencana seperti banjir dan tanah longsor yang belakangan terjadi di wilayah desa turut memberi tekanan pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Situasi ini menegaskan bahwa pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim harus berjalan beriringan dengan upaya pencapaian SDGs Desa, agar pembangunan tidak mudah goyah saat menghadapi krisis.
Lebih lanjut, Ngurah Dibya memaparkan sejumlah strategi utama dalam adaptasi perubahan iklim. Di antaranya adalah diversifikasi mata pencaharian masyarakat untuk mengurangi ketergantungan pada satu sektor ekonomi, pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan, hingga penguatan sistem peringatan dini cuaca dan iklim sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi bencana.
Selain itu, konservasi hutan dan lahan juga menjadi poin penting. Upaya ini tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga berperan dalam meningkatkan penyerapan karbon yang berdampak pada pengendalian perubahan iklim.
“Kegiatan sosialisasi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan. Tujuannya agar adaptasi perubahan iklim, pengurangan risiko bencana, dan pencapaian SDGs Desa bisa benar-benar menjadi arus utama pembangunan desa yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut difasilitasi oleh mahasiswa KKN Poltekkes Kemenkes Denpasar melalui program KKN Interprofesional Education (IPE). Sebagai institusi pendidikan vokasi di bidang kesehatan, Poltekkes Kemenkes Denpasar dituntut berperan aktif dalam transformasi sistem kesehatan, termasuk penguatan layanan primer, ketahanan kesehatan saat bencana, serta pemanfaatan teknologi digital.
Keterlibatan kampus juga diwujudkan melalui dukungan terhadap program Desa Tangguh Bencana (DESTANA), pemanfaatan platform digital untuk edukasi kebencanaan, sosialisasi melalui media, hingga pengelolaan sampah berbasis masyarakat seperti pembuatan biopori. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan desa secara menyeluruh, dari aspek lingkungan, sosial, hingga kesehatan masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Gianyarkab.go.id