Rabu, 22 JULI 2026 • 16:45 WIB

Cuaca Ekstrem di Bali Perparah Risiko Kebakaran Lahan, Warga Diminta Waspada

Author

Tim petugas memadamlan api karhurla di wilayah perbukitan Buleleng, Bali. (Pontianakpost.jawapost.com - BNPB Pastikan Karhutla di Buleleng Bali Berhasil Dipadamkan, Kebakaran Hanguskan Sekitar 48 Hektare Lahan Perbukitan. (Basilius Andreas Gas/pontianakpost)

BALI - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Bali setelah insiden yang terjadi di kawasan perbukitan Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Peristiwa tersebut menghanguskan sekitar 48 hektare lahan yang didominasi vegetasi rerumputan kering dan menjadi salah satu kebakaran lahan terbesar yang terjadi di Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Api berhasil dipadamkan berkat kerja sama tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, pemadam kebakaran, Satpol PP, serta relawan setempat.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa ancaman kebakaran lahan di Bali masih cukup tinggi, terutama saat kondisi cuaca tidak menentu. Meski sebagian wilayah Bali masih berpotensi mengalami hujan, perubahan cuaca yang berlangsung cepat membuat vegetasi kering tetap mudah terbakar. Kondisi ini semakin diperparah oleh angin yang bertiup cukup kencang sehingga api lebih mudah merambat ke area perbukitan maupun lahan terbuka.

Baca juga: Kapan Musim Kemarau 2026? Simak Prediksi BMKG dan Tips Menghadapinya

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga terus mengingatkan masyarakat agar mewaspadai cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di Bali. Fenomena tersebut dapat berupa hujan lebat, angin kencang, petir, hingga perubahan kondisi cuaca secara tiba-tiba. Di sisi lain, ketika cuaca cerah berlangsung cukup lama disertai suhu udara yang tinggi, tingkat kekeringan vegetasi meningkat sehingga risiko kebakaran lahan ikut bertambah. Kombinasi kedua kondisi tersebut menjadikan Bali menghadapi tantangan ganda, yakni ancaman bencana hidrometeorologi sekaligus potensi kebakaran lahan.

BNPB mengungkapkan bahwa sebagian besar kebakaran lahan dipicu oleh aktivitas manusia, seperti pembakaran saat membersihkan lahan yang kemudian tidak terkendali. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sejak dini. Langkah pencegahan dinilai jauh lebih efektif dibandingkan upaya pemadaman ketika api sudah meluas.

Baca juga: BMKG Ungkap Jam Krusial Hindari Sinar Matahari Langsung di Tengah Suhu Panas

Selain merusak ekosistem, kebakaran lahan juga berdampak terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat, hingga sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung perekonomian Bali. Asap yang dihasilkan dapat mengganggu aktivitas warga maupun wisatawan, sementara kerusakan vegetasi membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk pulih. Oleh sebab itu, sinergi antara pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi risiko kebakaran, terutama di tengah perubahan pola cuaca yang semakin sulit diprediksi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: BMKG

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU