Jangan Lupakan Sejarah! Mengenal 4 Tokoh Pahlawan Nasional dari Bali yang Penuh Semangat Patriotisme
BALI - Dari perlawanan terhadap kolonial Belanda hingga masa revolusi kemerdekaan, tokoh-tokoh Bali tampil dengan keberanian khas yakni bertarung tanpa menyerah, bahkan hingga titik darah penghabisan.
Sejarah mencatat, perlawanan rakyat Bali sering kali berbentuk “puputan” atau perang habis-habisan sebagai simbol kehormatan. Nilai ini menjadi identitas perjuangan masyarakat Bali yang diwariskan melalui kisah para pahlawannya.
I Gusti Ketut Jelantik
Nama I Gusti Ketut Jelantik menjadi salah satu simbol awal perlawanan rakyat Bali terhadap kolonialisme Belanda. Ia lahir di Karangasem sekitar tahun 1800 dan menjabat sebagai patih Kerajaan Buleleng.
Perjuangannya dimulai saat Belanda berupaya menghapus sistem “tawan karang” hak tradisional kerajaan Bali untuk mengklaim kapal asing yang terdampar. Kebijakan ini memicu konflik besar antara kerajaan-kerajaan Bali dan pemerintah kolonial.
Jelantik memimpin tiga gelombang perlawanan besar, termasuk Perang Bali I, Perang Jagaraga, dan konflik lanjutan hingga tahun 1849. Dalam setiap pertempuran, ia tidak hanya bertindak sebagai panglima militer, tetapi juga sebagai penggerak moral rakyat untuk melawan dominasi asing.
Akhir hidupnya pun tragis, gugur dalam penyergapan Belanda pada tahun 1849. Namun, semangatnya tidak padam. Kini, namanya diabadikan menjadi nama jalan dan berbagai fasilitas umum di Bali, serta dikenang sebagai pahlawan nasional sejak 1993.
Baca juga: Mengenal Kisah Hari Paskah: Sejarah, Tokoh Alkitab, dan Peristiwa Pentingnya
I Gusti Ngurah Rai
Jika berbicara tentang pahlawan Bali, nama I Gusti Ngurah Rai hampir selalu disebut pertama. Ia lahir di Carangsari pada 30 Januari 1917 dan menjadi tokoh sentral dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Bali.
Sebagai komandan Divisi Sunda Kecil, Ngurah Rai memimpin pasukan melawan Belanda dalam peristiwa heroik Puputan Margarana pada 20 November 1946. Dalam pertempuran tersebut, ia memilih strategi perang total atau bertarung hingga akhir bersama pasukannya meski menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih besar.
Sebanyak puluhan hingga ratusan pejuang gugur dalam peristiwa ini, termasuk Ngurah Rai sendiri. Peristiwa Margarana kemudian dikenang sebagai simbol keberanian dan harga diri bangsa.
Jejak penghormatan terhadap Ngurah Rai sangat kuat hingga kini. Namanya diabadikan sebagai Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, salah satu gerbang utama Indonesia, serta berbagai monumen seperti Taman Pujaan Bangsa Margarana di Kabupaten Tabanan.
I Gusti Ngurah Made Agung
Tokoh berikutnya adalah I Gusti Ngurah Made Agung, Raja Badung yang memimpin perlawanan dalam Perang Puputan Badung tahun 1906. Ia lahir pada 1876 dan dikenal sebagai pemimpin yang tegas dalam menjaga kedaulatan wilayahnya.
Baca juga: Dulu Dijajah, Kini Dihormati: Nama Pahlawan Indonesia Justru Abadi di Jalanan Belanda
Ketika Belanda berusaha menguasai Badung, Made Agung memilih jalan puputan. Bersama rakyat dan pengikutnya, ia maju ke medan perang tanpa mundur, meski sadar kekuatan mereka tidak seimbang.
Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi sekaligus simbol keberanian rakyat Bali. Made Agung gugur di medan perang, namun sikapnya mencerminkan nilai kehormatan yang dijunjung tinggi masyarakat Bali.
Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan utama di Denpasar, serta dikenang melalui berbagai monumen sejarah di Bali.
Untung Surapati
Meski lebih dikenal di Jawa Timur, Untung Surapati memiliki akar kelahiran dari Bali. Ia lahir sekitar tahun 1660 dan menjadi salah satu tokoh penting dalam perlawanan terhadap VOC.
Berbeda dengan tokoh lain yang berasal dari kalangan bangsawan, Surapati memulai hidup sebagai rakyat biasa. Ia kemudian naik menjadi pemimpin dan berulang kali terlibat dalam pertempuran melawan Belanda.
Perannya lebih bersifat militer dan politik, terutama dalam mengganggu kekuasaan VOC di wilayah Jawa. Kisahnya menunjukkan bahwa semangat perjuangan tidak mengenal latar belakang sosial.
Baca juga: Mengenal Tokoh di Uang Rp10.000: Frans Kaisiepo, Pahlawan dari Timur
Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota besar di Indonesia, termasuk Surabaya dan Malang.
Jejak para pahlawan Bali tidak hanya hidup dalam buku sejarah, tetapi juga hadir dalam ruang publik. Banyak nama tokoh tersebut diabadikan menjadi:
- Bandara: I Gusti Ngurah Rai
- Jalan utama di kota-kota Bali: Jalan Ngurah Rai, Jalan Jelantik
- Monumen: Taman Pujaan Bangsa Margarana
- Situs sejarah: kawasan puputan di Badung dan Jagaraga
Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Bali tidak melupakan jasa para pendahulunya. Penghormatan tersebut menjadi bagian dari identitas lokal yang terus diwariskan.
Identitas Perlawanan Bali
Salah satu hal yang membedakan perjuangan Bali dengan daerah lain adalah konsep puputan. Ini bukan sekadar strategi militer, tetapi filosofi hidup tentang mempertahankan kehormatan hingga akhir.
Baca juga: Tugu Pahlawan Surabaya, Tempat Napak Tilas Penuh Makna untuk Gen Z di Hari Pahlawan
Dalam banyak peristiwa baik di Buleleng, Badung, maupun Margarana puputan menjadi pilihan terakhir ketika jalan diplomasi tertutup. Nilai ini mencerminkan karakter masyarakat Bali yang menjunjung tinggi harga diri dan kedaulatan.
Mengenang pahlawan Bali bukan sekadar mengingat nama dan tanggal. Lebih dari itu, ini adalah upaya memahami bagaimana keberanian, pengorbanan, dan nilai kehormatan membentuk perjalanan bangsa.
Dari I Gusti Ketut Jelantik yang memimpin perang kerajaan, I Gusti Ngurah Rai dengan puputan heroiknya, hingga I Gusti Ngurah Made Agung dan Untung Surapati, semuanya menunjukkan bahwa Bali bukan hanya pulau wisata melainkan juga tanah perjuangan.
Baca juga: Mengenal Kiprah Tiga Tokoh Perumus Pancasila dalam Sejarah Perjuangan Indonesia
Di tengah arus modernisasi, kisah-kisah ini menjadi pengingat penting bagi generasi muda bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini dibangun di atas pengorbanan besar.
Dan selama nama-nama mereka masih terpatri di jalan, monumen, dan ingatan kolektif, semangat patriotisme itu tidak akan pernah benar-benar padam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber