Kamis, 12 FEBRUARI 2026 • 09:55 WIB

Jelang Imlek 2026, Vihara di Bali Bersolek: Dari Ritual Suci sampai Lampion Merah

Author

Vihara Dharmayana Temple (Batool Fayaz/30sundays.club)

BALI - Menjelang Tahun Baru Imlek yang bakal jatuh pada 17 Februari 2026, suasana di beberapa vihara dan kelenteng di Bali mulai berubah vibe-nya. Kalau biasanya tempat ibadah terasa tenang dan sederhana, beberapa hari sebelum pergantian tahun justru jadi super sibuk penuh aktivitas, warna merah, dan kerja bareng komunitas umat.

Salah satu titik yang mencerminkan dinamika ini terlihat di Vihara Dharmayana, Kuta, Badung salah satu vihara tertua dan paling dikenal di Bali. Persiapan di sana nggak cuma soal dekorasi biar meriah, tapi juga rangkaian ritual yang punya makna spiritual cukup dalam. Mulai dari penyucian patung suci, bersih-bersih area vihara, sampai menyiapkan atraksi budaya seperti barongsai, semuanya dijalankan bertahap menjelang hari H. 

Penyucian Rupang Jadi Awalan

Beberapa hari sebelum Imlek, umat biasanya memulai rangkaian persiapan lewat ritual pembersihan rupang yaitu patung dewa-dewi atau figur suci yang ada di altar vihara. Di Vihara Dharmayana, prosesi ini dilakukan dengan mencuci puluhan rupang memakai air sumur vihara yang dicampur bunga berwarna-warni. Kegiatan tersebut menjadi simbol pembersihan energi lama sekaligus bentuk kesiapan menyambut tahun baru secara spiritual.

Baca juga: 4 Makna Pantangan Imlek yang Masih Dipercaya Hingga Kini

Tradisi ini sebenarnya bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul tahun ini. Dalam dokumentasi persiapan tahun-tahun sebelumnya, umat juga melakukan hal serupa membersihkan patung, altar, dan ruang ibadah sebagai bagian dari ritual menyambut Imlek.

Biasanya ritual tersebut didahului sembahyang khusus untuk meminta izin kepada leluhur sebelum kegiatan pembersihan dimulai. Hal ini menunjukkan bahwa prosesnya bukan sekadar aktivitas fisik, tapi juga punya nilai penghormatan spiritual yang kuat. Kalau diibaratkan dengan perspektif generasi sekarang, ini semacam “reset mode” bukan cuma bersih-bersih ruang, tapi juga refleksi diri sebelum masuk bab baru dalam hidup.

Gotong Royong Bersih Area Vihara

Setelah patung suci selesai dibersihkan, kegiatan berlanjut ke area vihara secara keseluruhan. Umat bekerja bersama membersihkan halaman, ruang ibadah, hingga mengganti perlengkapan lama seperti lilin persembahan yang sudah habis masa pakainya. Aktivitas ini juga terlihat dalam persiapan sebelumnya ketika pengurus vihara melakukan kerja bakti membersihkan bangunan dan mengganti perlengkapan ibadah agar siap digunakan pada perayaan Imlek.

Tradisi serupa juga berlangsung di vihara lain di Bali. Misalnya di Vihara Dharma Cattra Tabanan, umat menjalankan sembahyang awal sebelum menghias dan membersihkan tempat ibadah sebagai bentuk penghormatan serta kesiapan menyambut tahun baru.

Yang menarik, kegiatan ini sering melibatkan lintas generasi dari orang tua sampai anak muda sehingga bukan cuma ritual keagamaan, tapi juga ruang kebersamaan sosial. Jadi bukan sekadar sapu-sapu, tapi juga bonding komunitas.

Lampion, Lilin Baru, dan Visual Merah yang Ikonik

Kalau tahap spiritual dan bersih-bersih sudah beres, barulah masuk fase yang paling kelihatan: dekorasi. Vihara mulai dihiasi lampion merah, ornamen khas Imlek, dan lilin baru untuk persembahan.

Pemasangan lampion sendiri sudah jadi tradisi tahunan yang dipercaya melambangkan keberuntungan dan harapan baik di tahun baru. Selain itu, lilin persembahan juga diganti sebagai simbol pembaruan, menandakan masuknya energi baru dalam perjalanan tahun mendatang.

Buat pengunjung atau wisatawan, fase ini biasanya paling menarik secara visual karena vihara berubah total jadi penuh warna dan terasa festive banget. Tapi sebenarnya di balik tampilan estetik itu ada doa dan simbolisme spiritual yang kuat.

Persiapan Imlek di vihara Bali juga nggak lepas dari unsur budaya yang bikin suasana makin hidup. Di Vihara Dharmayana, misalnya, persiapan kirab barongsai menjadi bagian dari agenda menyambut perayaan. Atraksi ini identik dengan simbol keberuntungan dan sering jadi highlight perayaan.

Seiring mendekati hari H, jumlah umat yang datang ke vihara juga meningkat drastis. Dalam pengalaman perayaan sebelumnya, kunjungan umat bisa melonjak signifikan karena masyarakat berbondong-bondong datang bersembahyang. Fenomena ini menunjukkan bahwa Imlek bukan hanya perayaan internal komunitas, tapi juga momentum sosial yang melibatkan masyarakat luas.

Baca juga: Tradisi Imlek Unik di Bangka Belitung, Cuci Rumah hingga Pantangan di Hari Pertama Perayaan Imlek

Di Bali, perayaan Imlek punya lapisan tambahan yaitu sebagai daya tarik wisata religi. Banyak vihara dan kelenteng terbuka untuk umum, sehingga pengunjung bisa melihat langsung tradisi yang berlangsung.

Hal ini membuat persiapan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada ritual ibadah, tetapi juga menyambut tamu yang ingin belajar budaya atau sekadar merasakan atmosfer perayaan. Kondisi tersebut mencerminkan karakter Bali sebagai ruang pertemuan budaya, di mana tradisi spiritual dan pariwisata bisa berjalan berdampingan.

Yang bikin Imlek di Bali unik adalah adanya percampuran budaya lokal. Contohnya di Kelenteng Ling Gwan Kiong Singaraja, prosesi sembahyang bahkan diiringi gamelan Bali sebuah bentuk akulturasi yang sudah berlangsung lama.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana tradisi Tionghoa dan budaya Bali bisa hidup berdampingan tanpa saling menghilangkan identitas masing-masing. Di tengah dunia modern yang serba cepat, contoh seperti ini jadi bukti bahwa budaya bisa adaptif tanpa kehilangan akar.

Kalau dilihat secara keseluruhan, persiapan Imlek di vihara Bali sebenarnya mencakup banyak lapisan seperti ritual spiritual, kerja komunitas, dekorasi simbolik, hingga perayaan budaya. Semua berjalan sebagai satu kesatuan proses, bukan aktivitas terpisah.

Bagi sebagian orang, Imlek mungkin identik dengan angpao atau makanan khas. Tapi kalau melihat dari sisi persiapan di vihara, perayaan ini jauh lebih dalam tentang membersihkan masa lalu, mempererat kebersamaan, dan menyambut harapan baru.

Ketika lampion akhirnya menyala dan doa dipanjatkan pada malam pergantian tahun, yang terasa bukan sekadar meriah. Ada makna keberlanjutan tradisi, identitas komunitas, dan spiritualitas yang tetap hidup di tengah perubahan zaman. Dan di Bali tempat berbagai budaya bertemu momen ini menjadi pengingat bahwa perbedaan bukan jarak, tapi justru ruang untuk saling melengkapi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU