Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 05 JUNI 2026 • 10:08 WIB

Sejarah Kampung Arab di Bali, dari Jalur Dagang hingga Sentra Bisnis Denpasar

Sejarah Kampung Arab di Bali, dari Jalur Dagang hingga Sentra Bisnis DenpasarKampung Arab di Bali. (dokar.denpasartourism.com)

BALI - Keberadaan masyarakat keturunan Arab di Bali tidak dapat dipisahkan dari jaringan perdagangan maritim Nusantara. Pedagang Arab, terutama dari Hadramaut (Yaman Selatan), mulai datang ke kepulauan Indonesia sejak abad ke-13 hingga ke-15. 

Mereka berlayar melalui jalur perdagangan Samudra Hindia dan singgah di berbagai pelabuhan penting, termasuk Bali. Selain berdagang kain, rempah-rempah, parfum, dan hasil bumi, sebagian dari mereka menetap dan membangun hubungan sosial dengan masyarakat setempat.

Di Bali, komunitas Arab berkembang pesat di wilayah Denpasar yang sejak dahulu menjadi pusat perdagangan Kerajaan Badung. Kota Denpasar sendiri tumbuh dari pusat pemerintahan Kerajaan Badung yang dipimpin oleh keluarga Pemecutan. 

Kerajaan ini menjadikan Denpasar sebagai pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan sehingga menarik banyak pendatang dari berbagai etnis, termasuk Arab, Bugis, Jawa, dan Tionghoa. Memasuki awal abad ke-20 hingga masa kemerdekaan, jumlah warga keturunan Arab di Denpasar semakin meningkat. 

Sekitar tahun 1945-an, Raja Pemecutan memberikan lahan di kawasan Sanglah dan sekitar Jalan Diponegoro sebagai tempat tinggal bagi komunitas Arab yang terus berkembang. Dari kawasan inilah kemudian muncul permukiman yang dikenal masyarakat sebagai Kampung Arab. Pemberian lahan tersebut menjadi simbol hubungan harmonis antara kerajaan Bali dan masyarakat Arab yang telah lama berkontribusi dalam kegiatan ekonomi lokal.

Selain sebagai pedagang, masyarakat Arab di Bali juga berperan dalam penyebaran pendidikan Islam, kegiatan sosial kemasyarakatan, serta mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Banyak tokoh keturunan Arab yang bergabung dengan gerakan nasional dan membantu logistik maupun perjuangan rakyat melawan penjajah.

Baca juga: Bukan di Jawa, Ini Kisah Asal-Usul Kampung Jawa yang Terkenal di Tengah Kota Denpasar

Kampung Arab Jadi Pusat Perdagangan

Seiring perkembangan Kota Denpasar, aktivitas perdagangan komunitas Arab terkonsentrasi di kawasan Jalan Sulawesi. Hingga kini, jalan tersebut dikenal sebagai salah satu sentra perdagangan tekstil terbesar di Bali. Deretan toko kain, busana muslim, perlengkapan ibadah, dan usaha keluarga keturunan Arab masih menjadi ciri khas kawasan tersebut. Keberadaan mereka turut memperkuat posisi Denpasar sebagai kota multikultural yang dihuni berbagai etnis yang hidup berdampingan secara harmonis.

Kampung Arab Bali tidak hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga menjadi bukti akulturasi budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad. Tradisi Arab yang berpadu dengan budaya Bali menciptakan identitas unik yang masih dapat disaksikan hingga sekarang melalui kehidupan sosial, kuliner, tradisi keagamaan, dan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Untuk artikel yang lebih kuat secara historis, Anda juga bisa menambahkan bahwa selain komunitas Arab, Kerajaan Badung sejak abad ke-19 juga menjalin hubungan dengan komunitas Muslim Bugis dan Jawa yang menetap di wilayah Serangan, Kepaon, dan Denpasar Selatan, menunjukkan bahwa Bali telah lama menjadi ruang pertemuan berbagai etnis dan budaya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube/bli Keliling

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Sejarah Kampung Arab di Bali, dari Jalur Dagang hingga Sentra Bisnis Denpasar

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!