Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 04 MEI 2026 • 16:45 WIB

Mengenal Aksesoris Baju Adat dari Bali: Nama, Makna, dan Filosofi yang Jarang Diketahui

Mengenal Aksesoris Baju Adat dari Bali: Nama, Makna, dan Filosofi yang Jarang DiketahuiIlustrasi Baju Adat Bali (Chat GPT)

BALI -  Aksesoris yang melengkapi pakaian tradisional ini bukan sekadar pemanis visual, melainkan simbol nilai spiritual, status sosial, hingga perlindungan diri dari hal-hal negatif. Dalam setiap upacara adat mulai dari pernikahan, potong gigi, hingga persembahyangan di pura, pernak-pernik ini hadir sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat Bali.

Busana adat Bali secara umum terbagi menjadi tiga tingkatan, yakni Payas Agung, Payas Madya, dan Payas Alit, yang masing-masing digunakan sesuai konteks upacara. Semakin tinggi tingkatannya, semakin lengkap pula aksesoris yang dikenakan.

Aksesoris tersebut tidak hanya menunjukkan estetika, tetapi juga mengandung filosofi hidup masyarakat Bali yang erat dengan ajaran Hindu, seperti keseimbangan, kesucian, dan keharmonisan.

Baca juga: Makna & Fakta Unik Baju Adat Ageman Songkok Singkepan Ageng yang Dikenakan Presiden Jokowi di HUT Ke-78 RI

1. Udeng 

Salah satu aksesoris paling ikonik adalah udeng, yaitu ikat kepala yang dikenakan oleh pria. Udeng memiliki bentuk khas dengan simpul di bagian depan yang tidak simetris.

Lebih dari sekadar penutup kepala, udeng melambangkan konsentrasi dan pengendalian diri. Dalam konteks spiritual, penggunaannya dimaknai sebagai upaya memusatkan pikiran saat beribadah.

Warna udeng juga memiliki arti tersendiri:

  • Putih: kesucian dan digunakan saat ke pura
  • Hitam: kebijaksanaan atau suasana duka
  • Motif batik: kegiatan sosial atau keseharian

Udeng dikenakan dalam berbagai momen, mulai dari sembahyang di pura, upacara keagamaan seperti Galungan, hingga kegiatan adat sehari-hari.

Baca juga: Blooming Ramadan, Gamis Bini Orang, hingga Busana Kuning Mentega Ramaikan Tren Lebaran 2026

2. Gelung dan Hiasan Rambut

Untuk perempuan, hiasan kepala dikenal dengan istilah gelung. Dalam upacara besar seperti pernikahan (Payas Agung), gelung dihiasi bunga emas, bunga sandat, hingga ornamen tradisional seperti kompyong.

Hiasan ini tidak sekadar mempercantik penampilan, tetapi juga menjadi simbol status sosial dan kesiapan memasuki fase kehidupan baru. Semakin kompleks hiasan yang digunakan, biasanya menunjukkan tingkatan upacara yang dijalani.

3. Badong dan Kalung

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Mengenal Aksesoris Baju Adat dari Bali: Nama, Makna, dan Filosofi yang Jarang Diketahui

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!