Menengok Segarnya Air Terjun Banyumala Bali (ahmad muzakky/mongabay.co.id)
BALI - Di balik wajah yang sudah mendunia itu, tersimpan lanskap-lanskap alam yang masih jarang terekspos, tempat-tempat sunyi dengan fenomena geologi dan biologis unik yang kerap diselimuti mitos.
Tren wisata belakangan menunjukkan pergeseran yakni wisatawan mulai mencari “hidden gem”, lokasi tersembunyi yang menawarkan pengalaman autentik sekaligus kedekatan dengan alam. Di Bali, fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan pintu masuk menuju pemahaman lebih dalam tentang ekowisata dan kekayaan ilmiah pulau ini.
Air Terjun dalam Gua: Cahaya yang “Mistis” tapi Ilmiah
Baca juga: Cukup 20 Menit, Ini 4 Manfaat Berada di Alam Terbuka bagi Tubuh!
Salah satu destinasi yang kerap disebut sebagai lokasi “magis” adalah Air Terjun Tukad Cepung. Air terjun ini tersembunyi di dalam celah tebing menyerupai gua sempit, di mana cahaya matahari masuk dari atas dan membentuk berkas sinar dramatis.
Fenomena ini sering dianggap sebagai “cahaya suci” oleh sebagian pengunjung. Namun secara ilmiah, efek tersebut terjadi karena kombinasi celah sempit batuan, sudut datang cahaya, dan partikel air yang menyebarkan sinar (scattering). Ketika sinar matahari bertemu kabut air, terbentuklah efek visual seperti “tirai cahaya” yang tampak mistis.
Secara geologi, struktur gua di Tukad Cepung terbentuk dari erosi batuan selama ribuan tahun akibat aliran air. Celah sempit ini kemudian menciptakan “ruang alami” yang berfungsi seperti lensa cahaya raksasa.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa apa yang sering dianggap supranatural, sejatinya adalah hasil interaksi kompleks antara air, batuan, dan cahaya.
Baca juga: Terlalu "Menyatu" dengan Alam, Sebuah WC dengan View Indah di Sumba Jadi Bahan Perbincangan
Pantai Bertebing dan Gua Alam: Jejak Proses Geologi Laut
Bergeser ke wilayah selatan, terdapat Pantai Tegal Wangi yang dikenal sebagai pantai tersembunyi dengan tebing karang dan gua kecil alami.
Gua-gua ini terbentuk dari proses abrasi, yaitu pengikisan batuan oleh gelombang laut secara terus-menerus. Dalam jangka waktu panjang, tekanan air laut mampu melubangi batu kapur dan menciptakan rongga alami.
Selain itu, terdapat fenomena “tide pools” atau kolam alami yang terbentuk di sela batuan. Kolam ini menjadi habitat mikro bagi berbagai organisme laut seperti alga, moluska, hingga ikan kecil.
Fenomena biologis ini menunjukkan pentingnya kawasan pesisir sebagai ekosistem kompleks. Sayangnya, banyak wisatawan yang belum menyadari bahwa kolam kecil tersebut adalah “rumah” bagi makhluk hidup yang sensitif terhadap gangguan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber