Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 13 JANUARI 2026 • 10:50 WIB

Anggarakasih Tambir di Tengah Zaman: Antara Tradisi dan Kesadaran Batin

Anggarakasih Tambir di Tengah Zaman: Antara Tradisi dan Kesadaran BatinHari suci Anggarakasih Tambir sering hadir hanya sebagai penanda kalender rohani. (13/1). (adm buleleng)

BALI - Hari suci Anggarakasih Tambir kerap lewat begitu saja bagi sebagian umat, bahkan dianggap rutinitas tanpa makna, khususnya di kalangan generasi muda. Padahal, hari suci ini menyimpan pesan spiritual yang dalam yakni, yadnya bukan soal besar kecil persembahan, tapi tentang kesadaran dan ketulusan yang mempersembahkannya.

Baca juga: Dikawal Doa Ulama, Mardiono Dapat Dukungan Spiritual dari Ribuan Jamaah Az-Zawiyah

Penyuluh Agama Hindu Kemenag Buleleng, Luh Irma Susanthi, Selasa (13/1), menyoroti fenomena yadnya yang kini kerap bergeser makna. Di tengah masyarakat, yadnya sering disamakan dengan banten yang banyak dan mahal, hingga memunculkan tekanan sosial, rasa minder, bahkan keengganan untuk ber-yadnya.

Irma menegaskan, dalam Lontar Sundarigama dijelaskan bahwa nilai yadnya tidak diukur dari jumlah persembahan, melainkan kesucian hati dan ketulusan niat. Ketika yadnya dijadikan ajang pembanding status, yang muncul bukan lagi bhakti, melainkan ego.

Ia juga menilai, Anggarakasih Tambir sering dirayakan meriah sebagai puncak pujawali, namun minim refleksi. Upacara selesai, aktivitas kembali normal tanpa perubahan sikap atau kesadaran batin, sehingga yadnya berhenti di level seremoni.

Baca juga: Habis Sembahyang Tapi Hati Masih Ribut? Ini Makna Buda Wage Merakih

Menurut Irma, tantangan terbesar saat ini adalah generasi muda yang mewarisi yadnya sebagai kewajiban, bukan pemahaman. Jika makna tidak dijelaskan, yadnya terasa kering dan membosankan, padahal sejatinya menjadi sarana pembentukan karakter dan penemuan jati diri.

Menanggapi anggapan banten sebagai pemborosan, Irma menilai persoalannya bukan pada bantennya, melainkan cara memaknainya. Yadnya seharusnya dijalankan secara sadar, proporsional, dan membebaskan, bukan menjadi beban. Dengan bhakti yang tulus, generasi muda justru sedang membangun etika, keteguhan batin, dan arah hidup yang selaras dengan dharma. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemkab Buleleng

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Anggarakasih Tambir di Tengah Zaman: Antara Tradisi dan Kesadaran Batin

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!